Sunday, December 9, 2012

Seorang Anak yang Ingin ke Bulan



Suatu waktu, seorang anak berkata pada dirinya sendiri. "Aku ingin ke bulan. Karena disana pasti tak ada pertanyaan, sehingga pasti tak perlu ada jawaban pula." Dengan begitu yakinnya, ia berangkat seorang diri meninggalkan bumi dan berhasil menjejakkan kaki di bulan. Hatinya merasa begitu senang. Tak ada seorang pun di sini, sudah pasti tak akan ada pertanyaan dan tentu saja, jawaban.

Selama beberapa saat ia menikmati waktunya di bulan. Bermain-main dan berlarian sepuas hati. Hingga ia berhenti dan mulai merasa bosan karena lelah. Dicarinya batu yang datar dan cukup besar baginya untuk duduk. Sambil menatap bumi yang biru, ia merenung dan tanpa sengaja berkata. Bagaimana caranya agar aku bisa pulang? Ternyata ia belum memikirkan caranya untuk pulang. Hal itu menjadikan penyesalan dan jutaan pertanyaan lain pada dirinya. "Bagaimana ibu dan ayahku?", "Apa anjingku sore ini sudah diberi makan?", dan sebagainya.

Pernahkah kita jenuh dengan berbagai macam pertanyaan yang membosankan karena ditanyakan oleh setiap orang sepanjang waktu? Seperti : kapan nikah? Kapan lulus? Kapan punya anak? dan seterusnya.
Apakah mungkin pernah merasa kepala begitu penuh hingga ingin muntah jika pertanyaan yang sama datang kembali?

Ya. Anak yang ingin ke bulan itu adalah analogi. Kadang kita selalu berupaya lari dari segala pertanyaan tersebut. Menghindar, bersembunyi, dan sebagainya hingga menganggap kita menjadi tenang dan tak akan ada pertanyaan kembali. Saya tak sepenuhnya menyalahkan sikap yang demikian. Sebagai manusia, bukankah lelah adalah hal yang lumrah? 

Namun sesungguhnya dalam keadaan sembunyi dan lari pun kita tak pernah dapat lari dari pertanyaan. Benar adanya jika kita terhindar dari pertanyaan orang lain. Namun, apa kita terhindar dari pertanyaan diri sendiri?

Tidak.

Akhirnya pun diri kita sendiri yang akan bertanya-tanya sendiri akan diri kita. Misalkan : "Iya, kenapa saya tidak segera menikah? Apa yang salah dengan diri saya? Apa saya kurang pantas, kurang mapan?", "Iya, kenapa saya tak segera memiliki anak? Apa saya belum pantas menjadi seorang ibu/ayah?"

Pertanyaan tak akan pernah hilang. Menghindar pun seperti tak ada artinya. Saat ini, mungkin kita harus mulai berpikir. Bukannya menghindar, namun mulai mencari jawaban sebagai senapan untuk "melawan" segala pertanyaan. Agar tak tersisa penyesalan dari sebuah pelarian untuk begitu banyak never ending questions. Million dollar questions. Plus tambahkan koreksi diri. Jangan-jangan kita menjadi salah satu penanya 'menyebalkan' untuk orang lain. Jangan-jangan kita sendiri tanpa sadar telah mengajukan pertanyaan yang sama ratusan kali sebelum mereka bertanya pada kita. Karma?


Thursday, December 6, 2012

[Book - Review] Tamu Rumah Biru - K.Usman


Tamu Rumah Biru sempat membuat saya keder dengan jumlah halaman dan ketebalannya. Tentu saja sempat terpikir jika penulis tak pintar-pintar mempertahankan stamina pembaca, buku ini akan begitu saja ditutup sebelum mencapai halaman akhir, bahkan mungkin setengahnya. Kebetulan ini karya K. Usman pertama yang saya baca. Terbit melalui nulisbuku.com, harganya terbilang cukup mahal, seiring dengan jumlah halaman yang memang banyak. Awalnya saya pikir saya akan menghabiskan banyak waktu dengan buku ini. Bahkan saya sempat berkata, buku ini akan jadi penutup Reading Challenge 2012 saja (karena saya pikir saya akan menyelesaikannya di akhir tahun). Tak disangka, saya berhasil menuntaskannya dalam kurang lebih satu minggu. Dan saya menikmatinya.



Covernya yang memang biru itu terkesan serius dan dewasa. Seorang perempuan, raut wajah laki-laki dan rumah yang terbakar. Jika anda telah menikmati beberapa halaman awal dan mencoba memahami apa yang dimaksudkan cover, anda akan mudah saja mengerti apa artinya. Sangat jelas dan gamblang. Sesuai dengan kisah yang disajikan penulis. Saya sih suka dengan cover-nya. Saat break dan menempatkan pembatas buku di salah satu halamannya, saya akan mengamati cover-nya baik-baik. Desainnya cukup ampuh sebagai penyegar. Layout halamannya pun cukup bersahabat dengan spasi yang manusiawi untuk buku setebal ini.

Buku ini bercerita tentang satu bagian perjalanan hidup Ahmad Kamal, seorang wartawan dan pengarang yang kemudian di usia paruhbayanya memilih menjadi pengembara untuk dapat memandang hidup dengan lebih luas. Ia mencari kenangan masa muda yang ditinggalkannya begitu saja agar kembali secara nyata dan mampu ia hadapi dan tuntaskan kembali. Dari perjalanan itulah seorang Ahmad Kamal bertemu dengan banyak orang baru dan orang-orang yang mengisi masa lalunya. Ia akhirnya pun harus menerima bahwa waktu tak pernah meninggalkan segalanya dalam keadaan konstan. Begitu banyak hal yang tak lagi sama, dan ia harus menerima dan menghadapinya.

Sederhana. Itu kesan saya untuk buku ini. Plotnya tidak rumit, diksinya pun mengalir lancar tanpa efek berlebih. Ternyata kederhanaan itu yang justru menjadi kekuatan penulis. Karakter, konflik, setting terasa membumi, nyata, apa adanya. Seperti mudah saja karakter-karakter itu kita temukan dalam dunia nyata. Sejenak saya pikir tak akan ada ruang imajinasi lebih yang ingin dibagikan penulis. Namun ternyata menjelang akhir, bab 'Di Negeri Suci Berseri' membuktikan prasangka saya salah.  

Meski begitu, saya yang pemuja diksi berbunga dan quote indah harus sedikit kecewa dengan minimnya hal tersebut. Typo juga masih begitu banyak ditemukan. Saya juga sedikit terganggu dengan pemberian dan penyebutan nama karakter yang 'terlalu lengkap' dengan gelar jabatannya. Beberapa kali saya sempat 'kecele' dengan penyebutan nama karakter yang lengkap itu. Sempat terpikir karakter ini akan menempati posisi yang penting di lanjutan kisah. Namun nyatanya tidak. Ia hanya 'digunakan' penulis sebagai media penyampai pesan yang ingin dibagikan.  

Membaca buku ini saya serasa sedang didongengi oleh seseorang yang telah lama belajar menjalani hidup. Begitu banyak kearifan, nilai-nilai moral, pandangan dan sikap dalam mengatasi masalah yang dibagikan. Pandangan dan kritik penulis akan berbagai bidang, mulai politik, sosial, agama, moral, sastra, dsb begitu banyak tertulis. Kadang terasa pedas dan kejam, namun juga terasa sangat bijak dan benar. Mungkin idealisme penulis akan subjektifitas pribadi yang ingin disampaikan itu yang membuatnya ingin menerbitkan buku ini secara mandiri, tanpa harus terpotong akan proses editing. Berikut sepenggal kritik sosial penulis yang saya tandai :

  "Kamal memahami, bagi orangtua Mia, dunia sastra adalah impian-impian yang hanya membuai, dan indah bagi penikmatnya. Dunia materiil bagi orangtua Mia selalu kongkret berupa jabatan, pangkat, berupa benda-benda, serta angka-angka. Memang tidak akan bertemu dengan dunia Kamal yang abstrak, dunia kata-kata, dunia imajinasi yang khayali.
    Namun, yang menyedihkan Kamal adalah mengapa anugerah Allah yang diterimanya itu disepelekan, dipinggirkan dalam kehidupan, seakan tiada memiliki fungsi dan makna. Padahal, sastra dapat memelihara kelembutan hati, membuat pembaca punya rasa haru, juga menjadikan manusia terhibur, senang dan arif-bijaksana dalam kehidupan, setelah merenungkan hasil bacaan yang bernilai sastra."

Lantas, mengapa saya harus memberi empat bintang? Selain karena buku ini berhasil membuat kesederhanaan menjadi kekuatan, saya mampu belajar banyak dari buku ini. Belajar bagaimana hidup dari seorang yang memang telah kenyang pengalaman dan berpikir arif untuk hidup.

Impian saya bertambah satu lagi. Ingin bertemu dan berbicara banyak tentang buku ini (yang berarti bicara tentang banyak sisi kehidupan) dengan sang penulis, K. Usman. :)   

Sunday, December 2, 2012

"Ruang Putih 2 Desember 2012"

Ruang Putih, kolom Jawa Pos tiap Minggu itu selalu membawa insight bagi saya. Selain karena memaparkan hal-hal yang dibedah secara mendalam, juga menyadarkan saya bahwa selalu ada cara pandang dan sikap yang berbeda dalam memandang hidup. Seperti kali ini, Hari Minggu tanggal 2 Desember 2012. Pengisi kolom Ruang Putih kali ini adalah Sitok Srengenge, A.S Laksana serta Muhidin M. Dahlan (Gus Muh). Siapa yang tak kenal dengan mereka, bukan?
Di sini saya tak akan mengetik ulang apa yang mereka tuliskan, namun sekadar ingin 'menyarikan' apa yang beliau-beliau tulis dan pandangan subjektif saya akan tulisan-tulisan mereka yang luar biasa itu.

Saya rasa ketiga esai itu memiliki satu benang merah yang sama. Tentang dunia penulisan dalam masyarakat. Seperti Sitok Srengenge yang bercerita tentang 'kurang adanya tempat' seorang penulis di tengah masyarakat negeri kita ini. Diawali dengan beliau saat melakukan pengisian formulir data pribadi untuk pengurusan e-KTP. Yang membuat beliau (mungkin) terkejut dan sedikit kecewa adalah tak adanya opsi 'Penulis' pada kolom profesi yang harus dipilih. Justru, opsi 'Paranormal' nampak pada kolom tersebut. Hal itu lantas memberikan pertanyaan pada kepala beliau. Sesungguhnya, di manakah posisi penulis dan sejauh apa profesi ini diterima dalam masyarakat kita. 

Saya mungkin belum dapat disebut sebagai penulis. Hanya gadis kecil yang punya mimpi untuk dapat terus menulis. Namun, sejauh ini pun saya setuju dengan Pak Sitok. Penulis yang bekerja untuk keabadian kata Pram, penulis yang menjaga kemanusiaan dan berkembangnya imajinasi kata Bli Putu Fajar Arcana, belum mampu diterima sepenuhnya oleh masyarakat, meski berperan besar dalam mencatat dinamika kehidupan. Saya ingin kutipkan salah satu kalimat dari Pak Sitok :

"Yang terpenting dari menulis bukanlah bagaimana menyampaikan, melainkan apa yang disampaikan. ... Sebagaimana aktivitas lain, terutama yang bersifat sosial, selalu ada masa ketika yang menjadi tujuan utama adalah persembahan, bukan pengakuan."

Saya menyikapi paragraf ini sebagai konfirmasi. Bahwa menulis bukan sepenuhnya eksistensi, meski memang tak mampu sepenuhnya lepas dari itu. Namun, penulis juga senantiasa merekam realitas dan mengolahnya dalam kepala hingga terlahir kembali menjadi sebuah karya yang layak disajikan pada pembaca, lepas dari bagaimana interpretasi pembaca menangkapnya. Penulis yang awalnya (mungkin) bekerja untuk diri sendiri dan eksistensi akan menemukan kepuasan akan karyanya, kemudian akan tergerak untuk berbuat lebih banyak. Mempersembahkan apa yang mereka miliki untuk kemanusiaan.
Kemudian pun Pak Sitok mengutip kalimat Virginia Woolf tentang bagaimana tahap seseorang yang berprofesi sebagai penulis :

"Penulis pada akhirnya adalah profesi yang juga bisa dan layak dilakoni semata-mata sebagai upaya mendapatkan penghasilan."

Entah berapa banyak manusia yang menyetujui hal ini sebagai kebenaran. Namun, tentu lebih banyak yang berpendapat sebaliknya. Seorang teman pernah memberikan tanggapannya kepada saya : "Menjadi penulis? Apa kamu bisa mengalahkan kultur (mungkin maksudnya cara pandang mayoritas masyarakat kita)?" Masih begitu banyak orang yang menganggap penulis bukanlah suatu pekerjaan (menghasilkan uang dan mengangkat gengsi), dan akan begitu banyak kepala yang memandang sebelah mata untuk profesi tersebut. Ia ingin mengingatkan kembali kepada saya tentang realitas. Saya sangat hargai hal itu. Namun, di saat yang sama, timbul pertanyaan baru dalam benak saya, di mana impian harus diletakkan dan diyakini? Hal ini bukan berarti saya menyalahkan keadaan dan anti dengan seseorang yang juga tetap berprofesi lain, namun tetap menghidupkan impiannya sebagai seorang penulis. Sama sekali TIDAK. Saya justru kagum dengan mereka. Mereka tetap berhasil di kedua bidang dengan baik, di mana letak kesalahannya? Sama halnya dengan seorang full time writer yang berani membuat keputusan besar untuk menulis secara penuh.
Hingga saat ini, saya harus mengakui, saya terus mencari. Di mana kehidupan akan meletakkan saya. Di salah satunya, atau di keduanya? Di kedua opsi yang sama-sama baik tersebut.

Kembali, mengapa banyak masyarakat yang belum mampu menerima penulis sebagai profesi? Berikut Pak Sitok kembali mengatakan berdasarkan esai Barthes :

"Bagi orang yang berprofesi lain, kerja mereka terkesan sebagai "kerja semu", dan dengan begitu liburan mereka pun liburan semu. Kaum pemuja kepastian (kerja tetap, pendapatan tetap) bisa memandang totalitas seorang penulis sebagai "keberanian garda depan", hanya mungkin dilakukan oleh "orang-orang yang tidak biasa".

Maka, berbahagialah seharusnya anda yang termasuk "orang-orang yang tidak biasa", karena anda telah berani memilih untuk berbeda.

Dan beliau menutup esai "Sang Penulis" nya dengan kalimat yang sangat bijak dan sangat saya hargai :

"Penulis yang baik, tepatnya yang bertanggung jawab, mestinya orang yang konsekuen dengan pilihannya, menyadari responsibilitas masyarakatnya, berani mendada risikonya sampai ke tahap yang paling pahit, dan tidak menimpakan risiko itu kepada pihak lain."

Membaca kutipan tersebut, saya tergerak ingin mengulang : "Selalu ada pertimbangan di setiap pilihan, bahkan sekadar dalam 'teh atau kopi', maka hargailah!"
Sekali lagi, ini sama sekali bukanlah pembelaan, namun saya hanya sekadar ingin menatap segala sesuatu dengan luas dan berimbang. Saya pun masih sungguh-sungguh jauh dari segala idealisme-idealisme yang telah tersebutkan di atas. Oleh karena itu, saya ingin belajar dan terus mencari jawaban. Salah satunya dengan terbuka dan menghargai segala pilihan.

A.S Laksana membahas masalah yang begitu sering ditemukan dalam masyarakat. Tentang karya sastra yang sering dianggap rumit dan susah dicerna. Tentang sastra yang dianggap egois karena 'asyik dengan dunianya sendiri'. A.S Laksana menjawab dan menyikapi dengan cara yang sangat keren : 

"Kepadanya, dan kepada siapa saja yang mengeluhkan karya sastra, saya mengatakan bahwa kadang-kadang perlu juga kita membaca yang ruwet-ruwet, misalnya filsafat atau pemikiran-pemikiran yang membuat jidat kita berkerut. Itu agar kita tidak terbuai oleh kenyamanan membaca majalah anak-anak atau selebaran atau menggemari sinetron belaka."
 
"Gagasan-gagasan yang paling inovatif sering lahir ketika manusia dihadapkan pada kesulitan. Tanpa kesulitan orang akan merasa nyaman-nyaman saja, menggendutkan perutnya dan memperkecil volume otaknya."

Saya rasa saya tak perlu banyak membahas banyak dari paragraf itu. Beliau sudah banyak menjawab. Belum lagi ditambah dengan :

"Tanpa kesulitan, kita tidak tahu apa yang kita inginkan. Tanpa tahu apa yang kita inginkan, kita tidak akan bergerak kemana-mana."

Saya pun memandang, tak ada salahnya mengungkapkan sesuatu dengan jalan yang berbeda. Bukankah perbedaan dan keunikan itu yang membuat menyenangkan? Diksi adalah bagian dari keindahan berbahasa. Bukankah mulia seseorang yang memutuskan bekerja untuk berbagi keindahan? Keindahan akan menyentuh banyak hati, bahkan menggerakkan hati untuk lebih peka menatap segala sesuatu. 

Sedang Gus Muh memilih mengajak pembaca untuk mengabadikan dinamika perkotaan dengan Almanak Kota. Bukan melulu pada yellow pages dan brosur. Agar sesuatu dapat dinikmati dan dibaca ulang dengan cara yang lebih menyenangkan. Bahkan mungkin dengan keindahan dari bahasa. Agar kemudian (lagi-lagi) dapat menyentuh banyak kepala untuk belajar dan membuka hati.

Ruang Putih bercerita banyak hari ini. Terutama untuk saya sendiri. Untuk mulai sedikit demi sedikit memperbaiki isi kepala sendiri, kemudian menata sikap dan hati. Anda?    
   

Thursday, November 29, 2012

"The Sounds of Indonesia"

Pekerjaan berbagi keindahan bagi saya adalah pekerjaan yang paling keren dan paling mengagumkan. 

Rabu siang menjelang sore, saya mendapat kiriman paket dibungkus mailing bag. Eh? saya lagi ga pesan buku apapun, kok (saya biasa membeli buku melalui online store). Bentuk paketnya sekilas layaknya buku bantal yang tebal. Hmm.. saya cek tuh nama pengirimnya. Jantung saya seperti dipompa ke kapasitas maksimumnya karena terkejut. Tertera nama pengirimnya : Addie MS. Nama penerimanya tersebutlah nama saya. Ya Tuhan! Syukur tak terkira, hadiah kuis maestro untuk saya sudah tiba : Album "The Sounds of Indonesia", lengkap dengan nama saya dan tanda tangan beliau. Siapa yang tak senang dengan hadiah yang dikirimkan langsung oleh salah seorang maestro musik klasik negeri ini, bukan?

Saya tak akan banyak bicara tentang bagaimana saya menang kuis dan mendapatkannya, karena menurut saya, seluruhnya hanya karena Tuhan Yang Maha Baik saja. :)


Saya mendengar "The Sounds of Indonesia" release pertama kali melalui Twitter. Baik melalui akun Pak Alex Frits maupun akun maestro Addie MS sendiri. Jelas, sudah mampu saya perkirakan sebelumnya album ini akan menarik. Lagu-lagu daerah Indonesia dibawakan oleh orchestra, tentu akan sangat megah dan indah. Niatan saya untuk memburu album ini belum juga kesampaian hingga ternyata saya dihadiahi dengan cara yang tak disangka-sangka. Senang sekali! Lantas, bagaimana dengan orchestra yang membawakannya? Kali ini dibawakan oleh City of Prague Phillharmonic Orchestra, namun tetap di-conduct oleh Addie MS. Di-record di Smecky Music Studios, Prague, Czech Republic, hasilnya sangat memuaskan. 
Dua buah CD yang masing-masing berisi tigabelas lagu daerah, keduanya diawali dengan "Tanah Airku" yang sangat syahdu. Jelaslah sudah mengapa Tanah Airku diulang hingga terdapat di kedua CD. Selain melambangkan bahwa 'lagu-lagu ini milik Indonesia', juga karena melodi dan aransemennya sungguh indah. Mengikuti Tanah Airku, list komposisi nusantara dibagikan sebagai berikut :




Disc 1
01. Tanah Airku - Ibu Soed
02. Bungong Jeumpa - Aceh
03. Rasa Sayange - Maluku
04. Anging Mamiri - Sulawesi Selatan
05. Keroncong Kemayoran - DKI Jakarta
06. Nasonang Do Hito Nadua - Sumatera Utara
07. Cik Cik Periook - Kalimantan Barat
08. Jembatan Merah - Jawa Timur
09. Bolelebo - Anak Kambing Saya - Nusa Tenggara Barat
10. Batanghari - Jambi
11. Cublak Cublak Suweng - Jawa Tengah
12. Ampar Ampar Pisang - Kalimantan Selatan
13. Gending Sriwijaya - Sumatera Selatan

Disc 2
01. Tanah Airku - Ibu Soed
02. Manuk Dadali - Jawa Barat
03. Soleram - Riau
04. Kampuang Nan Jauh Di Mato - Sumatera Barat
05. O Ina Ni Keke - Sulawesi Utara
06. Lisoi - Sumatera Utara
07. Fatwa Pujangga - Bangka Belitung-Riau
08. Janger - Bali
09. Teluk Lampung - Lampung
10. Ayo Mama - Maluku
11. Bengawan Solo - Jawa Tengah
12. Jali-Jali - DKI Jakarta
13. Yamko Rambe Yamko - Papua


Tak melulu syahdu, pendengar juga dimanjakan dengan musik rancak, diantaranya : "Ayo Mama" dan "Yamko Rambe Yamko" dan "Cublak Cublak Suweng" dengan memainkan nada-nada staccato. Flute, string, dan alat musik lainnya bekerja sama membentuk melodi yang memanjakan. Sempat juga terdengar kolaborasi alat musik tradisional kendang dalam "Manuk Dadali". Saya pribadi merasakan bahwa seluruh komposisi di album ini tak boleh terlewatkan. Selain lagu-lagu daerah Indonesia yang disajikan dengan Grande, ada makna yang kembali 'menampar' kita. Seberapa jauh sudah kita mengenal lagu-lagu bangsa sendiri? Apa sebegitu pantaskah melodi-melodi kekayaan kita bersama ini terlupakan begitu saja? Ada nilai dan semangat kebangsaan positif yang ingin dibawa, ada ajakan untuk mengenali siapa diri kita sebenarnya. (terutama diri saya sendiri tentunya) :)

Dengan alasan yang sama, saya begitu gembira jika menghadiri konser atau recital yang menyajikan komposisi-komposisi Indonesia di antara list program yang akan dibawakan. Ada nuansa etnik yang dibagikan. Favorit saya saah satunya adalah "The Dancer" milik pianis Levi Gunardi, yang entah telah terputar berapa kali dalam player saya. Jadi terbayang, mungkin saja suatu hari nanti "The Dancer" juga dapat dibawakan secara orchestra. :) 

Ah ya, salut juga untuk Garuda Indonesia yang memproduseri album ini dan memutarnya pada penerbangan-penerbangannnya, mengingatkan dan mengenalkan budaya Indonesia pada penumpangnya. Beberapa tahun lalu pun saya suka dengan jingle Garuda "Kebangganku" yang juga dihasilkan melalui tangan Addie MS. Sampai saya ditertawakan beberapa teman saat men-download lagu itu, sementara mereka sibuk men-download lagu-lagu My Chemical Romance di saat yang sama. :D

Album ini sungguh pantas menghampiri telinga anda, yang mungkin kemudian akan jatuh cinta dan memindahkannya pada player anda, seperti saya. :) Saat diputar di rumah pun, saya sungguh gembira. Tak satupun protes terjadi karena selera genre yang berbeda. Mama saya sibuk menebak judul, bernyanyi-nyanyi kecil sembari mengingat kenangannya saat pertukaran pemuda dahulu, saat dimana beliau banyak menyanyikan lagu-lagu Indonesia di negeri orang. Papa saya turut bersenandung sambil sesekali menyanyikan penggalan lirik yang beliau ingat. Sedang saya menikmati lantunannya dengan membaca novel Eka Kurniawan.hehe. Mungkin selanjutnya bisa saya coba dengan buku-buku Pram, Budi Darma dan Ratih Kumala. Saya yang sok ngepasin aja, sih. Biar musik Indonesia bisa dinikmati bersama buku-buku Indonesia juga. :) Pun album ini sanggup menggerakkan saya untuk mendengarkan kembali "La Forza del Destino" milik TO. Jika dipaksa subjektif untuk membandingkan keduanya : Sama indahnya, namun "The Sounds of Indonesia" menang satu angka, karena mengangkat Indonesia. Satu lagi, saya mungkin akan mulai berburu partitur-partitur lagu-lagu daerah, meski bermain dengan sederhana.  

Intinya sih, saya ingin menyampaikan bahwa "The Sounds of Indonesia" sangat layak untuk anda sekalian dengarkan dan nikmati. Dan andapun akan setuju dengan saya begitu anda mencoba mendengarkannya. (Bukan promo karena saya diberi gratis oleh maestro Addie MS, loh). Yah, memang sesungguhnya karena alasan-alasan yang saya sebutkan sebelumnya. 

Mengambil kalimat awal untuk menutup curhatan ini, saya mengatakan pekerjaan untuk berbagi keindahan itu telah dilakukan sangat baik oleh maestro Addie MS dan seluruh pihak yang terlibat dalam pembuatan album ini. Sungguh. 



-Nabila Budayana-

Thursday, November 22, 2012

Siapa #50Ribu


Apa sih, Bil, akhir-akhir ini Timeline-mu penuh sama #50Ribu dan #Buku50Ribu ? Apaan sih #50Ribu itu? Kalau yang itu sih, tinggal buka posting saya di blog ini juga : "Tentang 50 Ribu". Di situ sudah cukup banyak cerita tentang buku baru kolaborasi enam penulis ini. 
Eh? Enam? Siapa aja? Nah, ini yang mungkin banyak orang yang belum tahu.  Padahal untuk membeli dan membaca buku, bagi saya mengetahu siapa penulisnya itu hal krusial. Nomor satu. Karena itu, saya dedikasikan posting ini untuk mereka. Teman-teman terbaik saya. Agar tak terjadi kecemburuan di antara mereka (ehm), nantinya saya sebutkan sesuai abjad saja, ya! :)



Awal pertemuan kami di workshop #kelaskreatif Surabaya berlanjut pada 'reuni' kecil-kecilan di tanggal 9 bulan 10 di tahun 2011. Dari pertemuan itu, kami berhasil melahirkan sebuah antologi puisi, flashfiction dan cerpen di dalam satu sampul. Judulnya "91011" - sesuai dengan tanggal pertemuan, sekaligus kami leburkan dalam konsep : 9 puisi, 10 flashfiction dan 11 cerpen. Awalnya sih saya telah cukup familiar degan tiga di antara mereka (@riezkylibra80 @Riersy @indihana_) karena kami dalam satu klub menulis yang sama (Nulisbuku Club Surabaya) sedang dua lainnya (@banggavann dan @AyuninQ) saya baru bertatap muka pertama kalinya. Kesannya? mengejutkan. Karena mereka berdua telah lumayan dekat dalam satu komunitas fiksi pula (Fiksiminiers Surabaya). Obrolan kami langsung mengalir lancar di pertemuan pertama. Dengan background beragam, ternyata kami tetap memiliki satu benang merah yang sama : "passion untuk menulis". Saya terkesan dengan semangat mereka. Dan merasa kami berenam mampu berjalan bersama. Dan, inilah mereka :





* Ayunin Qryn (AyuninQ) : 
Karya-karya Ay (begitu kami memanggilnya) banyak bertema keluarga dan keTuhanan. Ada sisi polos yang Ay senang tampilkan. Ia seakan mengingatkan bahwa segala cerita mampu berangkat dari hal yang sederhana, namun krusial dalam kehidupan. Ay sangat jujur dalam bercerita, penyampaiannya eksplisit dan mudah ditangkap.
Secara pribadi saya menangkap Ay sebagai sosok yang hangat, bersahabat dan apa adanya. Tapi kadang kala, saya yang kurang sabar ini suka geregetan nagihin Ay di tanggal deadline. :D 
Ay pernah menggawangi penulis-penulis lain dalam antologi "Peduli Difabel" yang didekasikan untuk saudara-saudara kita yang berbeda.

* Bangga Shahlimusa (@banggavann) :
Tulisan-tulisan yang dihasilkan Bang sangat khas. Bang suka mengangkat tema-tema mistis dan misteri. Pengetahuannya akan 'dunia itu'? jangan ditanya! kami suka melongo begitu Bang udah ngedongeng masalah itu. Bang juga salah satu dari kami yang suka banget bikin twist cerita yang ekstrim. Cerita-cerita yang Bang buat bertempo cepat dan (tentu saja) mengejutkan.
Terus terang, sampai saat ini saya (bahkan mungkin kami semua) belum tahu siapa nama asli Bang yang sesungguhnya. Anonimnya berjibun! :) Tapi, apa penting? Kami cukup mengenal Bang selain sebagai 'personil' cowok satu-satunya, Bang juga siap jadi buzzer dan sesi sibuk event, deh. Bang dikenal sebagai front man yang sangat care, berani dan outgoing :)
Bang telah menelurkan novel 'hitam'nya yang pertama : "Ruhh : Muasal"

* Indihana (@indihana_) :
Kalem, dewasa, penuh cinta. *ceilee* Nah, itu pula yang tergambar pada karya-karya mbak Indah (panggilan dari saya). Tema-tema yang diangkatnya tak pernah jauh dari cinta. Dan puisinya? hebat! Meski ngakunya masih sebatas notes, bukan puisi. Rasa tulisan mbak Indah manis dan manuasiawi. Namun lancar mengalir dan menyentuh. 
Mbak Indah seorang yang menyenangkan bagi saya. Sangat ramah, bahkan semenjak pertemuan awal kami. Tempat curhat yang asik dan bank saran yang bijak. Lovely! :)
Buku yang telah dilahirkannya berjudul "Hey, June!"

* Riesty Aqmarina (@Riersy) :
Muda dan bersemangat. Sangat mencintai Metropop hingga banyak mempengaruhi gaya berceritanya. Lancar dan banyak memberi kutipan Bahasa Inggris khas anak muda. Tentu saja dinamis. Akhir-akhir ini kemampuan menulisnya mengejutkan kami karena banyak berkembang. :)
Saya tak pernah menganggapnya sebagai adik. Bukan karena saya yang sok pede merasa muda, sih. Tapi karena Riesty pintar menempatkan diri di antara kami. Selain berani mencoba, pemikirannya dewasa dan fleksibel. Semangat mengejar mimpinya patut diberi applaus! :)
Novel Riesty, "Stuck On You" dan Kumcernya "Driver Story" sudah terbit tahun lalu.

* Riezky Oktorawaty (@riezkylibra80) :
Misterius. Ya. Tulisan-tulisannya tak pernah jauh dari kesan misteri dan thriller. Namun cara pengungkapannya yang menarik. Tak pernah lepas dari kejutan! Bagi saya, ide-ide yang dimilikinya mengagumkan dan sering kali membuat kepala saya geleng-geleng keheranan. Tak bertele-tele dan enggan menyia-nyiakan ruang. Beberapa kali tulisannya juga mampu memikat dalam kompetisi.
Meski paling senior, tapi tak pernah sekalipun saya merasa kami memiliki rentang umur yang jauh. Tak lain karena mbak Ky tak pernah merasa 'jemawa' dalam menjalin pertemanan. Saya menangkap ia sebagai sosok pemikir dan penuh pertimbangan. Wanita yang mandiri dan sangat bahagia dengan kehidupannya. Keras kepala dalam menginginkan sesuatu dan bertekad keras untuk mewujudkannya. Apa adanya dan tak segan mengungkap apa saja yang ingin ia katakan. 
Dua antologi flashfiction telah ia hasilkan : "Antologi Kopi Tubruk" dan "Nikmati Saja!" 

Terbayangkah anda, saya telah berkolaborasi dalam dua sampul yang sama dengan mereka? Ya. Itu benar-benar terjadi. Karakter-karakter unik itu yang ingin kami tampilkan dalam kolaborasi-kolaborasi ini. Satu hal yang saya kagumi adalah mereka selalu memiliki semangat dan saling menguatkan. Kami mampu bercanda dalam ramai, namun juga mampu merenung dalam hening. Sesederhana itu. Tak pernah terlintas dalam pikiran saya sebelumnya, jika kami mampu berjalan sejauh ini. Dan kami akan terus berjalan. Ke mana?

Nantikan project kami selanjutnya di #111213 ! :) 







Thursday, October 11, 2012

Cincin dan Dua Cangkir Cokelat


Cokelat panas itu mengepul begitu saja. Seakan uapnya bersatu dengan kabut yang tak pernah gagal datang di halaman muka ini. Senja ini masih saja ditemani dua cangkir. Sengaja, agar cangkirku tak merasa sepi karena hanya ditemani jemari yang tak kunjung mampu melepas logam yang melingkar di jari manis. Kilau keperakan di jariku masih sering kali mengingatkanku padamu. Telah lama kupaksa diri agar tegar melepasmu pergi. Meski perlahan, aku sanggup juga. Namun, sungguh aku tak mampu merelakannya. Entah apakah harus aku memutus urat nadi, agar ia kembali. Kalian sama-sama menjadi tak tahu diri dan tak punya hati. Sungguh, tak tega kusaksikan cokelat panas satu lagi mengepul tanpa pernah ia sesapi, layaknya hari lalu. Mulai esok, tekadku akan bulat sempurna. Kutanam cincin ini di halaman untukmu, dan akan kuwakilkan meminum cokelat ini untuknya. Anak kita. Anak yang kau bawa pergi dengan seorang lain, yang dengan gembiranya ia berkata "Hore, ibu baru!" Namun, aku tetap yakin, kalian akan kembali, entah pada senja keberapa dan cangkir keberapa.

Pertaruhan


Kau sering kali mengatakan. Pertaruhan itu mengasyikkan. Namun, aku tak pernah sungguh-sungguh suka. Hanya untukmu saja. Berpura-pura menjadi biasa bagiku. Asalkan kau katakan itu sempurna, aku sepenuhnya tak meminta apa-apa. Kau angankan dan tuliskan bagaimana pasangan idaman, segera bergegas diriku menuju kesana. Telah biasa kau bermain di pekat gulita malam, diantara kesengajaan redupnya lampu meja pertaruhan. Itu profesimu, aku tahu. Sekali lagi, hatiku setiap kali berkata tak pernah suka. Namun, senyumku tak pernah sedetikpun lenyap menyambut dirimu pulang. Kadang kau lambaikan setumpuk lembar merah berharga itu dari kejauhan dengan paras kejayaan. Namun lebih sering kau pulang dengan kepala tertunduk kesedihan. Katamu ada penyesalan, kekecewaan dan rasa bersalah. Tidak juga ternyata. Esok, esok dan esoknya lagi kau akan kembali semula. Mengulang apa yang seharusnya tak kau ulang.
Kami telah menjelang senja dalam usia saat ini. Pernikahan kami seperti abadi. Dengan pedih, kusaksikan kau berkawan sakit. Saatku sebentar lagi, katamu. Meski begitu, kau berkeras mengendarai mobil bersamaku. Jalan-jalan pamungkas, itu yang kau inginkan. Kesedihan seperti tak sanggup kusimpan lebih lama. Di tengah perjalanan, kau berkata ingin bertaruh untuk terakhir kali. Sebelum sempat kutanyakan apa maksudmu, sembari menyetir, kau keluarkan koin dari sakumu. Trang! lempengan itu jungkir balik di udara. Hap! kau tangkap dengan tangkas hingga menunjukkan garuda di permukaannya. Itu berarti aku kalah. Dan memang aku akan selalu kalah dan mengalah. Kau tekan pedal gas kuat-kuat, kami berhenti tak tepat. Katamu, garuda berarti kau dan aku selalu bersama. Kali ini kau benar, kita pergi bersama menuju sana, meski aku tak pernah suka dengan pertaruhan.

Tuesday, September 25, 2012

Balik Jeruji


Kedua kaki ini kupacu dengan terburu di lantai putih. Kulewati lorong-lorong yang seperti tak berakhir ini. Aku harus cepat jika tak ingin terlambat. Kusesali dalam-dalam segala perlakuanku. Lagi-lagi ini salahku. Tak sanggup lagi kubayangkan berapa orang yang akan menghujatku habis-habisan.
Ia lagi-lagi mencoba memotong urat nadinya sendiri. Kali ini dengan pisau dapur, kudengar. Lampu merah Ruang Tindakan menyala seakan memberi tanda. Memilihkan sang penghuni untuk kembali atau pergi.
Kelegaan luar biasa tak sanggup kutahan, saat ia dipindahkan ke kamar perawatan. Ia mendapat kesempatan hidup kesekian kali. Mengapa ia lakukan ini aku tak tahu pasti. Namun aku mendengar mereka berbicara. Katanya, ini karena aku menyiksanya. Mustahil. Aku pasti melakukannya lagi tanpa sadar. Ayah macam apa aku ini. Kukatakan padanya. "Maukah kau sekali lagi hidup bersamaku? Aku akan mengobati lukamu. Aku berjanji menjadi ayah yang sempurna bagimu." Ia tak ingin menatapku lagi. Sekadar jawaban penolakan pun tak kudengar. Baik. Jika kau tak ingin kuobati, terpaksa aku akan mengobati lukaku sendiri. Sayang, sebelum segalanya terwujud, pria-pria kekar berseragam hitam menggandengku pergi. Katanya, ke balik jeruji.
 

Kisah Stasiun Kereta


Meski langit begitu lesu, aku sedang tak ingin begitu. Seluruhnya tampak bahagia hari ini. Wajah-wajah yang tersenyum menyapa, bahkan hingga tak sanggup kutanya mengapa. Mungkin ini hari gajian atau hari libur? aku tak mau tahu. Orientasi waktu pun tak masuk dalam daftar perhitunganku dua puluh empat jam ini. Kulirik jam besar segaris lurus di atas kepala. Lima lima puluh seperti biasa. Sesaat lagi dalam hitungan menit, akan kusaksikan ia berlari-lari membelah kerumunan menuju tempatku. Kotanya tak pernah menjadi terlalu jauh setiap kami bertemu. Hanya satu hal yang dibawanya pulang. Janji tiba yang tak pernah ingkar. Jam mendentang lurus di angka dua belas dan enam. Kereta biru ini telah berhenti sejak sepuluh menit lalu. Tak mampu pula kutemukan raganya. Mungkin sebentar lagi. Tak apa kau terlambat sekali saja. Asal kau datang seperti biasa. Jam berdentang kesekian kali di angka sembilan dan dua belas. Sudah hampir larut, hingga ayah menjemput. Ia tak sendiri. Ia bersama seseorang berpakaian putih bersih. Ia menggeleng-geleng heran padaku sembari menyuntikkan cairan pada nadiku. Katanya, ini sudah kesekian kalinya. Dasar gila! mana mungkin aku gila. Kekasihku akan datang layaknya biasa, janji hatinya selalu terjaga.  
Lalu, jika begitu, sedang apa dan dimana ia jika tak kembali menemuiku? Aku belum mengerti, meski ayah berulang kali dengan lembutnya berkata "Ia tak akan datang. Ia seperti halnya dirimu. Dirawat di rumah sakit jiwa di kotanya." Seandainya saat itu ayah setuju akan pernikahanku... seandainya.

Thursday, September 20, 2012

Khayalan


Cinderella yang meninggalkan sepatu kacanya, mungkin hanya angan. Tujuh kurcaci mendampingi sang putri lelap pun membekas sebagai impian. Willy Wonka sang raja cokelat tak mungkin meninggalkan ingatan. Kisah-kisah itu tak lekang digerus jaman. Kupikir hidup juga begitu. Akan abadi dalam bahagia. Hari-hari tak terganggu usia. Namun kemana sang pencerita? Nyatanya, ia tak ada, termakan masa. Pergi entah kemana. Saat kuajukan tanya, kakek memberi petunjuk jika ia di surga. Ayah menjelaskan ia di alam berbeda. Ibu dan segala kisahnya pergi. Aku tak mengerti. Benar ia tak dapat kembali? Meski rindu kami tak dapat ditanggung kembali. Ibu hanya menjanjikan kisah. Sempat memiliki menjadi arti. Inikah khayalan?  

Kaca




September ini kau seperti nampak dimana saja. Ditemani embun pada refleksi  kaca jendela. Di cerminan etalase toko. Bahkan kau ada saat kutatap cermin kamar di pagi hari. Siapa dirimu?
Kau hanya diam, meski kuajak sesekali bicara. Kau hanya diam, saat aku bergerak. Kau hanya diam, bahkan saat kupecahkan kaca saat amarah tak terkendali. Yang kau tahu hanya diam. Wajahmu tampak tak setitik pun berbeda denganku. Kutawarkan nomor telepon dengan menempelkan notes bertuliskan nomorku pada cermin. Berharap sepenuh hati agar kau melihatnya. Sungguh, aku ingin sekali bertanya. Siapa dirimu sebenarnya. Kurapatkan telepon genggam pada telinga, dan akhirnya kau bergerak! Tampak di cermin, kau pun melakukan hal yang sama. Kutanyakan, sesungguhnya kau siapa. Kau menjawab datar. “Dirimu. Yang sejujurnya. Tanpa berpura-pura.”

Monday, September 17, 2012

Dinding Abu

Benci seperti memiliki jadwal kunjungan tetap saat itu. Teriakanku entah telah menggema kemana saja. Segala pukulan tanganku pun seperti tak berarti. Ketidakberdayaanku menghalaunya, seperti sia-sia. Ingin kujauhkan ia saja dariku jika bisa. Mereka menertawaiku. Gelaknya terus menerus menyusuri tiap sudut kepala, enggan berpindah. Aku gerah dan lelah.  Merasa kuasa, ia terus mengejekku penuh kemenangan. Tak adil. Mereka memihaknya. Sedang aku hanya seorang tanpa daya. Mereka semestinya merasa beruntung. Jika saja teralis besi ini tak menghalangiku, mungkin mereka telah hancur ditanganku. Berkeping, hingga akhir. Tertawalah, tertawalah! Sakit jiwa dan manusia gila hanya keputusan sepihak mereka padaku. Ia, si dinding abu masih saja menghalangi jalan keluarku.  Memang saat ini semua upayaku seperti percuma. Tapi bisa saja berganti nanti. Ini mungkin akhir baginya. Namun tidak bagiku. Suatu saat aku akan menerobos pergi darimu, dinding abu! Meski seisi rumah sakit ini menertawaiku.


Pertaruhan Matahari



Meski terik mencubit, aku tak gentar bersamanya. Aku hanya tak mampu saat ia tak hadir. Aku seperti kehilangan kemampuan bernapas. Aku kehilangan akal sehat. Bahkan, aku seperti tak ada. Boleh mengajukan satu permintaan, Tuhan? Jangan biarkan ia pergi. Itu saja. Namun ternyata takdir tak bisa kupilih. Ia memilih. Memilihku untuk melalui ini. Dayaku hanya sebatas harapan. Tanpanya, ternyata aku tak ada apa-apanya. Penghujan memutuskan datang hingga penghujung tahun. Matahari positif kalah dalam pertaruhan dan memutuskan cuti hingga kalendar baru dipasangkan. Lantas, hanya karena aku sebuah bayangan, apa aku tak diperbolehkan meminta kehidupan dari sang tuan? Benar kiranya, aku akan hidup kembali di tahun depan.



Ditulis untuk #FF2in1 @nulisbuku

Tuesday, September 11, 2012

Mengejar Maple #FF2in1

 

Musim gugur. Melihat daun memerah, mengering dan jatuh ternyata sungguh luar biasa. Aku tak salah mengangankan impian, rupanya. Mengejar daun maple. Kulihat, ia beranjak lepas dari batangnya. Sejenak dimainkan angin sepoi, tiba di permukaan air dengan anggun hingga mengadakan riak yang menyebar ke penjuru sungai segera. Air tak tinggal diam. Ia dibawanya pergi. 
Daun itu butuh ditemani. Aku berlari sembari mengawasi tubuhnya yang dimainkan arus air. Kuikuti kemana ia pergi. Mungkin hingga aku tak sanggup lagi, atau hingga sungai ini menemukan muaranya. Tidak. Aku tidak hanya menemani daun merah itu. Aku mengejar memori dibalik itu. Kekasihku berjanji datang di tempat ini lima belas tahun lalu. Meski begitu, ia tak datang. Semalam, ia mengatakan padaku impiannya telah dikabulkan Tuhan. Reinkarnasi berjalan lancar. Ia menjadi selembar daun maple. Hidup kembali untuk melakukan perjalanan. Perjalanan tumbuh hingga berakhir di musim dingin. Selamat, sayang.Dan selamat jalan.



Ditulis untuk #FF2in1 @nulisbuku

Lukisan #FF2in1




Langit biru enggan kulukiskan. Padang luas penuh rumput hijau enggan menghendaki dirinya tertampilkan. Ini bukan hal biasa. Mereka selama ini dengan senang hati menawarkan dirinya untuk kulukis. Kadang kutambah domba di padang rumput, maupun awan putih pada langit.
Setelah mencoba, mengalah sepertinya harus menerima afirmasi dariku.
Aku hanya sanggup hingga ini. Palet dan kuas berdentang menabrak lantai. Jatuh dari genggaman. Kanvas kubiarkan kosong. Harapanku agar ia mampu mengisi dirinya sendiri. Entah dengan objek dan warna apa. Ternyata aku hanya sanggup berhenti di kamu, kosong. Tak sanggup lagi kulukis karena Tuhan memutuskan mengambil kembali apa yang ia pinjamkan. Penglihatan. Itu sebabnya mereka tak ingin kulukiskan. Hilang kepercayaan.  



Ditulis untuk #FF2in1 @nulisbuku



Thursday, September 6, 2012

Nenek dan Surat




Senja hampir hilang. Kususuri bangku taman, teduhan pohon rindang, sepanjang jalan, dimana saja . Kemanapun yang kukira benar, ia kuharap disana. Namun tak jua kutemukan. Jingga langit seakan enggan berkawan, meronta ingin pulang. Ibu menelepon menanyakan. Aku menjawab dengan letih. Tak ada. Bahkan payung putih gadingnya tak terlihat.
Anganku berputar cepat. Mungkin ini karenaku. Penyesalan menyelimutiku penuh. 
Tak kusadari selembar kertas itu begitu berarti. Ia benar-benar pergi dengan selembar surat tua itu. Yang kemarin tak sengaja kutemukan di laci kamar. Lembar kusam kekuningan bertuliskan asal. Seorang lelaki tampan pengirimnya. Nenek ingin membuktikan lelaki itu masih setampan empat puluh tahun lalu. Mantan kekasih, yang pergi begitu saja. Aku kagum sungguh akan keberanian dan ketulusannya. Sayang, nenek lupa. Lelaki itu pergi ke surga.