Thursday, October 11, 2012

Cincin dan Dua Cangkir Cokelat


Cokelat panas itu mengepul begitu saja. Seakan uapnya bersatu dengan kabut yang tak pernah gagal datang di halaman muka ini. Senja ini masih saja ditemani dua cangkir. Sengaja, agar cangkirku tak merasa sepi karena hanya ditemani jemari yang tak kunjung mampu melepas logam yang melingkar di jari manis. Kilau keperakan di jariku masih sering kali mengingatkanku padamu. Telah lama kupaksa diri agar tegar melepasmu pergi. Meski perlahan, aku sanggup juga. Namun, sungguh aku tak mampu merelakannya. Entah apakah harus aku memutus urat nadi, agar ia kembali. Kalian sama-sama menjadi tak tahu diri dan tak punya hati. Sungguh, tak tega kusaksikan cokelat panas satu lagi mengepul tanpa pernah ia sesapi, layaknya hari lalu. Mulai esok, tekadku akan bulat sempurna. Kutanam cincin ini di halaman untukmu, dan akan kuwakilkan meminum cokelat ini untuknya. Anak kita. Anak yang kau bawa pergi dengan seorang lain, yang dengan gembiranya ia berkata "Hore, ibu baru!" Namun, aku tetap yakin, kalian akan kembali, entah pada senja keberapa dan cangkir keberapa.

Pertaruhan


Kau sering kali mengatakan. Pertaruhan itu mengasyikkan. Namun, aku tak pernah sungguh-sungguh suka. Hanya untukmu saja. Berpura-pura menjadi biasa bagiku. Asalkan kau katakan itu sempurna, aku sepenuhnya tak meminta apa-apa. Kau angankan dan tuliskan bagaimana pasangan idaman, segera bergegas diriku menuju kesana. Telah biasa kau bermain di pekat gulita malam, diantara kesengajaan redupnya lampu meja pertaruhan. Itu profesimu, aku tahu. Sekali lagi, hatiku setiap kali berkata tak pernah suka. Namun, senyumku tak pernah sedetikpun lenyap menyambut dirimu pulang. Kadang kau lambaikan setumpuk lembar merah berharga itu dari kejauhan dengan paras kejayaan. Namun lebih sering kau pulang dengan kepala tertunduk kesedihan. Katamu ada penyesalan, kekecewaan dan rasa bersalah. Tidak juga ternyata. Esok, esok dan esoknya lagi kau akan kembali semula. Mengulang apa yang seharusnya tak kau ulang.
Kami telah menjelang senja dalam usia saat ini. Pernikahan kami seperti abadi. Dengan pedih, kusaksikan kau berkawan sakit. Saatku sebentar lagi, katamu. Meski begitu, kau berkeras mengendarai mobil bersamaku. Jalan-jalan pamungkas, itu yang kau inginkan. Kesedihan seperti tak sanggup kusimpan lebih lama. Di tengah perjalanan, kau berkata ingin bertaruh untuk terakhir kali. Sebelum sempat kutanyakan apa maksudmu, sembari menyetir, kau keluarkan koin dari sakumu. Trang! lempengan itu jungkir balik di udara. Hap! kau tangkap dengan tangkas hingga menunjukkan garuda di permukaannya. Itu berarti aku kalah. Dan memang aku akan selalu kalah dan mengalah. Kau tekan pedal gas kuat-kuat, kami berhenti tak tepat. Katamu, garuda berarti kau dan aku selalu bersama. Kali ini kau benar, kita pergi bersama menuju sana, meski aku tak pernah suka dengan pertaruhan.