Saturday, March 17, 2018

La La Land hingga Rhapsodia Nusantara : BRAF 2018


Kesuksesan BRAF (Bunga Rampai Art Festival) 2017 tentu menjadi tantangan tersendiri bagi Amadeus Enterprise dalam mengonsep BRAF 2018. BRAF sebagai sebuah perayaan seni tetap membawa semangat kolaborasi dari berbagai genre dan usia. BRAF bukan hanya membawa nama-nama musisi yang kerap malang melintang di panggung-panggung konser Surabaya, namun juga memberi ruang begitu besar pada bakat-bakat baru.

Berlokasi di Gedung Kesenian Cak Durasim Surabaya 11 Maret 2018 lalu, BRAF kembali hadir menyapa publik Surabaya. Yang berbeda dari BRAF tahun ini, BRAF terlihat ingin menampilkan semakin banyak bakat baru antara lain dari Amadeus School of Orchestra dan Amadeus Dance Work di samping Amadeus Orchestra.

Dalam durasi sekitar 3 jam, BRAF memberikan sebagian besar waktu dan panggung pada peserta-peserta peraih penghargaan dari rangkaian seleksi sebelumnya. Belasan penampil yang didominasi duet atau grup menunjukkan kegembiraan mereka dalam bermusik. Bukan hanya usia dewasa, anak-anak juga banyak mengambil tempat. Beberapa tampilan memang tak sempurna. Beberapa dari mereka, BRAF 2018 adalah panggung besar pertamanya. Namun keberanian dan kepercayaan diri mereka patut dihargai tinggi.

Yang menarik dari puluhan penampil salah satunya adalah kolaborasi antara Amadeus School Orchestra bersama Gloria Children Choir. Membawakan "Kapan Pulang" milik Alexander Tan sekitar 40 anak usia SD muncul sebagai choir yang menggemaskan. Di luar perkiraan, di usia yang dini, kontrol mereka dalam produksi suara begitu baik. Lebih dari itu, mereka bahkan mampu menyatu dengan produksi musik dari Amadeus Orchestra.

Dokumentasi : Instagram Amadeus Enterprise


Salah satu Peraih Gold Medal kategori beginner juga mencuri perhatian. Abiyy Affan pada vokal, ditemani Moch Haruslan Hasibuan pada piano membawakan "Mengejar Mimpi" yang sempat dipopulerkan oleh Patton Idola Cilik. Di sini audiens begitu terhibur dengan polah dan aksi panggung dengan kepercayaan diri yang begitu tinggi dari Abbiy. Dengan mudah, penampilan Abbiy mencuri impresi audiens.

Sisi Indonesia juga banyak ditampilkan. Salah satunya dari vokal grup Mix Voice dengan dua orang remaja perempuan dan satu remaja laki-laki yang menyajikan medley "Anganku Anganmu" dan "Dangerous Woman". Menariknya, aransemen dari dua lagu populer yang mereka bawakan diselipkan nuansa gamelan Bali pada interlude. Ini menarik sebagai sajian twist untuk audiens. Dari segi konsep aksi panggung pun mereka benar siap dengan properti topeng ketika membawakan "Dangerous Woman".

Nuansa grande ditampilkan oleh Aries Pujo pada vokal dan Fransiska Ratri pada piano. Keduanya terlihat begitu matang mempersiapkan penampilan. Sebagai penampil di tahun lalu, mereka sudah jauh lebih siap menghadapi panggung BRAF 2018. Membawakan "Melayang" mereka menghadirkan nuansa megah yang berhasil meninggalkan kesan.

Paruh kedua yang menjadi puncak acara. Berbeda dengan tahun sebelumnya yang didominasi oleh musik-musik bernuansa Indonesia, Amadeus memilih tema populer "La La Land" yang mengadopsi konsep dari film layar lebar dengan judul sama. "La La Land" dianggap sebagai sebuah paduan menarik antara tari dan musik. Ini sejalan yang diinginkan BRAF 2018 agar tak melulu menyuguhkan musik klasik, namun juga pop. Amadeus Orchestra dengan conductor Erwin Prasetya, Shine Harmony Voice, serta Amadeus Dance Work mengantarkan audiens pada paruh pertunjukkan semi teatrikal yang ramai. Menggabungkan berbagai lagu di original soundtrack "La La Land", tampilan pertama itu terasa dinamis karena pemilihan urutan lagu yang menampilkan berbagai mood.

Dokumentasi : Instagram Amadeus Enterprise


Sang bintang tamu, Ananda Sukarlan mengambil ruang panggung kemudian. Ini penampilan pertamanya di Surabaya setelah terakhir kali di 2012. Membawakan komposisi karyanya, Fantasia Indonesia Pusaka, yang merupakan mashed up dari beberapa lagu nasional Indonesia. Ananda terlihat tidak membuang waktu. Sejak denting pertama sudah begitu terasa virtuoso yang kental. 


Dokumentasi : Instagram Amadeus Enterprise


Amadea Pranoto dengan biolanya menemani Ananda Sukarlan di komposisi berikutnya. Membawakan "Sadness Becomes Her", salah satu karya Ananda. Berbeda dengan karya yang dimainkan sebelumnya, komposisi ini terasa lebih sederhana. Amadea lebih banyak berperan mengambil melodi. Sebagai bakat baru. tampilan Amadea matang dan terlihat nyaman didampingi Ananda.


Dokumentasi : Instagram Amadeus Enterprise


Rhapsodia Nusantara no.16 dipilih sebagai sajian berikutnya karena kental dengan melodi-melodi nuansa lagu daerah Jawa Timur. Ananda mengaku, beberapa inspirasi untuk komposisi ini datang dari Jalan Tunjungan yang legendaris di Surabaya. Not yang rapat, terang sesuai dengan nuansa beberapa not ciri khas "Rek Ayo Rek". Ananda mengacak not-not khas dari lagu-lagu daerah sedemikian rupa hingga menjadi sesuatu yang berbeda. Ada kesan klasik, modern, dan dinamis dalam lantunannya.

Sebagai penutup, Ananda Sukarlan, Amadeus Orchestra dengan conductor Nico Alan yang sekaligus menjadi pengaransemen komposisi kali ini, Shine Harmony Voice, serta Amadeus Dance Work membawakan Pesona Indonesia 4 yang merupakan aransemen gabungan dari beberapa lagu daerah Indonesia. Gundul-Gundul Pacul membuka, disusul dengan nuansa grande dari "O Inane Keke". Di bagian tengah dimunculkan nuansa keroncong sebagai kejutan. Juga terdengar "Dondong Opo Salak" di bagian lain. Beberapa bagian mengingatkan pada aransemen lagu daerah milik komponis Indonesia, Addie MS. Aransemen ini mengambil kekuatan pada kejutan tiba-tiba dengan mengubah genre. Pop rock, keroncong, blues, waltz dipadukan dengan not-not ciri khas dari lagu daerah. Tidak menggeber semua penampil untuk terus menerus hadir, dinamika secara bunyi dan visual juga ditunjukkan dengan tampilan yang bergantian. Aransemen untuk lagu daerah "Janger" menutup keseluruhan acara. Shine Harmony Voice dan Amadeus Dance Work kembali hadir mengisi panggung hingga akhir.


Dokumentasi : Instagram Amadeus Enterprise


BRAF hadir dengan nuansa perayaan atas seni yang lebih besar tahun ini. Namun ada kerinduan pada penonton tentang tampilnya alat-alat musik tradisional layaknya Angklung di tahun lalu. Pemilihan tema kolaborasi yang lebih bernuansa Indonesia alih-alih "La La Land", kostum Amadeus Dance Work yang tentu akan lebih memanjakan secara visual dengan pakaian tradisional ketika lagu daerah dan tarian khas Indonesia menyatu. Ekspektasi audiens tentang Ananda Sukarlan sebagai bintang tamu tentunya juga dapat diberikan ruang lebih banyak pada tampilan saat itu. Meski begitu, BRAF tahun ini tetap konsisten keluar dari kekangan genre dengan membawa nuansa pop dalam panggung yang barangkali kerap diekspektasikan dengan musik klasik. Plus bersikap total dengan konsep sebagai sebuah sajian yang utuh, baik secara audio maupun visual. Di atas itu semua BRAF sebagai sebuah perayaan dan semangat berbagi masih konsisten membuka seluas-luasnya kesempatan pada bakat-bakat baru, yang tentu saja merupakan bentuk investasi luar biasa untuk musik Indonesia di masa depan. 




Monday, February 5, 2018

Ekplorasi Bunyi Baru ala duo Siedl-Cao

"It's gonna be really depressing."
Perempuan asal Vietnam bertubuh mungil dan berkacamata, Lan Cao, beberapa saat kemudian membuktikan ucapannya. Satu per satu peserta workshop maju ke panggung, bersama Cao dan Siedl, rekannya asal Vienna, secara bersamaan mereka tertawa keras tanpa henti. Di dalam kegelapan total ruangan itu, ponsel di tangan mereka masing-masing terus berkelip menghadirkan layar yang terus berganti-ganti warna. Setiap habis jeda sekian detik yang ditandai dengan redupnya cahaya dari ponsel mereka, tawa akan kembali menggaung, terus menerus.

***

Mengeksplorasi musik bersama, duo Gregor Siedl dan Lan Cao yang berasal dari Vienna dan Vietnam mengajak publik Surabaya meluaskan cakrawala musiknya dengan menghadirkan berbagai bentuk berbeda dari eksplorasi bunyi. Pertemuan Musik menghadirkan mereka di dua kota, Jakarta dan Surabaya di awal tahun 2018 ini. Bertekad tak hanya menghadirkan musik elektronik, duo composer-performer yang telah tampil di berbagai festival musik di dunia, antara lain Festival Krieg Singen di Berlin, FTARRI di Tokyo, Sappho di Taipei, CHELA di Buenos Aires, dan sebagainya ini juga memadukan unsur teatrikal dan interaksi dengan audiens sebagai keunggulan mereka dalam menghadirkan musik kontemporer.




Duo ini hadir di Wisma Jerman Surabaya tanggal 29-30 Januari 2018 lalu. Siedl dan Cao yang merasa bosan dengan "konsep" musik yang biasa mereka tekuni, ingin membawa musik mereka sendiri yaitu musik eksperimental dengan improvisasi dan partisipasi dari audiens. Siedl dan Cao ingin melibatkan orang lain dalam pertunjukan mereka. Bukan hanya peserta workshop yang mereka tatar, namun juga audiens. Mereka meyakini bahwa semua orang bisa bermusik. Seperti pada komposisi kedua yang mereka tampilkan, seorang audiens diajak naik ke panggung untuk mengunyah kerupuk. Tak sekadar mengunyah, bunyi gemerisik dari mulut kunyahan kerupuk tersebut dipadukan dengan efek audio elektronik tertentu yang telah direkam sebelumnya. Bunyi seperti suara air yang menggelegak dan bunyi frekuensi tinggi seperti cicit anak ayam, suara robotik, dan gemerisik noise itu berpadu dengan suara kerupuk. Sementara itu, kedua penampil melakukan aksi teatrikal dengan berlutut di sisi berlainan seraya mengatupkan tangan seperti berdoa menghadap sang pengunyah kerupuk. Hal itu terus berlangsung hingga bunyi usai diperdengarkan.

Aksi teatrikal selalu hadir di setiap komposisi yang ditampilkan duo Siedl dan Cao. Ekspektasi dan interpretasi penonton dimainkan ketika mereka membuka pertunjukan dengan melakukan aksi diam berpangku tangan di depan laptop masing-masing. Mereka mengisi sunyinya ruang dengan bermain bunyi gaung yang muncul dari perangkat musik elektronik yang terhampar pada meja. Selain frekuensi munculnya bunyi, mereka juga bermain dengan tekstur, timing, dan amplitudo.

Dokumentasi Pertemuan Musik Surabaya


Bukan hanya bermain dengan bunyi dari instrumen yang mereka gunakan, duo Siedl/Cao juga bermain dengan suara dari mulut mereka. Di komposisi ketiga yang mereka bawakan, Cao mengambil posisi di belakang instrumen yang mengubah suara dari mulutnya menjadi sebuah sajian musik elektronik dengan pola berulang yang bermain pada tempo dan efek bunyi. Sementara Siedl berdiri di tengah kegelapan dan membawa lampu putar yang memantulkan berbagai lingkaran warna-warni di penjuru ruangan.

Menyebut komposisi mereka sebagai "Playing in Tune", kali ini duo Siedl melibatkan clarinet, sementara Cao memainkan theremin, sebuah alat musik elektronik yang memanfaatkan kapasitor dan logam untuk menghasilkan bunyi. Clarinet ditiup perlahan dengan satu not panjang, bersama dengan bunyi theremin yang terdengar seperti petikan dari Cao. Hasilnya, bunyi yang terdengar seperti suara gaung dan bunyi laut, sesekali suara bass. Di kesempatan berikutnya, duo ini masih aktif mengeksplorasi berbagai benda. Kali ini mereka menggunakan kamera saku yang terhubung pada perangkat audio. Mereka bermusik dengan mengambil foto selfie diri mereka sendiri atau foto audiens. Setiap kali gambar diambil, saat itu juga terdengar bunyi yang berbeda.

Komposisi terakhir disebut oleh duo ini sebagai "partly installation, partly perfomance". Siedl meniup clarinet dengan perlahan, sementara Cao menghasilkan bunyi selotip yang ditarik dan disobek secara terbata-bata. Seakan ingin membawa pesan bahwa musik bisa dihasilkan dari benda apa saja, instalasi yang dimaksudkan duo ini ditunjukkan dengan robekan selotip yang dipasangkan satu per satu pada stand mic. Di tengah penampilan itu, lampu dimatikan, masing-masing dari mereka mengenakan lampu pada kepala,saat itulah dinamika musik meningkat. Ujung selotip yang ditempelkan sejenis besi menghasilkan suara ketukan, Cao pun menggunakan berbagai alat lain untuk dibenturkan pada besi-besi tersebut, sehingga menghasilkan bunyi yang menyerupai gergaji listrik. Di bagian akhir, mereka menunjukkan aksi teaktrikal dengan diam berlutut menghadap stand mic dengan lampu di kepala yang dikedipkan.

Setengah pertunjukan berikutnya diisi oleh bagaimana duo Siedl dan Cao berkolaborasi dengan pesera workshop yang mereka bimbing di hari sebelumnya. Di sesi ini ekspresi teatrikal lebih banyak hadir. Mereka memanfaatkan instrumen, tubuh, benda-benda di sekitar. Penampil terlihat tampak cair dan kolaboratif. Siedl dan Cao tak tampak sebagai mentor, namun justru membaur bersama penampil lainnya. 

Dokumentasi Pertemuan Musik Surabaya


Duo Siedl/Cao terasa unik dengan kemampuan mereka untuk mengeksplorasi musik dengan memanfaatkan segala jenis benda, dan penekanan pada interaksi dengan audiens. Mereka mengaku memilih jalur musik ini karena merasa mampu mengeksplorasi dunianya sendiri ketika melakukan musik eksperimental dibanding jenis musik yang sebelumnya mereka mainkan. Pun mereka memasrahkan makna sepenuhnya pada interpretasi pendengar. Siedl dan Cao pun mengaku tak memiliki aturan dan keharusan dalam mencipta bunyi. Inspirasi bisa diawali dengan apa saja, baik instrumen maupun ide suara yang ingin diciptakan. Duo ini pun dalam memaknai apa yang mereka pilih dan lakukan. Enggan sekadar berorientasi pada hasil, mereka lebih memilih menikmati proses berkembang dengan terus mencari dan mencoba hal baru, dibanding sekadar berpuas diri setelah selesai memainkan sebuah komposisi.





Thursday, November 9, 2017

Jalan Panjang dalam Ragam : Jejak Langkah 60 Tahun Pertemuan Musik

Perjalanan panjang komunitas yang menjadi salah satu jejak sejarah musik di Indonesia, Pertemuan Musik (PM), mencapai enam puluh tahun. Melalui pasang-surut dan berbagai tantangan, organisasi ini bertahan dengan spirit yang masih serupa sejak didirikan 1957 lalu.


 "Kudjadikan Rakjatku Tjinta Musik"

dokumentasi : butawarna design


Gedung Balai Pemuda Surabaya menjadi saksi perjalanan usia Pertemuan Musik Surabaya (yang kemudian bertransformasi menjadi Pertemuan Musik). Di perayaan 60 tahunnya, Senin, 30 Oktober 2017 lalu, PM memutuskan untuk mengadakan perayaan di lokasi sama dengan acara pertama yang diselenggarakan 60 tahun lalu oleh para pendirinya. Mencapai usia panjang, Pertemuan Musik yang didirikan oleh Slamet Abdul Sjukur, T. Lan Ing, dan Roeba'i Katjasungkana telah mencapai banyak hal, dan telah melewati berbagai badai ujian. Sayangnya, semua pendiri tak sempat turut dalam perayaan 60 tahun ini karena telah berpulang. Generasi muda yang membawa tongkat estafet dari PM melanjutkan kibar bendera cinta musik tersebut.


Press Conference 60 Tahun Pertemuan Musik

Enam puluh tahun menebar virus cinta musik, Pertemuan Musik juga berniat mengabadikan jejak perjalanan tersebut, sejak awal berdirinya di September 1957 hingga 2016. Di kesempatan perayaan 60 tahun lalu, dummy dari buku "Kudjadikan Rakjatku Tjinta Musik" disosialisasikan pada awak media. Buku tersebut disusun oleh Nabila Budayana, Pramita Dikariani Rosalina, dan Gema Swaratyagita. Pengerjaannya akan terus dipungkaskan dan disempurnakan di tahun 2018. Dipandu Ulin Rostiti, selain buku, Fransiska Ratri mengungkap sekilas sejarah PM, Joko Gombloh berbagi tentang penampilannya malam itu bersama Sono Seni Ensemble, dan Diecky K. Indrapraja yang memaparkan program rangkaian acara Jejak Langkah 60 Tahun Pertemuan Musik. 



Bincang Musik
Rangkaian acara yang bertajuk "Jejak Langkah 60 tahun Pertemuan Musik" ini mencoba membawa ciri khas dari PM yang kerap menjadikan musik bukan hanya sebagai sebuah pertunjukan yang dinikmati, namun juga sebagai bahan diskusi mendalam. Diawali dengan Bincang Musik "Menyambung Mata Rantai Musik Melalui Komunitas", PM menghadirkan ruang diskusi yang diisi oleh Setiawati Winarto (Anggota Pertemuan Musik, pimpinan Sekolah Musik Melodia), Joko S. Gombloh (penulis, pengajar, pemusik), Joko Porong (pemusik), Gema Swaratyagita yang digantikan oleh Nabila Budayana (penulis buku 60 tahun Pertemuan Musik), dan dimoderatori oleh Diecky K. Indrapraja (komponis, pendidik, peneliti musik).

Dalam pembahasannya, Diecky sempat menyinggung tentang bagaimana jejak langkah PM di awal berdirinya pada Setiawati sebagai putri dari Sorento, pendiri Sekolah Musik Melodia yang sejarah lahirnya terinspirasi oleh Pertemuan Musik Surabaya di masa 1980-an. Beralih pada Nabila, Dicky juga melempar pertanyaan tentang kesan eksklusif sebuah komunitas musik yang sempat melekat pada PM. Menurut Nabila, banyak pihak yang mengakui label tersebut, bahkan Slamet Abdul Sjukur sendiri. Di masa awal berdirinya di tahun 1957, Pertemuan Musik banyak mengangkat musik klasik barat sebagai tema acara. Di masa ketika rakyat lebih akrab dengan musik Karawitan, sangat wajar jika PM terkesan sebagai sebuah kelompok yang eksklusif. Namun dalam perkembangannya ketika PM mulai dikelola oleh Gema Swaratyagita dan kawan-kawan mudanya, PM mulai membuka diri pada segala jenis musik, misalnya dengan mendatangkan pemusik-pemusik muda beraliran folk song atau musik klasik India.

Dokumentasi : Adrea Kristatiani


Joko Gombloh dan Joko Porong sempat memberikan pendapat yang menarik tentang eksistensi sebuah komunitas musik. Bagi Joko Porong, komunitas musik dewasa ini banyak yang tak tampak, bahkan cepat muncul dan cepat hilang. Porong menggarisbawahi tentang pentingnya sinergi antar komunitas musik dan sistem publikasi yang perlu diperbaiki. Sedangkan Joko Gombloh memberikan komentar terkait ciri sebuah komunitas musik yang sehat. Menurutnya, komunitas harus berbasis sosial dan ideologis. Basis sosial berarti berkembang secara cair, tidak formal, serta anggota yang dapat saling beriringan (hirarki keanggotaan hanya sebagai sarana formalitas untuk membagi tugas). Sedangkan basis ideologis harus tertancap kuat karena berfungsi untuk menjaga kontinuitas, konsistensi, dan spirit dari sebuah komunitas. Joko Gombloh mencontohkan komunitas tempatnya bergiat, Bukan Musik Biasa (BMB). Basis sosial BMB ditempa dengan sangat kuat selama bertahun-tahun dengan merangkul segala kalangan, dan menghargai kebhinekaan musik apa pun. Ia juga tak segan memberi pandangannya tentang Pertemuan Musik. Konsep PM yang dilegalkan secara hukum sejak awal berdirinya cukup membuat Gombloh terkejut. Baginya, legalisasi dikhawatirkan akan memudarkan basis ideologis dan basis sosial, karena legalisasi akan menciptakan sebuah kepentingan baru yang mampu mengikis dua unsur basis komunitas itu. Namun pada akhirnya, sebuah komunitas dilegalkan atau tidak bukan menjadi masalah asalkan tetap disokong oleh dua basis tersebut. Ia pun mengingat bagaimana karakter Slamet Abdul Sjukur (SAS) sebagai pendiri PM. SAS dikenal sangat idealis dan kritis menyikapi sesuatu, bahkan untuk sebuah ideologi organisasi. Termasuk sikap kritis SAS ketika berada dalam sebuah komunitas dengan basis ideologis yang terkikis, SAS akan bertindak dengan meninggalkannya. Sehingga, Joko Gombloh meyakini bahwa SAS memiliki pertimbangan dan arah tersendiri dengan basis ideologis kuat pada Pertemuan Musik.

Menariknya, sesi ini dihadiri oleh beberapa komunitas musik lain yang bergerak di Surabaya dan sekitarnya. Rentang diskusi pun semakin meluas. Salah satu komunitas misalnya, menanyakan apa hubungan antara radio dengan musik, mengingat saat ini banyak musisi yang kehilangan koneksi dengan radio sebagai penyiar musik-musik mereka. Bagi Joko Gombloh, radio dan musik tentu punya ikatan yang sangat kuat, karena yang paling esensial dari musik adalah bunyi. Menjawab pertanyaan tersebut, Gombloh menilai bahwa radio sangat rentan pada karakter mediumnya. Segmen pasar sangat menentukan, yang kemudian akan berdampak pada kapital. Ini merujuk pada kemonotonan jenis musik yang disiarkan radio. Siaran radio tidak akan didengar, jika tidak ditujukan pada segmen pasar yang sesuai. Namun lepas dari hal tersebut, perlu juga menabrak pakem-pakem yang pernah ada. Sebuah stasiun radio bahkan pernah berhasil mendapatkan segmen pendengar tersendiri karena menyiarkan lagu-lagu yang tak diputar di radio lain. 

Menutup akhir perbincangan, sebagai salah satu tokoh dalam Pertemuan Musik saat ini, Setiawati mengutarakan tentang bagaimana dirinya mendapatkan wawasan-wawasan baru tentang berbagai jenis musik, dan harapannya tentang keberlanjutan perjalanan PM dalam memasyarakatkan musik. Hal itu sejalan dengan yang diutarakan Joko Gombloh, bahwa yang terpenting dari bermusik adalah kejujuran, tanpa batasan, sehingga menghasilkan khasanah musik yang lebih luas. Dalam sebuah komunitas juga diperlukan sebuah iklim yang sinergis dengan komunitas lain. Di kesempatan itu, Nabila mengajak pada komunitas-komunitas musik yang hadir untuk saling mendukung satu sama lain. Di atas penilaian baik-buruknya sebuah komunitas, yang terpenting di zaman ini adalah kerjasama. Komunitas musik diharapkan bisa terus membuka diri dan cair, ungkap Joko Porong. 

Melewati usia yang tak sebentar, membuat PM ingin merefleksikan jejaknya pada spirit dan gerakan cinta musik yang masih terus diusung. Dalam perjalanannya, begitu banyak rekan-rekan yang mengiringi dan mendukung semangat Pertemuan Musik tersebut. Setiawati Winarto memimpin kegiatan potong tumpeng dan diberikan pada sahabat-sahabat PM seperti sonologis asal Belanda, Piet Hein, Joko Porong, Joko Gombloh, Diecky K Indrapraja, Andrew (Butawarna Design), juga Pramita Rosa dan Nabila Budaya sebagai penyusun buku 60 tahun PM. 


Konser Musik 
"Pertemuan Musik bagai sebuah pohon besar yang terus menaungi dan memberi manfaat.", Ulin Rostiti memberikan kalimat pembuka dan memandu acara malam itu. Mewakili Gema Swaratyagita, Samuel Respati memberikan sambutan selamat datang pada audiens. Sebagai wakil direktur Pertemuan Musik, Samuel mengenang tentang bagaimana perkenalannya dengan Slamet Abdul Sjukur dan Gema Swaratyagita yang kemudian berujung pada bergabungnya Samuel di Pertemuan Musik. SAS dengan karakternya yang unik menjadi kenangan tersendiri bagi Samuel. Sosok SAS yang begitu lekat dengan PM juga disinggung oleh Piet Hein, yang turut memberikan sambutan sebagai sahabat dekat SAS. Ia menilai betapa spirit SAS masih hidup dalam tubuh PM hingga saat ini. Perhelatan musik malam itu menghadirkan I Wayan Dhamma (Surabaya), SOOS Violin Quartet (Surabaya), dan Sono Seni Ensemble (Solo). Pilihan tampilan ini menarik, karena masing-masing menyajikan jenis musik yang berbeda. PM ingin menunjukkan keterbukaannya pada berbagai ragam genre musik. Pertunjukan musik dibuka dengan menyuguhkan penampilan dari String Orchestra of Surabaya Violin Quartet di bawah pimpinan Shienny Kurniawati. Audiens disambut dengan nuansa barok yang kental dari movement pertama Grave, di Concero for 4 Violins no.3 in A Major milik Telemann. Dinamika gesekan violin Shienny bersama Michael Adi Tjandra, Angelia Soegito, dan Celine Liviani Tandiono terus diajak naik hingga movement akhir, Spirituoso. Komposisi itu kemudian mengantar audiens pada nuansa yang berbeda di komposisi kedua, The Return for 4 Violin Quartet.



SOOS Violin Quartet
Dokumentasi : Adrea Kristatiani


I Wayan Dhamma, seorang pemain flute asal Surabaya ini tak sendiri. Ia membawa enam orang lainnya, Tri Retno, Ayoga Indhon, Adhyla Mahardika, Dirgo Roslukita, Radhitya Mukti, dan Achmad Nabila untuk menyajikan komposisi kontemporer ciptaannya. Polah, yang membawa nuansa bermain dengan musik. Perkusi, trombone, tenor saxophone, flute, demung, dan vocal menjadi ajang ekspresi Dhamma dalam menyajikan musik yang lincah dan penuh kejutan. Dhamma bermain banyak dengan dinamika yang ekstrim. Bukan hanya memadukan nuansa tradisional dengan rythm yang rapi, Dhamma juga memadukan nuansa RnB, Rap, bahkan tambahan elemen Beat Box. Terkesan jenaka dan teatrikal, Dhamma menyajikan sebuah sajian pertunjukan yang dinamis dan eksploratif. 

Dokumentasi : Adrea Kristatiani


Delapan personel Sono Seni Ensemble (SSE) mendapat giliran untuk meramaikan puncak acara. Telah mengisi berbagai ajang musik internasional, momen kehadiran SSE bertepatan dengan album baru mereka yang baru saja rilis, Kroncong Wrong. Gondrong Gunarto, Joko S. Gombloh, Zoel Mistortoyfi, Adham Lanu Buana, Dwi Harjanto, John Jacobs, Ginevra House, dan Yeni Arama membawakan lima komposisi yang menghadirkan suasana berbeda pada audiens. Violin, ukulele, gitar akustik, bass, trompet, dan vocal sinden mewujudkan keroncong fusion, dengan gabungan Jazz bahkan Bossanova. Ragam padu yang sebagian besar bagi audiens hal baru sangat menghibur. Terdengar rumit namun harmonis. Masing-masing pemain mengerti benar porsinya, merasa nyaman dengan komposisi mereka bawakan, dan dewasa bermain, sehingga membentuk sebuah keutuhan yang menyenangkan. SSE memberikan ruang baru pada audiens dalam menikmati musik. Komposisi-komposisi yang dibawakan pun hasil karya dari masing-masing personel dengan unsur dominan yang berbeda dari masing-masing komposisi. Komposisi terakhir karya John Jacobs, misalnya. Menarik dengan menggabungkan keroncong bahkan dengan Ave Maria.


Dokumentasi : Samuel Respati


Bincang Konser 
Jalinan persahabatan yang kuat antara Slamet Abdul Sjukur dan I Wayan Sadra semasa hidup, menjadikan Sono Seni Ensemble, sebuah grup musik bentukan I Wayan Sadra, gembira dapat menjadi salah satu penampil di peryaan 60 tahun Pertemuan Musik. Setelah tampil sebagai puncak acara di perayaan 60 tahun PM, Joko S. Gombloh, Gondrong Gunarto, John Jacobs, dan Zoel Mistortoyfi hadir kembali ke hadapan audiens dipandu oleh Diecky K. Indrapraja.

John Jacobs, pria asal Inggris, penggagas SSE, dan pemain trompet ini memberikan kilas balik perjalanan grup tersebut. SSE sebagai sebuah grup juga mengalami pasang-surut. Pasca berpulangnya I Wayan Sadra, SSE sempat berhenti aktif selama lima tahun, hingga kedatangan John dari York, Inggris dengan mengayuh sepeda selama 22 bulan membawa energi SSE kembali hingga saat ini. Di tahun 1998, John berdialog dengan Wayan Sadra. Perbincngannya kali itu membahas tentang Jazz dan Bossanova. Ketika muncul ide untuk memadukan keroncong dengan dua genre tersebut, John bahkan sempat khawatir dengan hasilnya. Namun, justru hal tersebut dibuktikan hingga saat ini dengan terus berkembangnya musik Sono Seni Ensemble dibarengi berbagai eksplorasi. Bahkan bagi John, SSE banyak memainkan detail-detail dari keroncong yang tak dapat ia temukan pada kelompok musik keroncong sendiri.

dokumentasi : Adrea Kristatiani


Gondrong Gunarto berpendapat bahwa musik SSE merupakan pensenyawaan berbagai emosi. Contohnya, SSE bahkan mengemas lagu yang sedih dengan tampilan harmoni yang jenaka. SSE pun mengaku banyak terinspirasi dari gending Jawa. Bukan hanya Jawa, Zoel Mistortoyfi juga menciptakan salah satu komposisi yang terinspirasi oleh gending Madura. Bagi Joko Gombloh, SSE ingin membumikan musik mereka. Menampilkan Keroncong yang berbeda, namun tetap bisa dinikmati oleh masyarakat Indonesia di berbagai daerah. Menanggapi tentang apakah musik SSE mendapat anggapan sebagai musik yang susah dinikmati, Joko Gombloh angkat bicara. Baginya, salah satu kendala ada pada media konvensional yang belum berpihak pada musik keroncong yang mereka bawakan. Padahal, media efektif untuk membangun apresiasi pada masyarakat.

Perbicangan semakin menarik, dengan ditutup oleh tanggapan dari Musafir Isfanhari, pegiat Keroncong dan musisi senior di Surabaya yang hadir malam itu sebagai audiens. Terbiasa mendengar keroncong "konvensional', Isfanhari menilai bahwa dirinya menikmati musik yang dibawakan SSE, dengan memberi perumpamaan "Seperti makan gudeg dan pizza secara bersamaan (sebagai perumpamaan musik lokal dan barat yang dipadukan)." bagi Isfanhari, setiap kali akan menikmati musik, konsep-konsep musik di dada harus ditepikan, agar dirinya lebih terbuka dan menikmati  ragam bunyi baru.



Pengisi acara dan personel PM.
Dokumentasi : Adrea Kristatiani



Enam puluh tahun masih terlalu singkat untuk mampu mewujudkan sebuah cita-cita besar menjadikan masyarakat mencintai musik secara mendalam. Namun enam puluh tahun juga menjelma waktu yang panjang sebagai jejak perjuangan ideologi tentang bagaimana penyikapan manusia terhadap bunyi, terhadap budaya, dan terhadap kemanusiaan. Selamat ulang tahun, Pertemuan Musik!


Wednesday, September 20, 2017

Pour L'amour de La Musique : Sajian Piano, Cello, dan Flute

Empat pemuda-pemudi menggemakan musik di aula Wisma Musik Melodia Surabaya 29 Agustus 2017 lalu. Melalui konser bertajuk Pour L'amour de La Musique, Felix Justin (piano), Jonathan Inkiriwang (piano), Jessica Jordanius (cello), dan Satryo Budi Gunawan (flute) hadir menyajikan musik mereka.

Konser dibuka dengan melodi yang menyenangkan dari Haydn Trio in D Major dibawakan oleh Jonathan, Satryo, dan Jessica. Terdiri dari tiga movement, Allegro, Andantino Piuttosto Allegretto, dan Vivace Assai, ketiga musisi cukup kompak melewati tantangan lagu. Running yang repetitif tak membuat kedodoran pada piano. Namun flute terdengar agak longgar di awal. Audiens dibawa ke tempo yang lebih lambat dan tenang kemudian. Di bagian akhir, stamina dan konsistensi pemain diuji dengan not yang semakin rapat dan cepat. Satryo terlihat memimpin dengan tetap sabar mengurai frase. Secara keseluruhan, Jonathan terasa agak tegang dalam menyampaikan pesan lagu, namun Jessica dan Satryo mampu mengimbangi dengan dewasa. 

Audiens dibawa ke Ballade milik Ch. Lefebvre. Alunan yang tenang ini dibuka dengan banyak bagian solo dari flute. Komposisi yang tak terlalu panjang ini menarik pada bagian solo cello. Jessica mengisi ruangnya dengan sangat baik. Meski pada bagian akhir flute terdengar agak longgar, namun trio ini cukup berhasil menghadirkan nuansa ballad pada audiens.

Sebelum Felix Justin hadir, Satryo beramah-tamah dengan audiens dengan bagaimana lokasi di mana mereka bermain memiliki kenangan tersendiri, bagaimana sekolah musik itu banyak berarti bagi karier bermusik mereka saat ini. Beberapa dari penampil malam itu memulai perjalanan dunia musiknya dengan belajar pada pengajar senior di Melodia. 

Foto : Dokumentasi Satryo Budi Gunawan

Felix Justin tampil dengan Prelude op.23 no.4 milik Rachmaninoff. Dengan berbagai pujian pada Felix tentang prestasi bermusiknya, tentu ekspektasi audiens dijunjung tinggi. Felix bermain dengan rapi dan tenang sejak not pertama. Dinamika yang terasa dan transisi yang halus menunjukkan kontrol yang prima. Felix berhasil menggambarkan cantiknya struktur komposisi ini dengan harmoni dan melodi yang disampaikan baik. Penjiwaan yang mumpuni juga berhasil membuat komposisi ini terasa menyentuh dengan emosi yang tepat. 

Berlanjut Scherzo op.39 no.3 milik Chopin, Felix menghadirkan mood yang berbeda jauh dengan komposisi sebelumnya. Ketenangan Rachmaninoff langsung digantikan dengan melodi yang gelap namun grande dari Chopin. Komposisi ini menggambarkan kondisi emosi gelap ketika Chopin menyusunnya di dalam penjara. Terdengar rumit dan dinamika yang kerap cepat berubah, transisi terasa sangat mulus di tangan Felix. Tekstur yang rapi, forte yang menggetarkan, dan nuansa grande yang tersampaikan membuat rumitnya Chopin terasa menjadi pesan yang mudah dicerna dan dirasakan. Amarah dan kepedihan juga sampai pada audiens. Felix tampil dengan luar biasa baik. 

Ditutup dengan Adagio Variation et Rondo milik Johann Nepomuk Hummel, Felix, Satryo, dan Jessica mengantarkan audiens pada sebuah ketenangan. Setelah disuguhkan tampilan solo yang cantik dari Felix, di komposisi ini Felix tampak "mundur" dengan memposisikan dirinya sama rata pada trio. Kekompakan antar penampil tampak cukup baik, dan perpindahan mood tersajikan dengan mulus. Hanya saja flute terasa longgar di beberapa bagian.   

Secara keseluruhan, tampilan ini menghibur dengan pemilihan daftar komposisi yang dimainkan, beserta penyajian yang menarik dari para penampil.   

Thursday, September 14, 2017

Lantun dan Denting : Resital Klarinet dan Piano

Kembali mengenali dan tampil di tanah sendiri menjadi tantangan bagi pianis muda, Danang Dirhamsyah. Mahasiswa musik di Jerman yang sedang menyelesaikan pendidikan master-nya ini kembali tampil di negeri sendiri setelah lima tahun. Membawa rekannya asal Lithuania, Ugne Varanauskaite (Klarinet), bersama Pertemuan Musik mereka menyapa publik Surabaya melalui Resital Klarinet dan Piano di 28 Agustus 2017 lalu. Selain mengadakan pertunjukan, mereka juga memberikan masterclass untuk piano dan klarinet di kampus UNESA tanggal 29 Agustus 2017.

Tampil dengan kostum senada, Dagna dan Ugne membuka pertunjukan dengan Camille Saint-Saens -Sonata Clarinet op. 167. Menghadirkan empat movement, Danang dan Ugne berkolaborasi. Pada Allegretto, movement pertama, dihadirkan nuansa legato yang tenang. Masih ada keseruan dinamika yang bisa dikerjakan dengan lebih baik oleh Danang dan Ugne. Di movement kedua, Allegro animato komposisi mulai menuntut dengan kerapatan not yang rancak. Kemampuan Ugne diuji dalam hal kerapian frase. Lento di movement ketiga membawa audiens dalam nuansa kelam dan minor. Di Molto Allegro, dinamika pun dinaikkan di bagian menjelang akhir dengan banyak running notes yang menuntut kekompakan antar pemain. Repertoar ini ditutup dengan kembali ke ketenangan serupa di awal. Danang dan Ugne bisa memberikan chemistry dan pesan yang lebih baik di awal pertunjukan, agar komposisi ini tersampaikan secara dramatis.

Audiens diajak mundur seratus tahun dari komposisi sebelumnya di kesempatan kedua. Danang menghadirkan Piano Sonata A flat major op. 110 milik Beethoven. Komposisi ini merupakan rangkaian tiga sonata piano karya Beethoven yang terinspirasi kisah tragedi Yunani kuno. Menurut Danang yang memberikan pengantar sebelum komposisi ini dimainkan, karya ini memiliki keunikan dengan penitikberatan komposisi di bagian akhir. Dibuka dengan ketenangan dengan kerapatan not, thrill yang dihasilkan Danang rapi. Dinamika yang dibawakannya pun cukup tersampaikan. Komposisi panjang ini memberikan beban pada pemain untuk melawan kemonotonan. Danang melewatinya dengan cukup baik.

Foto : Dokumentasi Pertemuan Musik


Setelah jeda, Ugne mengambil alih panggung dengan memainkan Three Pieces untuk Klarinet tunggal milik Stravinsky. Karya ini menunjukkan posibilitas bunyi yang dapat dihasilkan dari klarinet, dengan menunjukkan nuansa hangat maupun dingin dari lantunan sebuah klarinet. Movement pertama dibuka dengan kelembutan yang bercerita. Tak panjang, movement kedua sangat berbeda. Not yang rapat sering hadir dengan lincah, menceritakan tentang kucing dan burung yang bermain bersama. Di bagian akhir, Ugne mengganti klarinetnya untuk mencapai not-not tinggi. Bagian akhir yang bertempo cepat dan terkesan rumit ini menjadi klimaks dari komposisi. Ugne ditantang untuk menjaga konsistensi staminanya agar karya ini terdengar lebih rapi.  

Tetap membawa semangat Indonesia di antara karyanya, Danang dan Ugne juga menyajikan Derau Hening karya Gema Swaratyagita. Karya kontemporer ini diciptakan Gema karena terinspirasi oleh sebuah kota kecil di Jerman, Lubeck. Karya yang diciptakan khusus untuk duet piano dan klarinet, Danang dan Ugne ini mencoba menggambarkan keheningan dengan riuh perkotaan yang menyelip. Pada komposisi ini, Danang dan Ugne seakan membawa mood penonton kembali. Banyak yang berbeda dari karya ini. Dinamika yang naik turun dengan nuansa kelam yang ganjil, klarinet yang dimainkan tanpa melodi, sehingga seakan menggambarkan desau angin yang berembus. Ugne juga kerap memukul pelan tubuh klarinet sebagai bentuk suara baru. Komposisi ini menghadirkan kisah melalui bunyi yang ditampilkan. Meski terinspirasi dari kota di Eropa, namun terasa ada nuansa Indonesia dari pemilihan melodi serupa pelog yang dibawakan Danang. Sepi yang melelahkan bukan hanya tergambar dari bunyi yang dihasilkan alat musik, namun juga hela napas dari para pemain yang menutup komposisi ini.

Pada Ballade op.10 milik Brahms, Danang tampil dengan lebih lepas pada komposisi ini. Karya ini terinspirasi oleh sebuah puisi Jerman yang membawa kisah sebuah perbincangan antara ibu dan anaknya. Sang ibu menanyakan mengapa pisau milik sang anak berlumuran cairan merah. Konflik memuncak ketika sang ibu tahu bahwa itu bukanlah darah hasil buruan, namun darah dari sang ayah sendiri. Karakter masing-masing fase adegan dipindahkan Brahms pada tiga buah tema di No.1 D Minor. Tentang sang ibu, anak, dan nuansa dramatis dari dialog mereka. Sedangkan pada No.2 D Mayor ditampilkan dengan lebih tenang. Hentakan pertama seakan sudah berkisah tentang ketegasan. Perlahan dinamika dibawa naik, dengan nuansa gelap yang menegangkan. Danang membawa audiens pada sebuah bisikan dan rahasia. Frase-frase Danang terdengar rapi, sehingga nuansa dan pesan tersampaikan.

Dance prelude untuk klarinet dan piano Lutoslawski. Komposisi yang menjadi karya berbau musik tradisional Polandia terakhir dari sang komposer ini menarik. Begitu dimulai, audiens langsung disambut dengan pilihan-pilihan melodi khas Polandia yang bertempo cepat. Tak lama, movement kedua menyajikan nuansa kontemporer yang kelam dan misterius. Beralih ke movement ketiga Allegro giocoso, audiens dibawa pada tempo yang cepat. Kekompakan dan kemampuan teknis personal dari masing-masing instrumen sangat dibutuhkan. Andante menjadi movement berikutnya. Seakan mengendap dengan not yang jarang dan tenang, sang penari memperlambat geraknya. Allegro Molto menjadi penutup yang rapat dan cepat. Komposisi ini mengharapkan artikulasi yang jelas untuk menyampaikan kalimat-kalimatnya dengan jernih.

Duet muda ini membawa kesegaran pada publik Surabaya karena tak banyak hadir duet piano dan klarinet dalam panggung-panggung pertunjukan. Danang dan Ugne memberi sebuah tampilan yang jujur dan menunjukkan semangat berkembang yang tinggi.


  

Sunday, September 3, 2017

Lantunan Cinta dari Belanda : Uit Utrecht met Liefde

Mendalami musik dari tiga konservatori yang berbeda, Felix Justin (piano), Satriya Krisna (Tenor), dan Marlina Deasy Hartanto (Soprano) bertemu dan menemukan keinginan yang sama untuk menggelar pertunjukan bersama ketika berada di Utrecht. Membawa musik dan cinta dari negeri Belanda, ketiganya mengunjungi Surabaya di 15 Agustus 2017 lalu untuk pertunjukan bertajuk "Uit Utrecht met Liefde" (From Utrecht with Love).

Malam itu Gedung pertunjukan Cak Durasim cukup penuh. Melihat bagaimana di saat bersamaan, publik Surabaya juga disuguhkan konser kolaborasi Worldship Orchestra, Amadeus Orchestra, dan Airlangga Orchestra di tempat berbeda, animo penonton dalam menanggapi cinta trio anak bangsa Felix, Deasy, dan Satriya terhitung sangat bagus.

Meski dimulai cukup larut daripada biasanya, namun konser tak begitu saja dimulai. Di bagian awal, para penampil dipandu Patrisna May Widuri menyapa hangat audiens dan memberikan sedikit pengantar terkait karier yang sedang mereka jalani, juga tentang beberapa karya yang akan mereka tampilkan.

Foto : Dokumentasi Amadeus


Tiga anak muda ini membawa banyak prestasi dari kemampuan bermusik mereka. Satriya, misalnya. Ia baru saja lolos sebagai peserta pertama yang mewakili Indonesia di sebuah kompetisi vokal bergengsi di Swiss. Ia sibuk mengunjungi berbagai negara untuk mengikuti bermacam ajang. Felix yang baru saja lulus dengan nilai sempurna untuk pendidikan master-nya membentuk trio musik kamar, dan aktif di Samsakta Duo dengan Satriya Krisna. Felix pun tak lelah mengikuti berbagai kompetisi. Sedangkan Deasy sedang mengupayakan pendidikan musik untuk balita yang ia kembangkan di Jakarta.

Di Uit Utrecht met Liefde, mereka bertiga sepakat untuk membawakan komposisi-komposisi yang jarang diperdengarkan di ruang-ruang konser di Indonesia. Jika membaca sekilas daftarnya, komposisi yang mereka mainkan sangat banyak dan padat. Termasuk salah satunya "Pictures at an Exhibition" milik Modest Mussorgsky yang sangat jarang dimainkan secara utuh karena panjang komposisinya.

Konser ini terasa ramah pada audiens karena hampir setiap kali komposisi akan dimainkan, penampil memberikan panduan tentang isi karya. Dibagi menjadi empat bagian, bagian pertama diisi dengan komposisi-komposisi pendek. Bermula dari Als Luise die Briefe milik Mozart, Deasy yang manis ketika berbicara langsung berubah menjadi penuh amarah dengan suara soprannya. Sesaat, Deasy menjadi seorang kekasih yang dikhianati kekasihnya. Sementara Felix rapi dan tenang dalam menyajikan komposisi mengiringi Deasy. Disusul dengan Du Meines Herzens Kronelein dan Das Rosenband baik Felix maupun Deasy menunjukkan stamina yang bagus. Akhir babak pertama ditutup dengan Romance milik Debussy.

Foto : Dokumentasi Amadeus


Babak kedua menjadi ruang bagi Felix untuk mengajak audiens menjelajah galeri lukisan. Karya ini didekasikan Mussorgsky untuk sahabatnya, Viktor Hartmann yang merupakan seorang seniman, arsitek, dan desainer. Melalui sepuluh sub-karya pendek ditambah dengan pengulangan dan variasi pola Promenade, pengalaman indera penglihatan ketika memandang berbagai jenis lukisan dipindahkan pada gema di ruang konser oleh Felix. Bermacam tema diperdengarkan. Derap-derap zaman romantik Rusia milik Mussorgky pun terasa melalui tema awal Promenade. Kesenangan berjalan mengitari galeri, hingga kesedihan seseorang dalam mengingat sahabatnya. Dalam Gnomus, digambarkan gnome yang mengendap hingga berlari cepat dengan kaki bengkoknya. Audiens dikembalikan sesaat ke variasi promenade sebelum ke kemisteriusan panjang dari kastil tua melalui Il Vecchio Castello. Dinamika dinaikkan kemudian dengan hentakan dari versi forte Promenade. Audiens kemudian disuguhkan langkah kecil dari kaki anak-anak melalui staccato dari Tuileries.

Bydlo langsung hadir mengejutkan dengan fortissimo hingga berujung pianissimo sebagai penggambaran deru kereta kuda. Suguhan kembali pada promenade yang kali ini bernuansa gelap. Sesaat kemudian audiens langsung dibawa ke Balet Nevylupivshikhsya Ptentsov yang lincah, dan menggambarkan kekacauan khas anak-anak. Secara tiba-tiba, audiens diboyong ke persahabatan dua orang yahudi miskin dan kaya, Samuel Goldenberg and Schmuyle, nuansa ketegangan yang dihadirkan bagai berkisah tentang jurang sosial yang memisahkan dua sahabat ini.

Dikembalikan ke variasi Promenade yang ceria dan grande, keributan di pasar Limoges le Marche menyusul. Melodi yang padat sesuai dengan riuhnya warna pada lukisan yang menggambarkannya. Catacombs menghadirkan suasana bawah tanah Paris yang kelam dan kadang menyimpan kepedihan. Nuansa perkabungan diperdengarkan melalui Promenade : Con Mortuis in Lingua Morta. Dinamika ditarik naik dengan not-not rapat dari Izahbuska Na Kur'ikh Nozhkakh yang berkisah tentang kejam dan gelapnya penyihir Baba Yaga yang menelan anak-anak. Ketegangan ketika memburu korban tergambarkan.

Komposisi panjang ini ditutup dengan Bogatyrskie Vorota yang mengingatkan pada dering lonceng, dan ketegapan prajurit. Ditutup dengan hentakan, Felix mendapat apresiasi positif untuk stamina dan keberaniannya menawarkan komposisi panjang ini pada audiens. Felix terdengar sangat rapi dan detail, namun audiens bisa mendapatkan kesan yang lebih dramatis dari tampilan ini.

Foto : Dokumentasi Amadeus



Babak ketiga menjadi milik Samsakta Duo, tenor dan piano oleh Satriya dan Felix. Membawakan Der Kuss karya Beethoven, nuansa lincah dihadirkan. Komposisi pendek ini berkisah tentang kisah seorang lelaki yang ingin mencium kekasihnya. Satriya tampil dengan lepas dan gerak tubuh yang ekspresif. Dinamika dari cerita pun tersampaikan. Tampilan ini berhasil menghadirkan senyum di antara audiens. 

Bertolak belakang dengan komposisi sebelumnya, membawakan karya Nachtstuck D.672 milik Schubert tentang kematian yang indah, dikisahkan, sang tokoh, seorang kakek tua memainkan harpa dan menyanyi hingga kemudian kematian menjemputnya. Dibuka dengan perlahan, sederhana dan tenang, nuansa minor pun seketika menyergap. Harmoni yang disajikan Satriya dan Felix pun terasa kelam, bijaksana, dan sangat menyentuh.

Ketegasan dan amarah hadir kemudian melalui Le Manoir de Rosemonde milik Henri Duparc. Yang kemudian dilanjutkan dengan ketenangan dan kelembutan dari Sanglots from Banalites karya Poulenc yang terasa indah sekaligus muram. Felix dan Satriya kemudian menyajikan I Heard You Singing karya Eric Coates dengan sangat cantik. Mereka berhasil menyampaikan nuansa romantis dan elegan yang menyentuh. Spring Waters Rachmaninov yang menggambarkan tentang antusiasme menyambut datangnya musim semi menjadi penutup untuk babak ketiga. Felix dan Satriya terasa matang dan padu dalam berduet.

Foto : Dokumentasi Amadeus


Seakan mengantarkan audiens sebelum usai, di bagian terakhir, Felix, Satriya, dan Deasy bergantian menyajikan trio dan duo. Pada In der Nacht milik Schumann, ketiga penampil hadir. Enggan membiarkan berlalu dengan biasa, Deasy dan Satriya bermain-main dengan ekspresi dan gerak tubuh serupa opera sebagai pemanja visual.

Deasy dan Felix kemudian membawakan Che Fieromomento dari opera OrfeoedEuridice karya Christoph W. Gluck menghadirkan emosi yang berbeda. Deh Vieni dari opera Le nozze di Figaro menjadi suguhan berikutnya. Deasy tampak mulai bermain dengan gerak tubuhnya. Menggantikan Deasy, Satriya dan Felix hadir dengan komposisi Kuda, kuda vi udalilis dari opera Eugene Onegin karya Tchaikovsky. Satriya seakan hadir dengan menantang audiens dengan pertanyaan. Deasy dan Felix kembali dengan Ah non credea dari opera La Sonambula milik Bellini. Komposisi ini menjadi ajang Deasy untuk menunjukkan teknik vokalnya melalui dinamisnya alur lagu. Ditutup dengan Amor ti vieta dari opera Fedora milik Giordano, Satriya dan Felix memberikan sebuah akhir yang mengesankan. Meski bersahutan, keduanya kompak dari segi timing dan harmoni sehingga komposisi tersampaikan dengan sangat mengalir dan melahirkan tepuk tangan meriah.


Foto : Dokumentasi Amadeus


Ikatan musikal yang lebih kuat antara Satriya dan Felix membuat bagian duo menjadi lebih solid daripada trio. Penampilan yang nyaman dan lepas selalu bekerja untuk menyampaikan pesan, membangun suasana, dan estetika musikal. 

Satriya, Felix, dan Deasy sepakat membawa musik kali ini bukan hanya sebagai pertunjukan yang melahirkan tepuk tangan, namun juga untuk memberi inspirasi baru pada audiens untuk membawa kecintaan dan kemampuan bermusiknya pada dunia, serta memperdengarkan wawasan musik baru pada publik pencinta musik Indonesia.  

Foto : Dokumentasi Amadeus

Sunday, April 2, 2017

Terus Hidup : Slamet dalam Karya, Laku, dan Ilmu

Slamet Abdul Sjukur, komponis musik kontemporer Indonesia, masih pekat dalam kenangan. Mengenang dua tahun kepergiannya, delapan kota di Indonesia mengadakan pertemuan di waktu yang berdekatan. Jogjakarta, Surabaya, Papua, Jakarta, Bogor, Pontianak, Padang Panjang, dan Bandung. 


"Slamet dalam Karya, Laku, dan Ilmu" terwujud 27 Maret 2017 lalu. Di sekitar panggung kecil di Warung Mbah Cokro Surabaya, berkumpul murid-murid, sahabat, bahkan yang belum sempat mengenal beliau. Acara dibuka dengan dibacakannya catatan Gema Swaratyagita, murid Slamet, tentang perayaan Sluman Slumun Slamet,79 tahun usia Slamet Abdul Sjukur 2014 lalu yang sempat digelar di tiga kota. Gema bercerita tentang beberapa hal kecil yang menarik. Salah satunya pengalaman menelusuri teka-teki berapa usia Slamet sesungguhnya demi perhelatan tersebut. Juga cerita tentang beliau yang mencuri usia demi untuk mendaftar beasiswa ke Prancis, hingga bagaimana inspirasi yang datang dari seorang Slamet bisa membekas di benak banyak orang hingga kini. Gema juga mengungkap kesannya tentang hari-hari menjelang Slamet berpulang. Beliau selalu berkata "Besok (saya) mati." setiap kali murid dan rekannya merencanakan suatu hal untuk beliau.

Pemilik warung Mbah Cokro, Zurqoni mengajak hadirin mengenang sejenak dan mengucap doa untuk Slamet. Dalam hening, baru terasa betapa banyak orang yang masih membutuhkan Slamet hingga saat ini. Menggugah ingatan kembali, diputarkan juga video tentang ucapan selamat ulang tahun dari sahabat-sahabat Slamet di peringatan Sluman Slumun Slamet. Tentang betapa Slamet meninggalkan beragam kesan pada orang-orang terdekatnya.

Foto oleh : Adrea Kristatiani

Yang menarik, tampaknya seorang Slamet Abdul Sjukur juga mempunyai kedalaman dan sisi yang tak banyak diketahui orang lain. Banyak pengakuan yang terlontar dari murid dan rekannya, bahwa mereka merasa tak begitu mengenal Slamet, dan menduga orang lain mengenal beliau lebih baik. Menandakan bahwa Slamet begitu rendah hati dan tak ingin memamerkan dirinya pada orang lain. 

Beranjak pada ilmu SAS, sebuah video membawa ingatan kembali pada ilmu-ilmu yang dibagikan Slamet, salah satunya program Kukiko, sebuah workshop mencipta komposisi musik yang dibimbing langsung oleh Slamet. Dalam video, sosok Slamet tampak menciptakan suasana cair dan santai, namun tetap berkualitas. Pada puluhan anak muda, beliau menyampaikan tentang pentingnya memaksimalkan ingatan, kepekaan, dan kebebasan berekspresi dalam mencipta komposisi. Slamet juga seorang yang eksperimental. Dalam membuat komposisi, beliau menekankan jika komponis mesti menyisihkaan sesuatu yang sifatnya rutin. Terlihat SAS bukan hanya mengajarkan hal-hal teknis, namun juga mengajarkan karakter dan kepekaan sebagai manusia melalui musik.

Foto oleh : Adrea Kristatiani

Memvisualkan ingatan kembali tentang karya Slamet, malam itu juga diputarkan video dua karya yang dimainkan langsung oleh SAS di panggung Sluman Slumun Slamet di Surabaya. Gelandangan yang diciptakan di tahun 1998, dan Kabut yang dicipitakan menjelang keberangkatan SAS ke Prancis di tahun 1960. Kedunya dibawakan oleh sang empunya komposisi sendiri bersama Ika Sri Wahyuningsih dan Gema Swaratyagita. 

Dalam sesi berbincang, Joko Porong sebagai murid SAS merasakan berbagai pengalaman yang tak terlupakan tentang beliau. Salah satunya ucapan "Kalau bernafas jangan membuat berisik orang lain." yang disampaikan oleh SAS di pertemuan pertama perkuliahan. Kesan nyentrik Slamet begitu membekas pada ingatan Joko. Meski begitu, dengan karakter beliau yang sederhana, Joko Porong juga menduga seorang SAS mungkin tak suka dirayakan kematiannya. Namun spirit SAS untuk mengubah teks kehidupan menjadi elemen musikal tetap tak tergantikan dan meninggalkan kekaguman tersendiri. Lini Natalini, Oke Kawooan, dan Pak Wie turut memberikan cerita tentang bagaimana mereka bersinggungan dengan sang komponis.

Foto oleh : Adrea Kristatiani

Mengantar audiens beranjak, Gema Swaratyagita, Joko Porong, Evie Destiana, dan Kidung Kelana menampilkan Kabut ciptaan SAS, ditemani deklamasi dari Totenk Masduki dan Syarif Wajabae. Di balik betapa heningnya musik yang diciptakan Slamet, deklamasi itu menggelegar, seakan bersama menghadirkan kembali SAS yang memilih menempuh jalan sunyi, namun besar dalam karya.  

30 Juni 1935 hingga 24 Maret 2015 masih terasa terlalu singkat untuk rentang hidup seorang dengan jiwa besar berdedikasi. Namun beliau tak pernah mati. Slamet Abdul Sjukur sejatinya terus hidup. Hidup dalam hati, kepala, dan jiwa setiap yang tergerak, terinspirasi diri dan karyanya.

Foto : dokumentasi Adrea Kristatiani