Saturday, December 19, 2015

Menyambung Benang Merah Slamet Abdul Sjukur : Recital Piano oleh Cicilia Yudha

Recital pianis Cicilia Yudha menjadi penutup rangkaian acara Kaleidoskop Pertemuan Musik Surabaya. Tahun 2015 adalah tahun yang cukup emosional bagi PMS. Di awal tahun, PMS kehilangan seorang guru dan inspirator besar, Slamet Abdul Sjukur yang membangun PMS sejak berpuluh tahun lalu. Recital yang menjadi penutup program selama setahun ini pun tanpa sengaja mengambil lokasi di mana PMS pertama kali diselenggarakan di tahun 1957.


Seperti tanpa lelah, rangkaian acara dalam dua hari berturut-turut, 10 dan 11 Desember 2015 lalu tidak membuat Cicilia Yudha kehilangan energi. Sejak siang, ia terlihat tekun berlatih untuk recital malam hari. Membawa semangat "Menyambung Benang Merah Slamet Abdul Sjukur", komposisi-komposisi yang dibawakan di bagian kedua setelah intermission adalah ciptaan dari Dutilleux, yang merupakan guru Slamet Abdul Sjukur, serta komposisi dari SAS sendiri sebagai guru dari Cicilia Yudha. Sedangkan komposisi-komposisi untuk pembukaan dipilih yang memiliki keterikatan kuat secara personal di diri Cicilia. Schubert dan Mozart dipilih untuk dimainkan terlebih dahulu.

Recital dibuka dengan tampilan dari Gema Swaratyagita (piano) dan Samsul Pilot (Gong) yang membawakan "Tuwakatsa", sebuah komposisi karya Gema Swaratyagita berdasarkan permintaan dari Slamet Abdul Sjukur. Karya tersebut pertama kali dibawakan Bulan Juli 2015 saat perayaan ulang tahun ke-80 SAS. Seakan ingin menampilkan nuansa etnik, gong dan piano dimainkan dengan cara yang berbeda. Tak hanya menekan tuts, Gema juga bermain dengan senar-senar di bagian dalam piano. Bahkan ia juga membaca beberapa bait puisi Goethe di sela permainan. Sementara Samsul Pilot mengeksplorasi gong dengan berbagai cara. Memukul, mengetuk, hingga menghasilkan bunyi berbeda dengan kawat yang digesekkan pada gong.

Cicilia Yudha tampil menyejukkan di pembukaan pertama dengan Impromptu Op. 90 No.3 in G-flat Major. Komposisi ini terdengar teduh, menenangkan dan tidak emosional di tangannya. Memiliki keterikatan kuat dengan komposisi ini, Cicilia berkata bahwa ini adalah komposisi pertama yang ia bawakan di Amerika. Sonata in B-Flat Major K.333 milik Mozart dibawakan berikutnya. Keunggulan Cicilia terhadap kerapian menggarap melodi terlihat jelas di sini. Not-not yang dimainkan terdengar bersih dan jelas.

Jeda beberapa saat, recital berganti menggaungkan bunyi-bunyi disonan dari dua karya Dutilleux. Au gre des Ondes dan Blackbird. Sepanjang berbagai variasi yang ditampilkan dalam komposisi ini mengeksplorasi sentuhan-sentuhan lembut ala jazz dari Dutilleux. Penggarapan yang rapi dan sabar oleh Cicilia membuat ragam suasana dari masing-masing movement terasa pada audiens. Sementara Blackbird diciptakan karena terinspirasi oleh Messien yang kental dengan komposisi-komposisi yang mengimitasi suara burung. Komposisi pendek ini menuntut kekayaan warna dari produksi bunyi yang dihasilkan. Dinamika dan kejutan yang ditampilkan merupakan poin menarik bagi audiens.


Dibuka dengan komposisi piano dan gong, acara ditutup pula dengan kedua instrumen tersebut. Untuk pertama kalinya, Cicilia Yudha membawakan karya kontemporer Game-Land No.5 milik Slamet Abdul Sjukur. Seakan ingin mendobrak zona nyamannya sebagai pianis klasik, Cicilia tampil baik. Sungguh-sungguh mengeksplorasi suara, telapak tangan, instrumen kemanak (alat pukul dari logam), piano dan gong, ia mampu menghadirkan keunikan dari seorang SAS. 

Menjadi penutup di rangkaian acara Kaledoskop Akhir Tahun PMS, recital ini menjadi perwujudan langgengnya semangat seorang Slamet Abdul Sjukur yang selalu ingin masyarakat mencintai musik. Semangat yang kiranya terus menular pada benak siapa saja yang ingin meneruskan semangat perjuangannya.



Untuk Rangkaian Acara Kaleidoskop Akhir Tahun PMS,

Nabila Budayana


Thursday, December 17, 2015

Piano Masterclass dan Diskusi Pedagogi oleh Cicilia Yudha

Membawa musik menjadi bahasan pendidikan menjadikan agenda akhir tahun Pertemuan Musik Surabaya menarik untuk diikuti oleh berbagai pelaku di dunia musik. Masterclass hingga ruang diskusi pedagogi musik dihadirkan ke publik Surabaya di Sekolah Musik Melodia dan Balai Pemuda Surabaya, 10 hingga 11 Desember 2015 lalu

Belajar langsung dengan ahli memang tak ingin begitu saja dilewatkan oleh pianis-pianis muda Surabaya. Selalu berhasil meninggalkan impresi positif, partisipan piano masterclass Cicilia Yudha kali ini diisi oleh seluruhnya perempuan. Berusia antara 11 hingga 25 tahun, mereka unjuk kebolehan dan siap menerima masukan dari sang ahli. Beberapa peserta pasif pun tekun mengikuti jalannya kelas.

Masterclass ini menunjukkan bagaimana Cicilia Yudha piawai, hangat dan interaktif dalam menjalin kedekatan dengan murid-muridnya. Sehabis peserta memainkan komposisi yang mereka ajukan, Cicilia tak luput untuk selalu memberi pujian untuk kelebihan-kelebihan yang mereka miliki.

Peserta pertama, Lim Lisa menghadirkan Trois Nocturne op. 9 No 1 milik Chopin. Cicilia menyarankan padanya untuk merapikan detail-detail not yang dimainkan berurutan agar lebih rata. Di samping itu, Cicilia juga menyarankan cara bermain yang lebih bernyanyi pada komposisi tersebut. Masih senada dengan peserta pertama, Calligenia Tenggara yang masih berusia 15 tahun memilih untuk memainkan Chopin Variation Brillantes Op.12. Kali ini Cicilia memberi masukan pada pengaturan pedal, phrasing, hingga ekspresi, agar lebih berani menampilkan komposisi. Peserta ketiga, Ivana Halingkar lebih baik secara teknik. Cicilia meminta peserta untuk menggali lebih dalam tentang komposisi yang ia mainkan. Kesempurnaan teknik mesti disertai dengan produksi suara piano yang berbeda. Lizst dikenal bermain dengan komposisi yang bernuansa "dingin" ingin dibawa ke permukaan oleh Cicilia melalui tangan peserta. Begitu pun dengan himbauan ekspresi yang lebih sungguh-sungguh dalam berbagai kalimat di komposisi. 

Foto oleh Gema Swaratyagita

Pengalaman Cicilia sebagai pengajar terlihat begitu mendukung jalannya masterclass. Ia kerap menggunakan berbagai perumpamaan gerakan benda atau alam untuk menggambarkan apa yang ingin ia sampaikan. Kevina Tenggara memberi impresi melalui nuansa yang berbeda dari Romanian Folk Dances milik Bartok. Komposisi ini tercipta berdasar inspirasi dari kegiatan sehari-hari orang pedesaan di Hungaria. Komposisi ini menjadi berbeda dan memberi warna baru dalam musik di eranya. Permainan peserta disarankan untuk lebih playful, sesuai dengan karakter komposisi. Gerak tubuh yang alami dan menjiwai akan lebih mendukung untuk produksi bunyi yang diinginkan. Manajemen tempo, memperjelas aksen, hingga menerangkan jeda di antara frase menjadi masukan berikutnya. Masterclass ditutup oleh Liv Clementine De Kweldju dengan komposisi Prokofiev, Prelude Op. 12 No.7. Gadis sebelas tahun ini memiliki kemampuan yang mumpuni. Cicilia memberi masukan secara lebih dalam tentang fisiologis tubuh dan tangan ketika bermain demi kebaikan jangka panjang pianis muda ini. 

Saling berkaitan, diskusi pedagogi musik juga diikuti oleh audiens yang ingin memperdalam tentang bagaimana teknik mengajar musik dengan efektif. Cicilia membagikan pengalaman beserta tips dan solusi untuk mengatasi kendala dalam pengajaran. Ia menegaskan bahwa fondasi dari setiap anak yang mulai belajar bermain musik berada di tangan pengajar. Mengajar di conservatory, membuat Cicilia mengalami banyak pengalaman dalam proses mengajar berbagai karakter anak dengan rentang kemampuan bermusik yang berbeda. Untuk memperluas cakrawala pengajarannya, Cicilia bahkan tidak segan untuk memilih mengajar di sekolah umum dengan kemampuan anak yang cenderung beragam, ketimbang mengajar anak dengan kemampuan bermusik yang telah berada di atas rata-rata bahkan ketika masih di usia muda. Hal mendasar yang mengingatkan kita adalah di Indonesia, kebanyakan orang menilai bahwa musik adalah hiburan, bukan bentuk kebudayaan. Padahal, musik sama saja dengan disiplin ilmu yang lain. Akar permasalahannya berasal dari pertanyaan apakah masyarakat menganggap musik sebagai hiburan, atau sebuah kebutuhan.

Di Amerika Serikat, musik adalah mata pelajaran wajib di tingkat sekolah dasar hingga menengah. Sementara itu, banyak negara lain yang telah menyadari betapa pentingnya memberikan mata pelajaran musik bagi anak-anak. seperti Hungaria yang memahami bahwa dengan mempelajari musik, siswa akan menjadi lebih cerdas dan sehat. 

"Semua orang tidak menjadi pianis di panggung, namun setidaknya masing-masing mereka mampu menghargai musik."

Sama halnya seperti Matematika, musik adalah salah satu cabang ilmu. Cara kita mengajar adalah refleksi cara kita belajar. Maka dari itu, proses belajar tak bisa begitu saja diremehkan. Bagi Cicilia, bermain musik memang seharusnya berbobot, bukan hanya sekadar main-main saja. Namun, musik tetap merupakan sesuatu yang mesti dinikmati. Tak jarang Cicilia menemukan bakat-bakat di usia muda yang bersinar sangat terang, kemudian menghilang. Dari hal tersebut, perlu disadari bahwa di atas kemampuan bermusik yang sempurna, mestinya ada motivasi bagaimana menumbuhkan ketertarikan yang berkelanjutan. 

"Practice doesn't make perfect, it makes habit."

Cicilia memberikan pemahaman dasar bahwa dalam mengajar, seorang guru mestinya bukan hanya mengajar untuk memainkan piano, namun untuk membiasakan murid displin berlatih meski tanpa pengawasan guru. Perencanaan dalam setiap proses pengajaran juga sangat berperan penting. Mengatasi kejenuhan dari pembelajaran di satu bagian, dapat diakali dengan mengalihkan objek pembelajaran ke lagu lain, namun dengan topik yang sama. Misalnya, murid mengalami kesusahan di bagian triplet di komposisi A dan mengalami jenuh, coba arahkan pada triplet di komposisi B. 

Kejelian untuk mengajar pun diperlukan. Di tiap repertoar ada patokan yang tidak boleh dimainkan sembarangan. Sebelum mengajar, coba bandingkan detail repertoar dengan mengecek edisi yang berbeda. Teknologi adalah salah satu sarana yang memudahkan murid dalam belajar musik. Literatur-literatur musik banyak tersedia di internet. Salah satu trik untuk membangun kepercayaan diri murid adalah dengan mengajaknya tampil bersama guru, atau pemain musik lain agar murid terbiasa untuk bersosialisasi dan menghilangkan kesan bahwa bermain piano adalah kegiatan individual. Guru bukan makhluk sempurna. Lakukan koreksi diri dengan menonton rekaman ketika mengajar untuk perbaikan di masa depan. Rendah hati, terbuka dengan berbagai sudut pandang, juga kreatif adalah syarat yang tak bisa begitu saja ditinggalkan untuk menjadi seorang pengajar musik. 

Menjadi seorang guru dan murid adalah keseharian sebagai manusia. Cicilia membawa semangat yang Slamet Abdul Sjukur tunjukkan. Hingga akhir hidupnya, beliau selalu mencintai hal-hal baru yang membuat semangat belajar dan bertumbuhnya tak pernah padam. 



Untuk rangkaian acara Kaleidoskop Akhir Tahun PMS, 

Nabila Budayana

Sunday, December 13, 2015

Menjelajah Musik dari Zaman ke Zaman bersama Cicilia Yudha

2015 diakhiri dengan agenda akhir tahun yang istimewa oleh Pertemuan Musik Surabaya. Berbeda dari biasanya, PMS kali ini menghadirkan rangkaian acara selama dua hari bersama Pianist dan Music Educator yang bermukim di Amerika, Cicilia Yudha. Secara khusus ia menyempatkan diri untuk hadir di Surabaya dan berbagi pengetahuannya tentang musik dan pendidikan musik. Selain menjadi seorang piano performer dan pendidik di Dana School of Music Youngstown State University, ia juga meraih begitu banyak penghargaan dan aktif untuk bermain dalam orkestra, chamber maupun solo. 

Rangkaian acara PMS dimulai dengan Seminar Interpretasi Musik dari Zaman ke Zaman. Mengambil tempat di salah satu ruang di sekolah musik Melodia Surabaya, forum kecil itu terasa hangat dengan sekitar 20 orang partisipan. Ditemani sebuah piano upright dan sebuah LCD, Cicilia menjabarkan tentang bagaimana musik berkembang dari masa ke masa. Tampilan dan kesederhanaan Cicilia terlihat dari bagaimana ia membawa diri. Senyum dan interaksi hangat dengan audiens nyaris selalu ia lontarkan. Sesekali bahkan ia tak segan untuk meminta bantuan dari audiens jika tak menemukan padanan kata dalam Bahasa Indonesia yang ia maksudkan. Maklum, sejak usia 15 tahun, Cicilia telah mendapat beasiswa ke Amerika untuk melanjutkan pendidikan musiknya. Namun yang patut diapresiasi adalah ia sebisa mungkin berbicara dalam Bahasa Indonesia tanpa campuran Bahasa Inggris. Sehingga audiens merasa nyaman mendengarnya dalam memberi penjelasan panjang lebar. 

Darah musik sudah ada pada diri Cicilia bahkan semenjak ia dalam kandungan Sang Ibu. Profesi guru piano yang ditekuni oleh ibunya menjadikan Cicilia terbiasa untuk mendengar dan mengenal musik sejak usia awal hidupnya. Di usia 13 tahun, ia diterima untuk belajar di Yayasan Pendidikan Musik bersama pioneer pianist perempuan Indonesia, Ibu Iravati M Sudiarso. Terinspirasi Iravati, Cicilia pun mengejar impiannya dan berhasil mendapat beasiswa ke luar negeri di usia 15 tahun. 

Nama Slamet Abdul Sjukur lah yang membawa Cicilia sejauh ini untuk datang ke Indonesia. Mengenal Pak SAS sejak usia 10 tahun, Cicilia belum mengerti benar kebesaran nama seorang SAS. Bertahun-tahun kemudian ketika bertemu dengan beliau di Jakarta, Cicilia diminta secara khusus oleh SAS untuk memainkan sebuah komposisi musik kontemporer ciptaannya. Hal itu yang membawanya kembali kemari. Untuk berbagi ilmu dan pengalaman bermusik melalui Pertemuan Musik Surabaya, sebuah organisasi nirlaba yang didirikan oleh SAS sejak 1957. Di awal seminar, Cicilia bahkan menyampaikan rasa hormatnya pada SAS dan bahwa jiwa semangat memasyarakatkan musik milik SAS masih terasa hadir, mewujud di berbagai acara PMS. 

Masuk ke dalam materi musik dari zaman ke zaman, Cicilia mengawali dengan pertanyaan apa itu musik klasik. Selama ini, label "musik klasik" adalah sebuah terminologi yang keliru. Klasik sesungguhnya merujuk pada salah satu fase zaman perkembangan musik di pertengahan abad 18. Diduga, penyebutan musik klasik karena kata "klasik" diartikan sebagai sesuatu yang mampu bertahan melawan arus waktu karena keistimewaannya. Misalnya saja komposisi-komposisi milik Bach dan Beethoven yang masih terus dimainkan hingga saat ini. Lantas, bagaimana cara mengapresiasi musik klasik? Cicilia mengungkapkan bahwa ada beberapa hal yang mesti diperhatikan. Misalnya saja pendengar mesti mempelajari sejarah musik, juga melatih daya pendengaran agar tak hanya menjadi kegiatan pasif namun juga aktif. Kedua hal tersebut berkesinambungan satu sama lain. Dalam catatan, meski interpretasi musik bersifat sangat subjektif, namun hal tersebut perlu dilatih untuk dapat berkembang. 

Era musik klasik dimulai dari abad 17 (sekitar tahun 1600-an) Masehi di negara-negara Eropa seperti Jerman, Prancis, Inggris dan Austria yang juga disebut sebagai musik middle ages. Bach, seorang komposer Jerman yang membuat sejarah awal di dunia musik, sehingga karya-karyanya menjadi dasar untuk pengajaran musik hingga saat ini. Di masa Barok, musik kebanyakan dimainkan di dalam gereja. Musik di zaman tersebut begitu identik dengan karakter seni di masanya. Misalnya saja dalam seni arsitektur bangunan, bentuk katedral yang ada bersifat megah dan simetris sempurna. Musik dimainkan di setiap katedral yang ada di tiap kota. Setiap minggu, Bach mesti menulis Cantata untuk pelayanan di gereja. Kaum bangsawan lah yang bertanggungjawab untuk menghadirkan segala seni pada saat itu. Tarian dan pertunjukan di zaman Barok pun sangat khas. Terkesan kaku, teratur dan tertata. Dalam komposisi musik, biasanya komposisi yang berjudul Menuet ataupun Bouree terinspirasi dari tarian Barok. 

Di masa akhir hidup Bach, musik era klasik dipelopori oleh beberapa komposer tersohor seperti Haydn dan Beethoven. Vienna menjadi pusat musik dunia. Yang membedakan era Barok dan Klasik adalah ornamen yang jauh berkurang di era klasik, ciri khas Barok yang polyphonic digantikan oleh karakter komposisi yang lebih halus seiring dengan berkembangnya instrumen piano, juga kesempurnaan budaya. Penikmat musik pun mulai bergeser. Berbeda dengan zaman Barok, di mana musik hanya dinikmati di gereja dan di antara para bangsawan, di masa klasik musik sudah mulai berkembang. Rakyat biasa bahkan sudah memiliki akses ke partitur komposisi. Opera diadakan sebagai bentuk seni baru. Musik dan sastra pun berhubungan erat sebagai bentuk seni ekspresi. Komposer Schubert juga menjadi raja melodi di puncak zaman Klasik. 

Dalam transisi zaman Klasik menjadi Romantik, Beethoven yang visioner telah menciptakan not-not yang lebih rendah dari yang ada di saat itu. Di zamannya, harpsichord di zaman Barok yang memiliki 49 kunci telah berkembang menjadi 73 kunci. Hingga menjadi 88 kunci sesuai dengan yang kita gunakan saat ini. Muncul kemudian seorang Chopin, seorang komposer asal Polandia yang terpaksa mengungsi ke Prancis ketika negaranya mengalami peperangan dengan Rusia. Ciri khas komposisi Chopin tidak jauh dari melankoli dan nasionalisme. Tchaikovsky pun meneruskan semangat Schubert. Ragam seni lain juga berkembang. Ballet, misalnya. Begitu berbeda dengan tarian Barok dari segi kostum yang begitu tetutup hingga mata kaki dengan gerakan yang cenderung kaku, Ballet hadir dengan kondisi berlawanan. Gerakan mendayu, variatif dan kostum yang bahkan memperlihatkan jenjang kaki penari. Anggapan bahwa musik klasik selalu serius, rasanya kurang tepat. Buktinya, di era ini, opera komedi banyak bermunculan. 

Di akhir romantik menyambut era modern, sekitar penghujung abad 19, musik Jerman berada di puncak ketenaran. Tekstur komposisi pun berkembang menjadi lebih tebal karena jumlah personel orkestra juga semakin besar. Dimisalkan dengan komposisi Die Walkure Prelude milik Richard Wagner yang tebal dan berat. Di masa itu, Debussy dan beberapa komposer lainnya merasa muak dengan dengan berbagai aturan dari komposisi musik Jerman. Banyak pula seniman yang sependapat dengan Debussy dan ingin kembali membawa nuansa zaman klasik Yunani yang kental dengan simbolisme ke dalam karya-karya mereka. Tahun 1899 adalah masa bersejarah bagi Debussy. Untuk pertama kalinya di sebuah world exhibition, ia mendengar Gamelan Jawa yang dimainkan oleh beberapa orang Indonesia yang bekerja di perkebunan teh kekuasaan Belanda. Bunyi pentatonik dengan interval beda yang berulang dari gamelan membawa Debussy pada sebuah inspirasi warna musik baru. Saat itu menjadi keterikatan awal Debussy dengan Gamelan. Debussy menciptakan lompatan besar dalam dunia musik, karena setelah eranya, komposisi-komposisi musik menjadi bebas, tidak bisa lagi ditebak akan berbentuk seperti apa. 

Ialah Arnold Schoenberg yang mengisi dunia musik di akhir 1800-an hingga pertengahan 1900. Ia dikenal eksentrik karena menyusun komposisi tanpa tangga nada sehingga bunyi begitu disonan, meski terasa bersih dan transparan. Musik kamar mengalami perkembangan dengan adanya viola dan cello, bahkan alat musik tiup. Komposer Rusia, Igor Stravinsky juga berada di zaman ini. Ia begitu dikenal dan kontroversial dengan karyanya yang mendobrak norma budaya di masanya, Le Sacre du Printemps. Bermunculan juga nama-nama tersohor seperti Tchaikovsky.

Musik modern mendapat sumbangan besar dari seorang Olivier Messien (1908-1992) yang banyak menciptakan komposisi musiknya dari berbagai jenis cuitan burung-burung. Di saat ini pula, piano sudah mampu menjadi alat musik yang mampu mengimitasi bunyi alat musik lainnya. Berbeda dengan Robert Casadesus yang menyusun komposisi dengan mencampurkan mayor dan minor. Ia juga memasukkan nuansa Andalusia karena masih memiliki darah keturunan di dirinya. Kemudian, musik menjadi begitu bebas dan luas. Di Venezuela, Leonard Bernstein, seorang komposer, konduktor dan pianis menciptakan komposisi Mambo yang begitu rancak.

Akhir abad 20, konsep mendengar musik ditantang untuk eksplorasi yang lebih luas. John Cage hadir dengan Prepared Piano-nya yang begitu unik. Ia menggabungkan banyak peralatan sehari-hari untuk membuat musik, bahkan memasang berbagai objek di antara senar pianonya demi menghasilkan bunyi yang berbeda. Baginya, bunyi tidak perlu diinterpretasi. Ada pula Lou Harrison yang bekerja sama dengan John Cage untuk menciptakan pementasan Double Music. Harrison bahkan berguru pada seorang seniman Indonesia asal Yogyakarta, Pak Cokro (Tjokrowarsito). Musik kembali mengalami perkembangan oleh Steve Reich. Ia mengusung musik minimalism dengan hadir di tengah panggung hanya berbekal tape (pemutar kaset) dan soundboard. Gyorgi Ligeti asal Hungaria juga memimpin dalam inovasi musik kontemporer, ia menciptakan musik dengan hitungan Matematika dan memperkenalkan teknik micropolyphony.

Ialah Slamet Abdul Sjukur yang menjadi komposer musik kontemporer Indonesia legendaris. Belajar dari Messien dan Deutileux, SAS membawa impresionisme Jawa ke Prancis. Meski lama belajar di Prancis, namun SAS memiliki ekspresinya sendiri dalam bermusik. Ia membuka kembali koneksi musik Indonesia dengan Prancis dan membawa kembali ke penikmat dan pelaku seni musik Indonesia. Karyanya yang tersohor, Game-Land 5 dimainkan pertama kali oleh seorang pianist Prancis, Nicholas Stavy dan sempat dipentaskan di Indonesia. Cicilia Yudha pun membawakannya untuk pertama kali di Balai Pemuda Surabaya.

Menikmati musik dapat membawa kita melintasi zaman, Cicilia menegaskan itu sebagai keistimewaan tersendiri. Dalam bermusik dan menikmati musik, kita mesti memiliki cakrawala luas dan keterbukaan untuk selalu mampu menerima hal baru, seiring dengan inovasi manusia terhadap musik dan bunyi.



Untuk rangkaian acara Kaleidoskop akhir tahun PMS,

Nabila Budayana

Friday, November 27, 2015

Goodreads Surabaya : Perempuan dan Literasi bersama Sirikit Syah

Banyak yang menarik dari seorang Sirikit Syah. Kiprahnya di bidang jurnalistik dan kesusastraan yang telah dijalani begitu lama membuatnya menjadi tokoh yang menarik dengan banyak inspirasi. Tanggal 22 November 2015 lalu, Goodreads Indonesia regional Surabaya mendapat kehormatan untuk berdiskusi langsung dengan beliau.

Mengajukan tiga tema sebelumnya, Sirikit memutuskan untuk merangkum ketiga tema tersebut dalam Perempuan dan Literasi yang menggambarkan karier beliau secara keseluruhan, baik dalam bidang jurnalistik maupun literasi. Sesungguhnya, tema kali ini agak terlalu luas. Namun justru menjadi menarik karena audiens bebas menanyakan apa saja dan bagaimana Sirikit menempatkan diri dalam berpendapat dan memandang berbagai hal, terutama terkait dengan beliau yang vokal dan tajam dalam mengupas sesuatu.

Foto oleh Lina Handriyani

Bukan hanya pada karyanya, kesan perempuan dengan pendirian kuat dan daya juang tinggi juga melekat di diri seorang Sirikit Syah. Hal itu tergambarkan melalui bagaimana pilihan-pilihan hidup yang beliau ambil dalam kisah perjalanan hidupnya. Sirikit pun tak segan mengakui kesalahan-kesalahannya dalam mengambil keputusan besar ketika dihadapkan dengan berbagai pilihan. Seperti ketika beliau mesti memilih antara berangkat untuk pertukaran pemuda ke luar negeri atau bekerja. Juga menolak tawaran menjadi dosen dari sastrawan senior, Budi Darma dan memilih bekerja di Surabaya Post. Namun lebih banyak keputusan yang beliau tak sesali. Memutuskan untuk berhenti bekerja karena enggan untuk terlibat dalam politik uang, misalnya. Beliau berharap bahwa ini mampu menjadi bahan pembelajaran pada kaum muda untuk lebih bijak dan matang dalam mengambil keputusan.

Karier seorang Sirikit Syah dimulai ketika beliau lulus dari perguruan tinggi IKIP Surabaya dengan major Pendidikan Sastra Inggris. Pernah menjadi wartawan di harian Surabaya Post hingga The Brunei Times, juga menjalani tahun-tahun panjang jenjang karier di media pertelevisian seperti SCTV dan RCTI membuatnya banjir pengalaman. Kejadian di dunia media suatu kali mengusik kepalanya. Beliau berpendapat bahwa belakangan media sudah terlalu bebas dan sarkas. Ingin menunjukkan jurnalisme damai, beliau memutuskan untuk membentuk Media Watch, sebuah lembaga konsumen media. Beliau juga melatih ratusan jurnalis dari banyak wilayah di Indonesia untuk menulis dengan lebih berimbang. Jika mesti membandingkan antara media cetak dan media televisi, Sirikit Syah lebih nyaman untuk menulis di koran. Baginya, media televisi terlalu sempit untuk mengutarakan sesuatu. Sedangkan di koran, gagasan dapat dibaca secara utuh oleh khalayak. 

Erat kaitan dengan perempuan, Sirikit Syah sangat optimis dengan penulis-penulis perempuan di Indonesia saat ini. Baginya, penulis perempuan di Indonesia telah mendapat kedudukan yang baik sekali. Secara kuantitas, menurutnya lebih banyak penulis perempuan saat ini. Dari sisi kualitas pun hampir sama antara perempuan dan laki-laki. Sebagai contoh, ia mengaku menyukai karya dan diksi dari juniornya, Dee, yang indah. Sirikit Syah pun optimis terhadap dunia sastra Indonesia ke depan. Baginya, keunggulan sastra Indonesia ada pada keberagaman hal yang bisa diangkat. Menjawab pertanyaan tentang bagaimana memisahkan jurnalistik dan sastra, beliau berkata bahwa menulis fiksi semestinya membebaskan. Dalam karya fiksi, penulis bisa merasa bebas, mampu membela diri, meski karya tersebut diangkat dari fakta-fakta yang didramatisir. Baginya, eksplorasi dalam sastra oleh penulis sebaiknya bersifat bebas dan "liar". Karena sastra adalah medium untuk menjangkau banyak orang, dengan simbolisme, dengan majas. Sastra harus mampu menyentuh banyak hati. Sementara dalam jurnalistik mesti ada sifat ketepatan dan real. Menjembatani antara sastra dan jurnalistik, terdapat jurnalisme sastrawi dapat digunakan untuk menulis feature.

Dalam kumpulan cerita pendeknya yang berjudul Harga Perempuan. Sirikit Syah banyak menampilkan sudut pandang tokoh perempuan yang memiliki karakter tersendiri. Karakter perempuan dalam kumcer tersebut berbeda dari karakter-karakter perempuan dalam fiksi yang ada saat itu. Salah satu yang menjadi inspirasinya adalah sosok perempuan tangguh yang ditampilkan Pram dalam Bumi Manusia. Diary Anne Frank, kisah seorang anak perempuan dalam setting Holocaust lah yang membawa Sirikit Syah untuk menulis sastra secara serius di masa mudanya. Berbicara tentang perempuan, pertanyaan menarik datang dari seorang audiens tentang feminisme. Menjadi sebuah kata yang bermakna sangat subjektif, Sirikit memberikan pandangan dirinya terhadap makna feminisme dengan mengambil contoh rumah tangganya. Baginya, kesuksesan seorang perempuan tergantung pada bagaimana ia memilih pasangan hidup yang tepat. Beliau membiarkan laki-laki sebagai seorang pemimpin. Sang Suami berhak memutuskan apa saja dalam keluarga. Dalam tubuh manusia, ia adalah kepala. Namun, Sirikit bertutur bahwa perempuan adalah leher. Kepala boleh saja memiliki keputusan. Tapi, kepala tak akan bisa bergerak ketika leher tak mengizinkan. Baginya, dalam mendampingi perempuan, laki-laki mampu memimpin dengan berjalan di depannya, bisa menjaga dengan berjalan di belakang, namun lebih sering berada di samping untuk menemani.

Memiliki karier panjang dalam dunia penulisan jurnalistik dan sastra, Sirikit Syah membagi pesan substansial pada generasi muda.

"Open your eyes, your ears, your mind, and your heart."

Beliau seakan mengingatkan kembali bakat-bakat muda yang terlalu sibuk menggali pernik-pernik di permukaan. Bahwa kepekaan sosial adalah modal dasar dalam kepengarangan. Sirikit Syah juga membuktikan dengan perjalanan kariernya, bahwa perempuan dengan keistimewaannya selalu memiliki ruang tersendiri dalam ranah literasi.


Foto oleh Lina Handriyani


Sunday, November 8, 2015

Concert de Piano : Pascal & Ami Roge

Setelah mendapat sambutan baik di Jakarta, Pascal Roge dan Ami Roge akhirnya hadir di Surabaya. Di hari ke-empat November 2015, IFI Surabaya bersama Diapason Music mendatangkan pasangan pianis ini ke Ballroom Sheraton Hotel yang berhasil menarik perhatian begitu banyak audiens yang antusias. Bahkan pintu masuk tetap dibuka untuk menampung audiens yang terlambat datang dan terpaksa berdiri untuk menonton pertunjukan.

Membawa semangat Negeri Eiffel bersama duo pianis ini, ditampilkan berbagai komposisi ciptaan komposer-komposer Prancis yang tersohor seperti Claude Debussy, Erik Satie, Maurice Ravel, Igor Stravinsky, dan Henri Dutilleux. Meski begitu, Pasangan Roge juga ingin menunjukkan penghargaan mereka pada komposer Indonesia. Karya Slamet Abdul Sjukur dan Trisutji Kamal yang memiliki keterikatan khusus dengan Prancis turut dibawakan.

Kali ini sang performer tak langsung tampil. Pertunjukan dibuka dengan penampilan secara bergilir beberapa anak yang mengikuti masterclass Pascal dan Ami Roge. Anak-anak Surabaya usia 9 hingga 13 tahun ini menampilan berbagai komposisi. Liszt hingga Debussy. Ini menjadi menarik karena mereka menjadi penampil pembuka dari performer utama. Ketujuh bakat baru ini memiliki kualitas penampilan yang luar biasa. Di usia belia, mereka telah berhasil menaklukkan komposisi-komposisi dengan teknik tinggi. Beberapa dari mereka menonjol dengan kemampuan komunikasi emosional dengan audiens melalui karya yang mereka mainkan. Jonathan Inkirawang dan Sally Yapto mengagumkan dan begitu menikmati waktu mereka di atas panggung. Mereka seakan telah siap untuk menjadi performer andal masa depan.

Ballroom semakin penuh ketika Pascal dan Ami Roge tampil. Bersama, mereka membawakan Petite Suite piano duet dari Debussy. Pilihan ini cukup mengejutkan. Alih-alih membuka konser dengan komposisi yang menuntut show-off  berbagai teknik dengan menggebu, kali ini justru dibuka dengan movement En Bateu yang bright, tenang dan mengalir. Komposisi yang didominasi Andantino dan Moderato ini baru menampilkan melodi-melodi cepat Allegro di movement terakhir, Ballet. Komposisi ini memang pendek, sederhana dan mudah dicerna. Debussy sengaja menciptakannya untuk pianis amatir, berlawanan dengan karya modern lain yang ia ciptakan.

Pascal Roge kembali seorang diri untuk menampilkan karya tersohor milik Satie, Gymnopedie 1. Frase awal yang familiar memikat audiens dan seketika mengudarakan atmosfer sepi dan muram. Komposisi ini konon terinspirasi dari novel historical karya sastrawan Prancis Gustave Flaubert, Salammbo. Tak seperti ketika menulis Madam Bovary, Flaubert banyak dipandang aneh di buku ini. Nuansa epic itu pun terlihat pada Gymnopedie dengan melodi-melodi yang tak terduga khas Satie. Pascal kemudian menyajikan time-line waktu penciptaan komposisi yang berurutan terhadap karya Satie. Gnossiennes 5 yang masih bertempo lambat namun banyak menampilkan hitungan yang tak terduga ditampilkan jelas oleh Pascal. Pemilihan Satie dalam daftar karya yang ditampilkan memang menjadi menarik, mengingat karakteristik Satie yang unik.

Photo by : Vincent Jose

Audiens kemudian dibawa ke nuansa yang berbeda dengan running-running notes dan legato Sonatine milik Ravel. Petualangan berikutnya ini membawa pada suasana elegan dan klasik dengan virtuoso dari Pascal Roge. Emosi yang tak berlebihan dan kejernihan dalam penyampaian membuat komposisi ini nyaman untuk dinikmati. Modere, Movement de Menuet dan Anime digarap rapi dan baik oleh Pascal. L'adoration de la Terre milik Stravinsky mendapat giliran berikutnya. Audiens diboyong ke suasana Rusia dengan dinamika yang menegangkan dan kental dengan bunyi disonan. Tak dihadirkan dengan bantuan string, ketegangan di komposisi ini sesungguhnya berpotensi minim grande. Namun ambiance ketegasan dan kesuraman tentang pengorbanan seorang perempuan masih terasa lekat. 

Jeda sejenak sebelum komposisi berikutnya ditampilkan, cukup banyak penonton yang tak ingin meninggalkan kursinya. Suhu dingin ballroom tak membuat mereka kehilangan antusiasme untuk mengikuti pertunjukan hingga usai. Ketika akhirnya performer kembali ke panggung, Pascal dan Ami Roge sempat berkisah singkat bahwa komposer Prancis begitu banyak yang terpengaruh dengan Gamelan Indonesia. Oleh karena itu, setelah dibawa ke beragam warna komposisi Prancis sebelum intermession, Gunung Agung Act 1 Joy of Life milik Trisutji Kamal yang bernuansa khas Indonesia dibawakan. Meski tak mengajak kolaborasi I Ketut Budiyasa seperti pada konser di Jakarta, namun Pascal dan Ami tak membuatnya terlihat timpang. Komposisi ini tetap termainkan dengan nuansa pentatonik yang menarik. Duo pianis ini juga mengajak audiens untuk mengenang Slamet Abdul Sjukur. Komposisi Tobor : Tiring ditampilkan oleh Ami Roge. Karya ini seakan mengingatkan bahwa Indonesia benar-benar kehilangan seorang komposer besar dengan warisan karya-karya yang mendunia. Hal minor yang menarik dari pasangan suami istri ini adalah keterikatan emosi mereka yang sangat terlihat. Ketika Ami memainkan Tobor, Pascal dengan setia memilih untuk duduk di tepi panggung dengan membiarkan kakinya menggantung. Selama karya dimainkan, ia menunduk, meresapi permainan sang istri dalam-dalam.

Yang spesial, karya dari Henri Dutilleux yang merupakan guru dari Slamet Abdul Sjukur turut dibawakan. Semakin spesifik, Resonance ciptaan Dutilleux ini hanya bisa dimainkan oleh Pascal Roge, mengingat komposisi ini diciptakan secara khusus untuknya. Ketenangan Pascal dalam bermain memang mengagumkan. Bergantian, Ami memilih untuk duduk di antara kursi penonton. Ia mendengarkan dengan serius harmoni-harmoni yang diciptakan sang suami.  

Menjelang akhir, Debussy dan Ravel sengaja dipilih untuk meninggalkan kesan Prancis pada audiens. Sebelum memainkan keduanya, Pascal mengatakan bahwa kedua komposer ini baginya adalah dua komposer terhebat dalam ranah musik klasik Prancis. Mereka menentukan keistimewaan warna musik Prancis. Ia pun bercanda bahwa untuk menentukan siapa yang terbaik, audiens hanya perlu mendengarnya dan menentukan pilihannya masing-masing. Berkewarganegaraan dan hidup di zaman yang sama, pun sama-sama disebut mengusung musik impresionis, tak heran banyak yang membandingkan Debussy dan Ravel. 4 Preludes milik Debussy terpilih untuk dibawakan lebih dulu. Voiles membuat audiens terlempar kembali ke ketenangan dengan banyak ruang imajinasi di antara frase. Le Vent dans la Plaine dan La Fille aux Cheveux de Lin yang lebih dinamis menaikkan dinamika emosional audiens dengan permainan yang tenang namun dinamis. Tetap terkontrol, Minstrels menjadi puncak dengan dinamika yang lebih tajam dengan forte dan arpeggio yang kerap muncul.       

Pemilihan komposisi terakhir ciptaan Ravel yang justru erat dengan nuansa Spanyol, Rapsodie Espagnole empat tangan menjadi karya terakhir dalam daftar. Tema yang terus berulang berpotensi menimbulkan kemonotonan. Meski begitu heningnya malam hari terasa di movement pertama, Prelude a la nuit. Nuansa rancak Spanyol mulai terlihat di Malaguenas. Movement singkat ini seakan memperlihatkan penari Flamenco yang mulai berdansa. Audiens kembali melambatkan mood dengan diberikan Habanera, sebelum akhirnya ditutup dengan Feria yang sangat hidup dan ramai. Begitu komposisi berakhir, selain tepuk tangan panjang, duo pianis Roge juga menerima hujan apresiasi berbentuk karangan bunga dan kado dari peserta masterclass mereka. Mereka mengaku begitu tersentuh dengan segala bentuk penghargaan tersebut. Kekaguman mereka pun tercurah untuk kualitas bakat-bakat baru musisi klasik Surabaya yang melebihi ekspektasi. Interaksi manis suami-istri ini pun terlihat melalui beberapa hal kecil. Selain selalu menggandeng tangan sang istri setiap kali turun panggung, hal serupa pun terjadi ketika Ami sedang berbicara pada penonton dan tampak kerepotan dengan kado dan karangan bunga yang memenuhi tangannya, dengan sabar Pascal mengambilnya satu per satu dan memindahkannya ke panggung. Tanpa berlama-lama, duo pianis ini memberikan encore pendek ciptaan Colin McPhee, seorang komposer asal Canada yang tekun mengeksplorasi Gamelan Bali.

Photo by Vincent Jose

Pascal dan Ami Roge meninggalkan kesan dengan menjadi penampil yang tak emosional berlebihan. Gerakan yang efisien dan rapi juga menjadi referensi simplicity dalam performa musik klasik. Duo ini seakan membiarkan komposisi yang mereka mainkan menjadi indah dengan sendirinya. Pertunjukan pun telah direncanakan matang dengan pemilihan komposisi dan urutan yang menyenangkan. Sebagian besar waktu penyajian yang tak terlalu panjang membuat audiens mudah menerima dan tak terkesan melelahkan. Komunikasi yang terbangun selaras di antara duo ini pun membentuk kepaduan yang menyenangkan untuk komposisi-komposisi piano empat tangan, serta keseluruhan pertunjukan. 


Friday, November 6, 2015

Pencarian Bunyi Baru oleh Piet Hein

Ketertarikan Piet Hein akan Indonesia masih kental dengan bukti kembalinya ia untuk mengeksplorasi bunyi. Sound Adventures, pengalamannya menggali bunyi di tahun 2014 lalu mendapat tanggapan yang cukup memuaskan.

Piet Hein, yang sempat menjadi produser acara radio di Belanda selama 35 tahun, di masa pensiunnya memilih untuk kembali menjelajah dan mengeksplorasi musik dan budaya Indonesia. Namun ia kembali dengan misi yang cukup berbeda kali ini. Tahun lalu, ia menyelenggarakan Sound Adventures, sebuah program yang bertujuan untuk menemukan bunyi baru dari perluasan penggunaan instrumen musik. Misalnya piano yang dimainkan dengan cara berbeda dari biasanya. Seperti meletakkan objek-objek tertentu di atas senar dengan tujuan produksi suara yang berbeda. Berkaca dari tahun sebelumnya, tahun ini Piet Hein memutuskan untuk mengusung sebuah misi baru : New Sounds Adventures. Meski kurang lebih serupa dengan tahun sebelumnya, namun program tahun ini ingin lebih mengutamakan kebaruan dari berbagai sisi. Ia tak hanya fokus mencari bunyi baru, namun juga bentuk instrumen. Dalam hal ini, Piet Hein mengutamakan adanya instrumen-instrumen baru di luar instrumen musik biasanya demi terciptanya sebuah komposisi bunyi yang berbeda. 

Meski baru dimulai Januari 2016 mendatang, Piet Hein saat ini mulai mendatangi berbagai kota demi menemukan bibit-bibit seniman yang tertarik untuk mengembangkan dirinya pada suatu bentuk bunyi baru. Bersama rekannya, Roderik The Man, ia akan memberikan pelatihan untuk perjalanan menemukan bunyi tersebut. Pelatihan akan meliputi beberapa tahapan, diawali dengan proses pencarian instrumen dan bunyi baru, mengkatalog bunyi-bunyi yang didapatkan, berlatih untuk membentuk sebuah komposisi, memadukan komposisi tersebut dengan komposisi lain dalam pertunjukan besar, serta mengevaluasinya. Tujuan besar dari pada proses-proses tersebut adalah untuk membangun kepedulian terhadap bunyi.  

Mendukung misi tersebut, Pertemuan Musik Surabaya 2 November 2015 lalu mendatangkan Piet Hein untuk berbicara langsung pada mahasiswa jurusan Sendratasik UNESA dan khalayak umum. Bertempat di salah satu ruang kelas gedung Sendratasik, Peit Hein memberikan referensi bagi audiens. Di awal pertemuan, ia mencontohkan sebuah contoh bunyi baru dengan tiba-tiba meremas sebuah botol mineral kosong. Suara yang renyah itu mampu menjadi bagian dari sebuah komposisi. Hein menyatakan bahwa bunyi baru dapat diperoleh dari mana saja. Bunyi dari batang pohon pisang, atau bunyi ketika seseorang membuka jendela. Ia bahkan tak menyarankan penggunaan instrumen musik, elektronik, komputer, dan synthesizer di program New Sound Adventures. Baginya, sungguh tidak menarik menghasilkan musik hanya dengan membuka laptop dan menciptakan bunyi dari program komputer.

Piet Hein dan Gema Swaratyagita

Untuk menjelaskan dengan lebih detail, Hein memutarkan sebuah video lama dari John Cage, seorang komposer objek Amerika yang tersohor. Cage terkenal dengan komposisi ciptaannya 4'33, yang 'hanya' menampilkan suara dari lingkungan sekitar dan audiens selama pertunjukan berlangsung. Ia pun menjadi pioneer untuk prepared piano di mana piano dimainkan dengan meletakkan objek-objek pada senar atau hammer piano. Sedikit banyak ini mengingatkan pada grup musik The Piano Guys yang kerap melakukan teknik yang berbeda dari biasanya dengan instrumen mereka. Dalam video yang diputar Hein, Cage memiliki panggungnya sendiri dengan menggunakan berbagai peralatan untuk menciptakan bunyi seperti Grand Piano, ketel uap, bak mandi, teko, radio dan benda-benda keseharian lainnya. Cara memainkannya pun unik. Melempar, menjatuhkan, membuang, menuang, memukul hingga berbagai jenis bunyi dihasilkan baik secara tunggal maupun bersamaan. Meski begitu, Cage melakukannya dengan perhitungan matematis. 

Hal itu menginspirasi New Sound Adventures yang mengusung semangat "Menggunakan objek yang sangat biasa untuk menghasilkan bunyi yang luar biasa." Dalam workshop tersebut, Hein akan memberikan referensi-referensi untuk menyusun komposisi dan membagikan masukan tentang bagaimana menciptakan bunyi-bunyi yang menarik bagi telinga penonton. Komposisi bunyi tersebut akan diciptakan secara berkelompok dan akan ditampilkan secara ensemble. Hein tampaknya juga ingin bermain dengan berbagai karakter manusia sebagai sarana produksi bunyi baru dengan mengacak kelompok peserta. Pun, peserta tak harus selalu memiliki kemampuan untuk memainkan alat musik. Tahun lalu, seorang perupa mampu menghasilkan lukisan yang bagus hasil imajinasinya terhadap bunyi yang dimainkan oleh kawan sekelompoknya. Mengusung benang merah yang sama, Hein juga memberikan informasi tentang Black Pencil & Friends, sebuah ensemble musik kontemporer dari Belanda yang dalam waktu dekat akan mengadakan pertunjukan dan pemberian materi edukasi musik di ISI Jogjakarta.


"Break the rules how the sound should be." 

Ucapan Piet Hein ini menjadi inspirasi tentang bagaimana membebaskan pikiran dan mengasah kepekaan bukan hanya tentang bunyi, namun juga dari hal-hal biasa lainnya. Hal ini dapat dimaknai secara besar bahwa manusia selalu mampu mendapatkan berbagai hal baru tak terduga dengan melewati garis yang biasa, dengan mengubah sudut pandangnya.


Sunday, November 1, 2015

Pertemuan Musik Surabaya : Improvisasi Akord bersama Tamam Hoesein

Memiliki seorang guru yang hangat, humoris dan menyenangkan di pertemuan pertama tidak mudah. Namun kesan positif itu justru langsung terasa dalam 'ruang kelas' dengan pengajar spesial, Tamam Hoesein. Pertemuan Musik Surabaya yang terus konsisten menyelenggarakan acara bulanan dengan tema musik yang cerdas, selalu menarik untuk diikuti. Kali ini dihadirkan seorang Tamam Hoesein yang bersedia berbagi ilmu tentang teknik improvisasi dengan akord.

Tema yang sangat dekat dan aplikatif membuat kelas ini berhasil dipenuhi oleh anak-anak muda yang tertarik mendapat cipratan ilmu dari Pak Tamam. Ruang aula Wisma Jerman Surabaya, 25 Oktober 2015 kali itu dipenuhi audiens.

Bukan hanya sibuk dengan penjelasan teorinya, terlihat Tamam Hoesein sangat interaktif dengan aktif menanyakan sejauh mana audiens memahami penjelasannya. Dengan gaya santai, ia bahkan tak segan untuk menyapa beberapa nama yang ia kenal di antara audiens. Grand piano di hadapannya hanya sesekali ia gunakan untuk memperjelas apa yang ia tuliskan di white board. Kemauannya untuk ingin selalu mendengar penuh perhatian apa yang ditanyakan oleh audiens membuat proses belajar menjadi menyenangkan. Transfer ilmu itu berjalan seakan tanpa batasan. Dengan jam terbang dan berbagai pengalamannya mengajar, Ia memang terlihat begitu terbiasa dengan suasana pembelajaran.




Tamam Hoesein menjelaskan tentang bagaimana berimprovisasi dengan memberikan bunyi dan nuansa yang berbeda. Dalam proses improvisasi ini, sangat penting untuk mengenal akord Tonic dan Dominant. Tonic merupakan akord yang bisa berdiri sendiri, tidak memerlukan akord tambahan untuk menyelesaikannya. Sedangkan akord Dominant merupakan akord yang tidak bisa berdiri sendiri, dibutuhkan akord Tonic untuk menyelesaikannya. Alih-alih menggunakan pola yang biasa,secara umum misalnya urutan akord I - V7 - I, ia memberikan alternatif dengan cara mensubsitusi akord. Akord V7 yang digunakan, bisa diganti dengan variasi yang berbeda sesuai kebutuhan. Tentu saja dengan akord yang tetap masih 'sejalan' dengan yang ingin dimainkan. Misalnya dengan mengubah pola sebagai berikut :

I            V7           I
I      IIm7   V7      I
I      IIm7  IIb7     I
I      IIm7  II7       I

Pak Tamam pun tak setengah-setengah dalam memberikan materi. Dalam modul ciptaannya, dijelaskan berbagai jenis akord dan opsi-opsi bagaimana melakukan improvisasi untuk menghasilkan melodi yang lebih halus, sesuai dengan kebutuhan. Dalam hal ini, kebutuhan penggunaan jenis akord sangat bergantung pada pemain menghasilkan melodi apa yang diinginkan. Meski begitu jangan sampai memaksakan untuk  menciptakan kesan "rumit" atau "jazzy".

Seorang audiens menanyakan tentang permasalahannya yang kesusahan dalam melakukan improvisasi akord, karena berangkat dari jalur musik klasik yang lebih sering bermain musik sesuai dengan partitur. Tamam Hoesein menjelaskan bahwa dalam musik klasik pun sesungguhnya beberapa komposer menerapkan pola improvisasi yang sama. Beliau menyarankan audiens untuk membuktikannya dengan menganalisa komposisi-komposisi yang diciptakan Chopin. 

Berbicara tentang musik klasik, Pak Tamam berkisah tentang pengalamannya mengajar di sebuah sekolah musik tertua di Indonesia yang didirikan tahun 1950 di Medan. Sekolah tersebut pada awalnya hanya mengajarkan musik klasik pada siswa-siswinya. Namun kemudian berbagai jenis musik mulai diajarkan. Kebetulan ia diminta untuk mengenalkan musik jazz. Sesungguhnya musik jazz 'lebih sederhana' dibanding musik klasik, karena pemain lebih bebas untuk menyampaikan apa yang ingin disampaikan. Sedangkan pada musik klasik, pemain diminta untuk mempelajari dan memainkan komposisi dari komposer tertentu. Tamam Hoesein mulai mengajarkan Blues. Siswa-siswi yang telah terbiasa bermain musik klasik secara spontan diminta untuk berimproviasi dengan gaya Blues. Awalnya mereka merasa kesulitan, karena belum terbiasa bermain secara bebas. Namun pada akhirnya mereka merasa gembira karena menemukan 'garis-garis yang dibongkar' dan boleh melakukan apa saja dengan lagu. "Feel free to do that." Berkaca dari pengalaman tersebut, Tamam Hoesein memberikan saran agar audiens mampu menikmati musik dengan bermain secara bebas. Bagi yang telah terbiasa memainkan musik klasik, banyaklah mendengar berbagai improvisasi lagu. Di awal proses tersebut pemain akan tiba di tahap meniru terlebih dahulu. Namun proses itu tetap harus dilanjutkan dengan terus mencoba serta menjaga konsistensi untuk berlatih setiap hari.   

Dalam sub bab Reharmonisasi, Pak Tamam memainkan lagu lawas milik Harold Arlen, "Over The Rainbow" yang beliau reharmonisasi menjadi lebih jazzy dengan banyak menerapkan akord-akord IIm7 dan V7. Berkaca dari cara beliau yang mampu mengimprovisasi berbagai lagu, tips yang disarankan pada audiens adalah dengan mengaplikasikan pola I - V7 (beserta turunannya)- I pada dua belas kunci yang ada.  

Bicara tentang improvisasi, bukan berarti kemudian melupakan substansi bermain musik. Seorang Tamam Hoesein pun memberikan pandangan-pandangan membuminya. Bahwa tidak pernah ada masalah di musik dan tak perlu dipermasalahkan. Pernyataan itu berlanjut dengan bahwa dalam musik tidak ada yang benar atau salah. Seluruhnya hanya masalah selera, suka atau tidak. 

"Musik adalah cermin apa yang kita rasakan." - Tamam Hoesein.

Sunday, October 25, 2015

Music is a New Hope : Charity Concert

Finna Kurniawati (violin), Shienny Kurniawati (harp), Ade Sinata (cello), Michael Adi Tjandra (viola), Glenn Bagus (piano), SOOS (String Orchestra of Surabaya) Children Ensemble menampilkan musik mereka untuk sebuah konser amal yang digagas oleh Sheraton Surabaya, SOOS, dan UNICEF, bertajuk Check Out For Children 2015. Sesuai temanya, dana yang terkumpul dari konser ini dikelola dan donasikan UNICEF untuk anak-anak yang membutuhkan di berbagai negara, seperti Indonesia, Bangladesh, India dan China.



Karena kebaikan hati Mbak Gema Swaratyagita, saya bisa nonton bersama teman-teman dari Pertemuan Musik Surabaya di hari itu, 19 Oktober 2015. Antusiasme penonton sangat bagus. Terbukti, begitu pintu ballroom Sheraton dibuka, kursi di baris-baris terdepan dengan cepat terisi. Kami mendapat tempat di bagian tengah ruang. Beberapa kali menonton pertunjukan musik di lokasi yang sama, saya jarang memilih bagian tengah dan cenderung agak ke belakang. Jadi, sedikit banyak saya penasaran dengan sensasi baru ini. Sembari menunggu audiens berdatangan, hadirin disajikan video-video tentang anak-anak dari berbagai negara.

Jeda tak terlalu lama, pertunjukan kemudian dimulai. Sesuai dengan tema amal untuk anak-anak, rombongan SOOS Children Ensemble tampil terlebih dahulu dengan menghadirkan melodi menyenangkan, Turkish March milik Beethoven menjadi sebuah irama string masal oleh belasan anak dan seorang pianis ini. Mereka menampilkan melodi dengan cukup baik dengan vivace yang cukup terasa. Komposisi ini akan lebih menarik dengan ketegasan ala March juga dinamika yang lebih tereskplorasi. Namun rasanya hal itu hanya masalah minor yang akan dengan mudah diperbaiki oleh anak-anak berbakat ini. Di atas itu semua, saya sesungguhnya mengharapkan ekspresi dari semua performer anak ini. Jam terbang akan membuat mereka lebih menikmati waktu ketika berada di atas panggung.   

Meski ada sedikit gangguan dari suara speaker ballroom yang masih memutarkan musik-musik hotel, namun hal itu teratasi di komposisi berikutnya. Setelah diberikan staccato-staccato dari Turkish March, Children's Prayer from Hansel and Gretel yang mendayu menjadi komposisi kedua. Disambung dengan Come Back to Sorrento milik Ernesto De Curtis yang menjadi akhir penampilan mereka. Phrasing dan dinamika yang lebih jelas tentu akan membuat audiens lebih merasakan ambiance dari komposisi ini. 

Penampil anak-anak digantikan oleh kakak beradik Shienny Kurniawati (Harpa) dan Finna Kurniawati (Violin) yang membawakan Romanza Andaluza milik Pablo de Sarasate. Finna memainkan melodi dengan ekspresif. Kolaborasi Harpa dari Shienny membuat ini cukup menjadi tantangan, karena rancak komposisi ini membutuhkan tempo dan ritmis yang lincah.


Baroque Flamenco ditampilkan oleh Shienny dengan cukup mengesankan. Ini agak membuat saya deja vu. Saya pernah menyaksikan Maya Hasan memainkan komposisi yang sama dan di lokasi yang sama tahun lalu. Irama cepat bernuansa Flamenco tentu menuntut teknik permainan yang tidak mudah. Komposisi ini juga meminta banyak ketukan pada soundboard dan arpeggio lincah agar nuansa Flamenco dapat dipertahankan. Saya membayangkan, jika saya berada di posisi yang lebih depan, saya tentu akan lebih merasakan nuansa flamenco ini. 

Baru sebulan lalu saya menikmati permainan Cello Ade Sinata dengan Cascade Trio, kali ini ia hadir bersama dengan Glenn Bagus dan Finna Kurniawati. Ini pertama kalinya, dan sejujurnya saya cukup tertarik bagaimana hasil kolaborasi mereka. Finna dan Ade saya ketahui sebagai performer yang sama-sama ekspresif. Membentuk kolaborasi dalam waktu singkat memang tidak mudah. Namun profesionalitas mereka mampu mengatasi komposisi. Meski saya akan cenderung untuk memilih Ade di dalam Cascade, juga Finna dan Glenn yang bermain solo.


Intermession memberi kesempatan pada sebagian besar audiens yang merasa suhu ruang terlalu dingin untuk keluar dari ballroom. Setelah break usai, Piano Quintet Op. 44 milik Robert Schumann menjadi sajian berikutnya. Glenn Bagus, Finna dan Shienny Kurniawati, Ade Sinata dan Michael Adi Tjandra membahu menampilkan komposisi ini bersama. Karya jagoan Schumann untuk musik kamar ini menampilkan nuansa romantik ala Schumann yang selalu menuntut berbagai teknik dan dinamika. Performer ditantang untuk membuat bunyi piano menonjol dengan keempat instrumen string mengingat Schumann sedang ingin menciptakan bunyi piano dengan ekspresif ketika mencipta komposisi ini. Seringkali pula terdengar berbagai eksplorasi tema yang menarik. Movement ke-dua menjadi favorit saya. Silence di antara phrase yang lebih luas memberi ruang berpikir yang menarik sebelum kembali digeber dengan running-running notes. Tema yang diberikan Schumman pun menarik dan berbeda.  



Komposisi ciptaan sang pianis, The Passion, menjadi penutup dari keseluruhan pertunjukan. Selain mengantar audiens beranjak dengan karya yang easy-listening, penutupan itu sesuai dengan tema yang diberikan. Menyumbangkan sesuatu untuk kemanusiaan dengan berbagai cara, lebih-lebih dengan passion, adalah sebentuk kesempatan yang luar biasa. Para performer membagikan semangat itu pada audiens melalui musik yang mereka sajikan.           

Wednesday, October 21, 2015

Permohonan Maaf Pembatalan Acara Goodreads Surabaya tanggal 24 Oktober 2015.

Sebagai seorang biasa, teman-teman tim Goodreads Indonesia regional Surabaya yang merelakan waktu, tenaga, pikiran, bahkan materi di balik terselenggaranya acara-acara literasi selama ini selalu berharap setiap acara akan berjalan seperti harapan. Lancar, tak terkendala apa pun hingga akhir. Tentunya, dengan tujuan besar untuk dapat memberi manfaat pada audiens dan turut meramaikan semangat literasi yang kami yakini akan mampu membawa setiap orang untuk menjadi lebih baik.
Tapi, bukan hal besar jika dalam perjalanannya selalu mudah dan sesuai harapan. Kami sering mengalami kendala. Mencari lokasi, kas yang terbatas, bahkan melobi nara sumber/pembicara. Beberapa tahun belakangan, ketika acara-acara yang disusun menjadi kenyataan adalah karena izin Pencipta yang mempertemukan kami dengan pihak-pihak yang bersedia mendukung acara kami. Tentu saja sifat komunitas kami yang non profit, tidak semua pihak bisa memberi support. Ternyata materi bukan satu-satunya kendala. Kami sempat tegang luar biasa karena salah seorang pembicara kami nekat hadir dengan kondisi jiwa yang terancam terkait dengan suatu isu yang sedang hangat saat itu. Beliau menyamar, hadir tanpa pengawalan, dan berkata “Saya sih sudah siap mati. Yang saya khawatirkan cuma acara (kalian).” Kami mengapresiasi dan sangat tersentuh dengan ucapan beliau saat itu. Beruntung, acara berlangsung lancar hingga akhir. Nara sumber yang lain pun seringkali rela hadir dari jauh, menyelipkan mengisi acara kami di tengah jadwal aktivitas sehingga mesti berlari-lari mengejar waktu, dan banyak pengorbanan lainnya. Itu sejujurnya yang membuat semangat kami terus terungkit. Karena kami tahu, begitu banyak orang lain yang bersedia bergandengan tangan dengan kami untuk membuat literasi menjadi suatu hal yang penting dan menyenangkan. Baik dukungan lokasi acara, media, dan teman-teman komunitas lain yang juga memiliki semangat yang sama.
Failure is the condiment that gives success its flavor.
Seperti ucapan Truman Capote, penulis Amerika yang tersohor karena novelnya, Breakfast at Tiffany’s dan In Cold Blood, tidak semua acara yang kami susun sepenuhnya berhasil. Tentu masih banyak kekurangan, maupun dengan sangat terpaksa kami batalkan. Seperti kali ini. Acara bulan ini, Sabtu, 24 Oktober 2015 yang dijadwalkan akan kami adakan di Perpustakaan Medayu Agung, dengan begitu banyak pertimbangan akhirnya kami memutuskan untuk membatalkannya. Tentu ini menjadi hal yang begitu berat kami putuskan, karena publikasi telah menyebar luas melalui media sosial, dan kami telah berusaha maksimal untuk mempertahankannya. Banyak yang kecewa, banyak yang menyayangkan. Namun kami menghargai sepenuhnya keputusan bijaksana dari nara sumber. Mengingat adanya berbagai faktor eksternal yang secara detail tak dapat kami jelaskan, membuat kami dan nara sumber tak punya pilihan selain membatalkannya. Semangat kami boleh masih menggebu untuk mempertahankan berlangsungnya acara ini, namun pertimbangan kebaikan untuk semua pihak memang semestinya lebih utama.
Dengan kekecewaan yang sama besarnya dengan calon audiens, kami, tim Goodreads Surabaya memohon maaf sebesar-besarnya untuk pembatalan acara kali ini. Juga kami kirimkan ucapan terima kasih banyak dan apresiasi tinggi untuk teman-teman yang telah berniat hadir, media partner, dan Perpustakaan Medayu Agung. Terima kasih untuk semua pemakluman yang diberikan. Kami berharap besar pembatalan ini tak menghalangi keinginan teman-teman untuk hadir kembali di acara-acara kami berikutnya. Mari sama-sama menumbuhkan semangat membaca, karena Baca Itu Seru! Sampai bertemu di acara-acara berikutnya!

Salam hangat,
Nabila Budayana
Koordinator Goodreads Indonesia regional Surabaya

Tuesday, October 6, 2015

Pertemuan Musik Surabaya : Cascade Trio

"The trio is a bit frightening at first glance, but it is not really that difficult to perform: seek and you shall find!” - Felix Mendelssohn

"Bulan depan Cascade Trio."

Di tengah obrolan akhir Agustus lalu, Mbak Gema Swaratyagita memberikan bocoran acara berikutnya dari Pertemuan Musik Surabaya.

Pertemuan kedua saya dengan Cascade Trio terjadi Senin lalu, 28 September 2015. Sebelumnya, setahun lalu, saya sempat menonton pertunjukan mereka, juga di Surabaya. Berbeda dengan pengalaman sebelumnya di mana saya datang terlambat dan mendapatkan seat terbelakang, kali ini saya lebih tepat waktu. Partner nonton saya kali ini pun istimewa. Hanya bisa didatangkan setahun sekali dari Denver, Colorado. Kebetulan guru musik saya sedang berlibur tahunan ke Indonesia, jadi saya tak panjang pikir untuk mengajaknya bergabung menonton.

Di Senin terakhir di September, setelah kelas, kami meluncur ke Melodia untuk mengikuti workshop pasif. Di luar perkiraan, kami hadir terlalu awal dan workshop menarik ini minim peserta. Mengingat jumlah peserta yang sedikit, kami bisa mendapat seat paling depan untuk leluasa menyimak workshop peserta aktif. Peserta workshop aktif akan tampil juga di malam hari di sela program yang ditampilkan Cascade Trio. Tim quartet dari Sendratasik Unesa String Quartet mendapatkan kesempatan pertama untuk workshop. Para pemain string muda ini telah mendapat workshop intensif sehari sebelumnya di tempat yang berbeda. Mereka membawakan Quartetto 46 op. 33 No. 1, 1st movement dari 'sang empunya' quartet gesek, Joseph Haydn. Harapan timbul dengan adanya bibit string quartet baru yang masih segar. Namun bibit-bibit baru potensial ini mesti dipoles dan diberi kesempatan kembali untuk menjadi sebuah 'hasil jadi'. Kesiapan secara teknis, kematangan dalam membawakan komposisi, komunikasi antar performer dan rasa percaya diri menjadi hal yang secara umum perlu diperhatikan. Dibimbing oleh Danny Ceri dan Ade Sinata, mereka banyak ditekankan pada menciptakan padu antar instrumen, phrasing, bowing, dinamika, rhytm, juga pembiasaan pada sebuah ruang konser yang besar. Kedua mentor memberikan berbagai saran, terutama tentang keyakinan dalam menampilkan komposisi. Keempat personil pun berusaha maksimal dalam menyerap dan memperbaiki kualitas penampilan.


Airin Efferin kebagian untuk membimbing dua pianis muda yang memainkan sebuah komposisi 4 tangan. Kedua peserta, Lisa Angelia dan Aubrey Ruby tampak telah siap dengan komposisi yang mereka bawakan. Tak heran, Airin memuji perkembangan mereka karena telah memperbaiki begitu banyak hal yang ia sarankan untuk menyempurnakan penampilan. Airin terlihat begitu ekspresif dalam memberikan workshop. Kedua pianis diberikan berbagai saran upaya perbaikan dari sisi mood, ekspresi, komunikasi dan kerja sama satu sama lain, beberapa teknis yang berkaitan dengan phrasing, bahkan posisi tumpuan duduk. Tak lama kemudian workshop diakhiri.



Membawa partner workshop yang tepat, saya pun diberikan begitu banyak masukan dari guru di sebelah saya. Meski hanya peserta pasif, saya belajar banyak hari itu. Begitu akan beranjak pulang, kami sempat menyapa dan berbincang singkat dengan Airin Efferin. Karena waktu hanya tersisa beberapa jam dari waktu konser di malam hari, begitu workshop selesai, Cascade Trio berlanjut untuk melakukan latihan.

Kami kembali di malam harinya untuk menikmati puncak acara. Konser chamber music dari Cascade Trio dan peserta workshop cukup ramai oleh penikmat musik. Puluhan audiens memenuhi ruang konser Wisma Musik Melodia Surabaya. Kali ini audiens cukup tertib dalam menikmati pertunjukan, sehingga fokus dapat sepenuhnya diberikan pada penampil.

Pertunjukan kali ini menjadi lebih menarik bagi saya, karena adanya kesempatan untuk menonton peserta workshop terlebih dahulu sebelumnya. Tentu ambiance ketika workshop dan konser akan sangat berbeda. Penampil dan sebagian penonton memiliki kesempatan untuk menikmati keduanya. Panggung menjadi milik duo pianis, Lisan Angelia dan Aubrey Ruby dengan Sonata for Four Hand milik Francis Poulenc terlebih dahulu. Terlihat bahwa mereka sudah terbiasa untuk tampil di depan umum, sehingga kualitas penampilan mereka cukup terjaga. Berbagi tuts piano dengan pianis lain untuk membahu menampilkan satu komposisi yang sama memang tak mudah. Tentu komunikasi satu sama lain akan sangat berperan. Saya rasa komposisi ini akan jauh lebih menarik ketika duo pianis ini lebih menikmati melodi yang dihasilkan dan memberikan fokus lebih pada interpretasi serta penyampaian musik pada audiens. Not-not yang repetitif yang khas dan dinamika yang menarik sesungguhnya mampu menampilkan rasa ceria dan pengalaman mendengarkan yang menyenangkan bagi penonton.    

String Quartet dari UNESA yang diisi oleh Ridwan Alwy, Rendi Fakhrudin, Dwi Rendra Sugiatma dan Mardha Putra memutuskan untuk memberi kejutan dengan menampilkan bukan hanya Haydn, namun juga Mozart. Meski komposisi utamanya adalah Haydn, namun Mozart juga sempat dimainkan ketika sesi workshop. Meski masih terkesan kurang yakin, namun String Quartet ini mencoba sebaik mungkin. Keberanian mereka untuk mencoba berkolaborasi menjadi satu tim quartet patut diberikan apresiasi. Mereka hanya butuh waktu, kesempatan, ketekunan dan jam terbang lebih untuk menjadi Quartet yang menjanjikan.

Cascade Trio masih memikat. Berbeda dengan kali pertama menonton penampilan mereka, saya jauh lebih menikmati pertunjukan kali ini. Airin, Dany dan Ade tampil begitu profesional. Di kesempatan pertama mereka membawakan Piano Trio no.6 op. 22 kepunyaan Felix Mendellsohn (1809-1847) yang terdiri dari empat movements. Cascade Trio juga menghadirkan Shostakovich Piano Trio No 1 in C minor op 8 yang banyak bermain di tempo dan karakter. Di antara persiapan mereka di atas panggung sebelum tampil, Ade memecah kecanggungan dengan memberi penjelasan pada penonton tentang partitur yang panjang. Meski ini hal minor, namun menjadi trik yang bagus untuk membangun chemistry dengan penonton bahkan sebelum komposisi dimainkan. Profesionalitas mereka terwujud dengan komunikasi yang terjalin sangat baik. Bahkan saya rasa penonton akan tak begitu menyadari bagaimana mereka bertukar isyarat ketika mesti memulai nada di timing yang sama. Dinamika-dinamika dan bagian-bagian komposisi dihadirkan jelas dan menghibur. Forte-forte dihadirkan dengan yakin dan ekspresif selalu menjadi bagian favorit saya karena berhasil menampilkan nuansa grande. Saya jadi membayangkan, apabila saya memilih seat paling terbelakang sekali pun, nuansa akan sama didapatkan. Meski cenderung menjadi hal kecil, tapi bagi saya, membaca ekspresi wajah performer ketika memainkan komposisi juga menjadi sebentuk 'kelengkapan' paket hiburan untuk audiens yang juga ingin dimanjakan secara visual. Ekspresi itu dapat ditemukan dari Ade Sinata. Memberikan nada-nada pentatonik, Cascade memutuskan untuk menyajikan Variasi Pelog milik Budi Ngurah yang mereka bawakan ketika menjalani workshop di Spanyol. Sembilan variasi pendek dihadirkan. 


Keseriusan, ketekunan, konsistensi dan dedikasi Cascade Trio seakan membuktikan bahwa mereka harus diperhitungkan. Tidak heran ketika mereka menjadi satu-satunya trio dari Indonesia yang berhak menimba ilmu langsung dari Trio Arbos di Spanyol baru-baru ini. Membagikan ilmu pada performer-performer baru adalah sebentuk usaha yang sangat positif. Ini seakan menjadi gambaran investasi Cascade Trio pada perkembangan musik kamar di masa mendatang.   

Friday, September 11, 2015

Sebuah Pertanyaan : Tentang Taman Baca Kampung Pemulung

"Memang program mbak ini akan berapa lama? Berapa bulan? Setahun? Dua tahun?"
Seorang teman pernah menanyakan hal itu di suatu sore. Saya tak tahu mesti menjawab apa. Ketika melihat ekspresi saya, ia mengatakan bahwa ia khawatir program ini akan menjadi boomerang untuk adik-adik : memberi harapan palsu mendukung pendidikan mereka untuk kemudian meninggalkannya. Saya berterimakasih padanya. Ia mengatakan hal yang selama ini saya takutkan.
Tapi kemudian itu menjadi pertanyaan yang berputar di kepala. Berapa lama saya dan teman-teman volunteer akan terus mendampingi perkembangan adik-adik Taman Baca Kampung Pemulung Kalisari Damen Surabaya ? Mendampingi 40 orang anak setiap Jumat bukan hal yang mudah untuk kami. Kami sering multitasking : memberikan soal matematika pada satu anak, menjelaskan cara menjawab soal pada yang lain, memberi kosa kata baru Bahasa Inggris pada yang lebih dewasa, menemani membaca buku cerita pada yang balita. Seluruhnya dilakukan nyaris dalam satu waktu. Belum lagi melerai yang berkelahi, menghimbau untuk merawat buku dan alat tulis dengan baik, menenangkan yang menangis dan yang selalu minta perhatian. 
Mudah? Tidak.

Hari ini termasuk Jumat yang spesial. Setiap salah satu donatur memutuskan untuk menyalurkan zakatnya pada kami, adik-adik mendapatkan beberapa potong roti di samping susu kotak yang rutin kami bagikan setiap Jumat. Di akhir pertemuan, tanpa dikomando, mereka sudah berbaris, siap menerima susu dan roti. Seringkali saling dorong, berebut ingin dapat lebih dulu. Begitu adik-adik sudah seluruhnya mendapat bagian, makanan dan susu yang berlebih kami bagikan ke warga sekitar musholla. Kami menyebutnya "roadshow" : membagi-bagikan makanan pada warga, menyapa, sekaligus menghimbau jika anak atau cucunya boleh bergabung untuk belajar dan membaca/meminjam buku di musholla setiap Jumat secara gratis. Rutenya pun bergantian, jalan sebelah kanan atau kiri musholla. Kami akan berjalan beramai-ramai sembari mengamati bagaimana kondisi tempat tinggal dan keluarga adik-adik.
Saya perlu berterimakasih banyak pada teman-teman volunteer yang luar biasa. Saya selalu terharu membaca ungkapan kangen kalian pada adik-adik ketika berhalangan hadir. Saya kerap merasa bersalah ketika meminta bantuan kalian untuk membeli alat tulis untuk adik-adik, padahal lelah kalian belum kering sehabis pulang kuliah atau kantor. Saya tahu beberapa dari kalian kerap membelah hiruk-pikuk lalu lintas dari ujung Surabaya hanya demi menghabiskan sore bersama adik-adik. Saya juga tahu beberapa dari kalian mesti susah payah menembus izin orang tua. Saya bisa merasakan ketulusan kalian, dan keinginan untuk selalu kembali. Bukan karena hal-hal lain, namun demi adik-adik. Terima kasih.
Beberapa dari kalian yang terhalang waktu dan jarak karena kesibukan, saya ingin mengabarkan beberapa berita. Tentang Hakiki yang begitu gemar membuat keributan, hari ini ia begitu tenang dan tekun belajar perkalian. Meski sudah bukan di usia semestinya untuk menghapal tabel perkalian, tapi usahanya membuat saya bahagia luar biasa. Nung yang baru saja khitan minggu lalu, sudah kembali bermain seperti biasa. Amel yang jangkung dan dewasa, sudah mulai bisa membantu kita untuk mengajari adik-adik yang lebih kecil. Trio 'rusuh' Nopal, Reja dan Ali sudah jauh lebih tertib dan tenang. Mereka lebih sering membaca buku, menggambar atau meminta dibacakan cerita. Meski masih suka membuat khawatir karena berlarian mengikuti mobil dan motor kita ketika pulang. Adit dan Rizki masih sering ribut, tapi setidaknya tak sampai saling meninju perut seperti sebelumnya. Yenni yang pernah menangis karena kangen ayahnya, kini berkembang cepat menghapal kosa kata Bahasa Inggris. Biyan yang sebelumnya kita sempat khawatirkan, minggu lalu membuat saya haru. Ia dengan antusias menceritakan tentang roti dan susu yang ia makan bersama adiknya, Sehan. Mudah-mudahan tak ada lagi adik-adik yang memakan singkong bakar dengan kulitnya. Hari ini banyak dari mereka yang melihat pertama kali buku pop-up dengan antusias. Membolak-balik dan memainkan halamannya. Banyak berita lain yang tak tertangkap mata, kiranya. Tapi semuanya berkembang lebih baik. Cukup jauh dari ketika pertama kali kita memulai. Karena itu, terima kasih karena telah turut merasa memiliki taman baca ini. Saya tahu beberapa dari kalian akan tak setuju dengan adanya tulisan ini, karena ada kekhawatiran adanya kesan 'menjual kesedihan'. Bukan. Ini bentuk berbagi kebahagiaan dan rasa syukur. 
smile emoticon
Terlalu banyak harapan yang kami inginkan dari program ini. Meski dimulai dari hal-hal kecil, namun mudah-mudahan akan berdampak pada peningkatan kualitas pendidikan, literasi dan kesehatan adik-adik. Seandainya hanya sedikit bermanfaat pun tak apa. Kami akan terus mencoba yang terbaik.
Jika ditanya, "Sampai kapan?" 
Biarkan kami menjawab dengan langkah kami yang selalu ingin kembali.


-Nabila Budayana-

Sunday, September 6, 2015

Dari Bunyi ke Kata : Workshop Menulis Peristiwa Musik oleh Erie Setiawan

"Tuhan mengkodratkan orang jelas sedikit, yang tidak jelas lebih banyak."

Tajam, dalam, menohok. Meski kritiknya dalam dunia musik sering mengena, seorang musikolog, Erie Setiawan nyatanya mampu menampilkan dirinya dalam suasana santai. Dari Bunyi ke Kata. Sebuah workshop yang diselenggarakan oleh Pertemuan Musik Surabaya di penghujung Agutsus 2015 ini dibagi ke dalam dua bagian. Hari pertama, 30 Agustus 2015 untuk workshop penulisan peristiwa musik secara umum, hari kedua, 31 Agustus 2015 dikhususkan bagi peserta workshop yang telah mengirimkan tulisan.

Belum pernah terpikirkan dalam kepala saya bahwa 'ruang belajar' ini ada. Saya kira bidang ini masih begitu terbatas dan hanya sederet manusia yang menekuninya di Indonesia. Tanpa perlu berpikir panjang, saya memutuskan untuk mendaftar. Selama ini Erie Setiawan saya ketahui sebagai sosok di balik penerbitan buku-buku musik Art Music Today. Penerbit ini telah cukup banyak melahirkan berbagai tulisan tentang musik dari berbagai pakar. Di antaranya Slamet Abdul Sjukur dan Vincent McDermott.

Ketika saya hadir di waktu yang ditentukan, workshop ini cenderung sepi. Rupanya peserta banyak yang belum hadir. Jadi saya memutuskan untuk berkeliling mengintip punggung-punggung buku di perpustakaan C20 saja. Setelah puas membolak-balik beberapa halaman koleksi Kundera, Pamuk, dan koleksi-koleksi lain yang membuat iri, saya segera beranjak menuju ruang bagian belakang perpustakaan, lokasi workshop diadakan.

Di depan peserta sudah disambut oleh berbagai CD dan buku-buku produksi Art Music Today, juga beberapa modul dari Pertemuan Musik Surabaya yang dijual dengan harga sangat murah. Cukup lama saya 'tertahan' di meja itu, sampai saya kira lebih baik menunggu di dalam lokasi saja. Secara penataan, tak ada yang 'spesial' dari workshop ini. Hanya tikar yang digelar nyaris menutupi seluruh ruangan baru C20 library dan sebuah LCD yang sudah siap menampilkan slide. Tapi justru itu menjadi menyenangkan. Workshop ini jadi membumi dan tak terkesan formal. Pembelajar dan pemberi materi duduk sama tinggi, peserta bisa duduk santai dan menerima materi tanpa tuntutan formalitas apa-apa. Selayaknya satu ruang diskusi yang tak perlu sekat apa pun.

Hanya perlu menunggu beberapa saat yang saya isi dengan membaca sekilas modul, sampai akhirnya peserta terkumpul dan Erie Setiawan siap membagikan materi. Peserta yang hadir cukup banyak untuk acara ini. Lebih dari dua puluh orang menyimak dalam beberapa jam. Lalu apa yang dilakukan Erie Setiawan dalam mengubah dari bunyi ke kata?

Bagi Erie, kita selalu membutuhkan sesuatu yang bisa direkam untuk menjadi bahan refleksi orang lain, termasuk musik. Meski musik tanpa kata-kata sudah berbicara, namun tetap ada tugas untuk mengubah bunyi ke fakta. Tulisan menjelaskan sesuatu yang tidak mampu dilakukan oleh bunyi. Dalam praktisnya, Michael Tenzer, seorang composer dan music educator Amerika yang memiliki keterikatan kuat dengan Gamelan, membagi musik di seluruh dunia menjadi 20 jenis. Bahkan penggambaran jenis musik dari Tenzer pun hanyalah sebatas permukaan dari betapa luasnya wilayah musik yang ada di dunia. Sedangkan kita, hanya mendengar musik yang begitu terbatas dalam keseharian. 

Sejak kapan bunyi dikonversi ke kata? Sejarahnya, sejak abad ke-18, seorang komposer zaman Barok, Charles Avison (1709-1770) menuliskan esai kritik musik yang diawali dari pergulatan pemikirannya, kemudian diikuti dengan reportase peristiwa musiknya. Di zaman tersebut, lebih banyak yang membicarakan tentang musik vokal. Pembahasan tentang musik instrumental baru dimulai 500 tahun kemudian. Di abad ke-19, Ernst Theodor Amadeus Hoffman dan Robert Schumann mendalami dunia kritik musik. Dari beberapa contoh tokoh-tokoh yang disebutkan, ruang profesi kritikus banyak diisi oleh pemusik. Eduard Hanslick, seorang kritikus musik dari Jerman di abad ke-19 memberikan pencerahan tentang hal apa saja yang perlu diperhatikan dalam melakukan kritik musik melalui "On Musical Beauty". Seperti hal-hal lainnya di dunia, perdebatan tentang subjektifitas kritik musik juga yang membuat Wagner dan Brahms berbeda pandangan. Wagner berpendapat bahwa musik mesti diekspresikan secara kontekstual, memiliki muatan cerita di dalamnya. Sementara Brahms berada di sisi sebaliknya, bahwa musik adalah sebentuk ekspresi yang mengalir apa adanya.

Paris Hector Berlioz di abad yang sama, melambung dengan karya-karyanya untuk jurnal musik. Hingga di abad 20 kritik musik berkembang dengan pesat, terutama dengan lahirnya teknologi internet yang memungkinkan siapa saja untuk menulis. Kenyataan tersebut mesti dihadapi dengan sikap selektif. Kita harus memilih informasi yang kredibel dan tepat. Meski begitu, terdapat sisi ironi yang lain. Kritik musik di Indonesia semakin ditinggalkan, semakin banyak yang tidak peduli. Walaupun jurnalisme musik semakin berkembang, namun kebanyakan condong pada musik populer yang mainstream. Beberapa nama yang aktif menjadi reviewer dan katalog musik antara lain Denny Sakrie, Bens Leo dan Adib Hidayat. Namun beberapa nama konsisten untuk memilih 'jalur' yang berbeda : Slamet Abdul Sjukur, Suka Hardjana, Remy Silado, Harry Roesli yang menampilkan musik dengan sisi intelektual. Di luar negeri kritik musik lebih hidup salah satunya ditunjukkan dengan adanya Liner Note, sebuah review panjang dari kritikus yang dicantumkan dalam CD musik.

Lantas, seberapa pentingkah tulisan tentang musik? "Tidak penting bagi yang tidak mengerti tentang musik." Begitulah Erie Setiawan mengutip ucapan Slamet Abdul Sjukur. Tidak semua orang butuh, namun bersifat penting bagi yang mengerti tentang musik. Musik adalah budaya. Jika bicara tentang budaya, kita harus meninggalkan jejak-jejak untuk refleksi diri. Itu menunjukkan betapa pentingnya tulisan tentang musik.

Dalam musik, terdapat beberapa bidang yang dapat dipelajari lebih dalam : 
- Musikologi
- Performing Studies
- Cultural Studies of Music
- Interdiciplinary Studies Concentration in Music

Secara praktis, sebab-sebab mengapa musik harus dituliskan antara lain : 
- Memberi informasi kronologis peristiwa musik
- Media Promosi
- Media untuk berdialog dengan publik
- Meningkatkan pengetahuan dan apresiasi musik
- Pemberitahuan media massa
- Kepentingan studi atau forum
- Menemukan pandangan atau teori baru tentang musik
- Sebagai tugas kuliah, penelitian, penerbitan
- Panduan untuk menjelaskan teknik dan seluk-beluk permainan musik

Tulisan-tulisan tentang musik mewujud dalam berbagai bentuk : 
- Reportase. Jelas dibutuhkan kelengkapan elemen 5W+1H pada tulisan jenis ini.
- Resensi. Mengupas berbagai karya, seperti buku, rekaman musik, jurnal musik
- Esai. Bersifat reflektif dan informatif. 
- Kritik Musik. Dalam wujudnya, ia lebih spesifik daripada esai. Dalam membuat kritik, bijaklah dalam menuliskan. Kritik yang perlu, jangan mengada-ada. Dapatkan pengalaman empiris dari pertunjukan musik sebelum melakukan pembahasan. Lakukan juga wawancara, referensi atau komparasi yang pas. Temukan angle yang tepat agar tajam. Meski begitu kritik juga harus bersifat apresiatif, agar tak menjadi boomerang. Biarkan kritik musik menjadi opini publik dengan membiarkan pembaca yang menilai fakta
- Analisa Musik
- Buku atau Hasil Penelitian Musik
   

"Apa yang kita tulis hari ini tidak harus selalu bermanfaat hari ini." 

Erie Setiawan juga mengutarakan opininya tentang adanya genre dalam musik. Genre baginya adalah hasil fanatisme. Yang perlu digarisbawahi, menjadi seorang penulis sebaiknya bersikap netral. Mengingat begitu luasnya dunia musik untuk dituliskan. Boleh merasa suka atau tidak suka terhadap suatu jenis musik, namun jangan sampai anti. Kemudian timbul pertanyaan siapa saja yang bisa menuliskan musik? Apa harus selalu seorang pemusik? Erie menjawab diplomatis. Bahwa penulis peristiwa musik harus mampu memainkan alat musik. Cukup menjadi pencinta musik dan mengalami langsung pengalaman empirisnya dalam menikmati musik. Musikologi empiris merupakan pengalaman mendengar musik yang bisa disadari sebagai pengetahuan. Dalam menulis musik, tidak harus selalu terpatok pada apa yang terlihat (pertunjukan), namun juga apa yang tak disaksikan oleh audiens. Misalnya persiapan backstage, proses latihan, dan sebagainya. Sedangkan Musikologi adalah wawasan musikal yang telah ada sejak 130 tahun yang lalu. Dalam bidang ini, sudah ada pendidikan tingkat sarjana hingga doktoral. 

Dalam menghadiri pertunjukan music concert di mana kita tak mengerti komposisi apa saja yang akan dimainkan, Erie menyarankan penulis untuk datang dengan bekal. Setidaknya mempelajari tentang latar belakang sejarah komposer terlebih dahulu. Namun bukan berarti hal tersebut akan menyempitkan interpretasi kita ketika menikmati pertunjukan. Mencoba berbagai perspektif yang berbeda untuk menuliskan berbagai jenis musik tentu juga akan menarik. Misalnya mengkritik pertunjukan music concert dari sudut pandang musik rock.


"Seniman bisa muncul karena ada yang menuliskannya."

Serupa dengan jenis penulisan yang lain, dalam menuliskan peristiwa musik, kita mesti cermat menentukan angle. Sebagai pertimbangan, mesti diketahui sasaran pembaca yang kita tuju. Dengan begitu, kita bisa menyesuaikan judul, gaya bahasa, penyampaian, dan faktor-faktor lain yang menunjang agar tulisan kita mampu diterima dengan baik oleh pembaca. Misalnya ketika penulis akan mengirimkan karya tulis ke media. Media begitu menitikberatkan penilaian pada opini yang otentik. Bagaimana cara mendapatkannya? Tulis dulu apa yang ada di dalam kepala, setelah itu lakukan kroscek tentang referensi. Yang terpenting adalah jujur dengan pengetahuan yang kita miliki. 

Dalam menekuni karir menulis peristiwa musiknya selama dua belas tahun belakangan, Erie memulainya dengan belajar secara otodidak. Dalam perjalanannya, tentu tak begitu saja dijalani dengan mudah. Meski memiliki latar belakang pendidikan formal musik, namun dalam karirnya, Erie Setiawan mengalami kesusahan di lima tahun pertama. Namun ia terus konsisten untuk menulis dan belajar dari kesalahan. Konsistensi begitu penting mengambil peran dalam bidang penulisan. 

Salah satu hal yang terpenting dari sebuah karya adalah ide, juga tulisan. Gaya penyampaian yang tidak bertele-tele, pandai mengatur napas pembaca, menemukan komposisi yang tepat agar tak terlalu sederhana maupun berlebihan adalah beberapa hal yang mesti diperhatikan. Jika sudah baik, barulah tulisan tersebut menemukan fungsinya. 

Dalam menghasilkan tulisan yang baik, tentu tak bisa ditinggalkan bahan-bahan referensi untuk memperkaya ide. Bidang ini masih belum banyak digeluti di Indonesia. Oleh karenanya Erie memilih untuk mengakses referensi dari luar negeri. Seperti membeli buku impor, mengakses e-book, jurnal musik, dan lain sebagainya. Kamus musik pun diwajibkan Erie untuk menemukan arti dari istilah-istilah yang digunakan. Informasi yang bagus berasal dari sumber yang bagus pula. Pada intinya, sebuah tulisan harus berhasil membuat pembaca paham. Dalam menggunakan referensi, banyak yang harus diperhatikan. Misalnya bahwa tidak semua karya tulis terbitan lama tidak up to date, karena cukup banyak yang masih relevan. Perhatikan siapa yang menulis dan menerbitkan karya yang akan kita jadikan bahan referensi. Lakukan juga pemilihan sub-bab buku yang kita butuhkan, catat inti dari tulisan, buat review-nya, dan diskusikan. Sebuah rangkuman yang baik adalah rangkuman hasil refleksi diri kita sendiri, bukan hasil kutipan. Demi meluaskan pandangannya, Erie Setiawan tak hanya mengakses referensi-referensi musik, ia melahap referensi dari bidang lain pula. Baginya, terkadang orang membutuhkan informasi di luar 'wilayah'nya. Hal tersebut menjadikan tulisan-tulisannya luas dan beragam. Misalnya ia kerap mendapat inspirasi tentang prosa dari karya-karya Linus Suryadi dan belajar tentang logika dan metaforik dari Emha Ainun Nadjib.

Komposisi subjektifitas penulis dalam tulisan peristiwa musik begitu penting. Namun berapa porsi yang baik? Subjektifitas hanya diperkenankan maksimal kurang lebih 60 persen dari keseluruhan tulisan yang berimbang. Meski interpretasi boleh beragam, namun selalu ada batasan hal-hal 'pakem' yang tidak boleh menghasilkan interpretasi beragam di kepala pembaca. Karena itu ketika penulis mengalami pengalaman menonton langsung pertunjukan, dengarkan dan tonton secara mendalam. Deep listening, deep seeing. Bagaimana ekspresi performer, faktor bunyi, dan begitu banyak hal lain yang mesti diperhatikan dengan saksama. Kejelian dalam mengambil sudut pandang pun sangat menentukan hasil tulisan. Bedakan musik mana yang baik dibahas konteksnya, mana musik yang mesti dibahas secara teks. Erie memisalkan dengan pertunjukan musik yang dilakukan oleh teman-teman penyandang disabilitas, penampilan penyanyi dangdut yang erotis, atau grup Merah Bercerita yang membawa pesan sosial tertentu. Tentu saja akan lebih menarik membahasnya dari sisi sosial, secara konteks. 

Dalam mengamati sebuah pertunjukan, penulis perlu tahu tentang adanya Komunikasi Struktural dan Komunikasi Emosional yang dilakukan oleh penampil. Komunikasi Struktural adalah komunikasi antara pemusik dengan karyanya, sedangkan Komunikasi Emosional merupakan komunikasi antara penampil dengan penonton. Bagi Erie, musisi belum istimewa jika masih memberi kerumitan pada penonton. Secanggih apa pun ia ketika memainkan musik, ketika berhadapan dengan penonton ia harus 'membumi' memperhatikan penonton. Berbeda dengan pertunjukan musik, jika ingin meliput workshop musik setidaknya pelajari teknis instrumen terlebih dahulu. 

Sebaik-baiknya seorang penulis selalu akan ada tanggapan negatif. Oleh karena itu Erie mengingatkan bahwa dalam menulis kita mesti siap untuk menghadapi risiko dibenci, dianggap sok tahu, berkurang teman, dan sebagainya. Namun dengan konsistensi dan tak berhenti, lama kelamaan khalayak akan mampu menerima kehadiran karya kita. 

Menanggapi pertanyaan tentang iklim penulisan musik di Surabaya, Erie menjawab bahwa Surabaya hanya belum memiliki saatnya. Sungguh tak adil jika membandingkan kota ini dengan kota lainnya, di mana pertunjukan musik jauh lebih sering diselenggarakan. Indikator kualitas tidak selalu ditentukan dengan banyaknya event yang diselenggarakan. 

"Serius menulis musik ada peluang, yang tidak serius juga ada peluang : peluang kehancuran."

Materi hari pertama begitu menggugah, membawa peserta workshop ke hari kedua. Kali ini suasana cenderung 'agak menegangkan' karena karya masing-masing peserta dikupas dan dikomentari oleh Mas Erie Setiawan. Berbeda dengan hari pertama yang lebih bersifat teori, hari kedua justru sangat praktis. Kami bebas melontarkan pertanyaan maupun sesuatu yang ingin didiskusikan bersama. Dari tulisan-tulisan kami, Mas Erie memberikan cukup banyak masukan terkait hal-hal yang mesti diperhatikan. 

Dalam memulai tulisan, judul memiliki peranan yang begitu penting sebagai kalimat pertama yang mengindikasikan isi dan yang menentukan apakah pembaca akan tertarik untuk membaca lebih lanjut. Erie mengingatkan untuk tak membuat judul yang multitafsir. Apabila judul kurang jelas, tidak ada salahnya menambahkan sub judul. Sub judul berguna untuk memberi kelenturan dalam tulisan. Selain itu, usahakan judul dalam bentuk kalimat aktif. Judul menjadi sebegitu penting karena redaktur media akan membaca judul dan paragraf pertama. Dalam isi pun, boleh diselipkan sub judul untuk memberi napas pada pembaca.

Variabel yang tepat sangat menentukan ke mana arah tulisan akan terwujud. Mengutamakan informasi pada pembaca tentu menjadi hal yang utama. Menulislah langsung pada intinya. Kalimat pertama yang 'menembak' membuat pembaca berpikir dan berimajinasi. Sementara kalimat penutup yang optimis atau metaforik maupun reflektif akan lebih menarik. Demi kenyamanan pembaca, usahakan tak lebih dari 10 baris dalam setiap paragraf. 

Dalam menulis esai musik dibutuhkan kecermatan yang tinggi dimulai dengan menemukan inspirasi, mewujudkan ide dan menemukan konklusi. Kecermatan pun mesti merasuk hingga hal terkecil : typo. Manusiawi, zero typo adalah hal yang susah, namun tetap mesti diusahakan. Dalam menggunakan istilah, utamakan untuk menggunakan istilah yang baku dalam musik. Tentu saja merujuk pada kamus musik. Istilah-istilah tersebut mesti disertai dengan penjelasan.

Menulis adalah masalah melatih 'otot', benar adanya. Erie Setiawan menyarankan penulis untuk terus meningkatkan produktifitas. Perlahan dimulai dengan reportase musik, menjadi esai musik, kritik musik, bahkan menjadi buku. Tentunya dengan tetap menyajikan informasi-informasi yang istimewa untuk pembaca. Sebisa mungkin, jangan mengulang informasi. Berikan yang segar dan baru. Bukan hanya informasi, namun juga diperlukan imajinasi untuk menarik perhatian pembaca. Penggunaan terlalu banyak metafora tidak disarankan demi menghindari kaburnya informasi. Maksimal hanya sebanyak 20 hingga 30 persen dari keseluruhan tulisan. Metafora hanya berperan sebagai jembatan untuk menjelaskan informasi.

Penetapan jenis tulisan apa yang akan ditulis sangat penting dilakukan agar tahu apa yang akan disampaikan. Esai musik populer biasanya diperuntukkan untuk media dengan pembaca yang tidak spesifik. Dalam menuliskannya diperlukan siasat pembahasan yang fleksibel. Sedangkan esai ilmiah populer ditujukan untuk media massa dengan pembaca yang lebih spesifik. Reportase bersifat lebih sederhana, mudah dimengerti dan menceritakan pada pembaca tanpa tendensi apa-apa. Perbandingan reportase dan esai adalah reportase tak memerlukan solusi apa-apa, sedangkan esai memerlukan pendekatan studi kasus (case study). 

"Yang penting punya gaya menulis yang kita nikmati, dan patut untuk diperjuangkan. Jangan sampai berhenti di rata-rata. Harus berada di garda depan."

Yang diharapkan Erie dari forum ini adalah agar masing-masing peserta mampu bermanfaat bagi diri sendiri dan komunitas. Diharapkan untuk belajar terus menerus, melatih kemampuan diri dan menambah pergaulan. 

"Maju terus, berikan informasi musik yang cerdas kepada masyarakat."

Workshop persembahan Pertemuan Musik Surabaya ini begitu menyegarkan. Menginspirasi, mencerahkan, terutama memberi harapan untuk perkembangan musik melalui budaya merekamnya melalui tulisan.