Friday, November 27, 2015

Goodreads Surabaya : Perempuan dan Literasi bersama Sirikit Syah

Banyak yang menarik dari seorang Sirikit Syah. Kiprahnya di bidang jurnalistik dan kesusastraan yang telah dijalani begitu lama membuatnya menjadi tokoh yang menarik dengan banyak inspirasi. Tanggal 22 November 2015 lalu, Goodreads Indonesia regional Surabaya mendapat kehormatan untuk berdiskusi langsung dengan beliau.

Mengajukan tiga tema sebelumnya, Sirikit memutuskan untuk merangkum ketiga tema tersebut dalam Perempuan dan Literasi yang menggambarkan karier beliau secara keseluruhan, baik dalam bidang jurnalistik maupun literasi. Sesungguhnya, tema kali ini agak terlalu luas. Namun justru menjadi menarik karena audiens bebas menanyakan apa saja dan bagaimana Sirikit menempatkan diri dalam berpendapat dan memandang berbagai hal, terutama terkait dengan beliau yang vokal dan tajam dalam mengupas sesuatu.

Foto oleh Lina Handriyani

Bukan hanya pada karyanya, kesan perempuan dengan pendirian kuat dan daya juang tinggi juga melekat di diri seorang Sirikit Syah. Hal itu tergambarkan melalui bagaimana pilihan-pilihan hidup yang beliau ambil dalam kisah perjalanan hidupnya. Sirikit pun tak segan mengakui kesalahan-kesalahannya dalam mengambil keputusan besar ketika dihadapkan dengan berbagai pilihan. Seperti ketika beliau mesti memilih antara berangkat untuk pertukaran pemuda ke luar negeri atau bekerja. Juga menolak tawaran menjadi dosen dari sastrawan senior, Budi Darma dan memilih bekerja di Surabaya Post. Namun lebih banyak keputusan yang beliau tak sesali. Memutuskan untuk berhenti bekerja karena enggan untuk terlibat dalam politik uang, misalnya. Beliau berharap bahwa ini mampu menjadi bahan pembelajaran pada kaum muda untuk lebih bijak dan matang dalam mengambil keputusan.

Karier seorang Sirikit Syah dimulai ketika beliau lulus dari perguruan tinggi IKIP Surabaya dengan major Pendidikan Sastra Inggris. Pernah menjadi wartawan di harian Surabaya Post hingga The Brunei Times, juga menjalani tahun-tahun panjang jenjang karier di media pertelevisian seperti SCTV dan RCTI membuatnya banjir pengalaman. Kejadian di dunia media suatu kali mengusik kepalanya. Beliau berpendapat bahwa belakangan media sudah terlalu bebas dan sarkas. Ingin menunjukkan jurnalisme damai, beliau memutuskan untuk membentuk Media Watch, sebuah lembaga konsumen media. Beliau juga melatih ratusan jurnalis dari banyak wilayah di Indonesia untuk menulis dengan lebih berimbang. Jika mesti membandingkan antara media cetak dan media televisi, Sirikit Syah lebih nyaman untuk menulis di koran. Baginya, media televisi terlalu sempit untuk mengutarakan sesuatu. Sedangkan di koran, gagasan dapat dibaca secara utuh oleh khalayak. 

Erat kaitan dengan perempuan, Sirikit Syah sangat optimis dengan penulis-penulis perempuan di Indonesia saat ini. Baginya, penulis perempuan di Indonesia telah mendapat kedudukan yang baik sekali. Secara kuantitas, menurutnya lebih banyak penulis perempuan saat ini. Dari sisi kualitas pun hampir sama antara perempuan dan laki-laki. Sebagai contoh, ia mengaku menyukai karya dan diksi dari juniornya, Dee, yang indah. Sirikit Syah pun optimis terhadap dunia sastra Indonesia ke depan. Baginya, keunggulan sastra Indonesia ada pada keberagaman hal yang bisa diangkat. Menjawab pertanyaan tentang bagaimana memisahkan jurnalistik dan sastra, beliau berkata bahwa menulis fiksi semestinya membebaskan. Dalam karya fiksi, penulis bisa merasa bebas, mampu membela diri, meski karya tersebut diangkat dari fakta-fakta yang didramatisir. Baginya, eksplorasi dalam sastra oleh penulis sebaiknya bersifat bebas dan "liar". Karena sastra adalah medium untuk menjangkau banyak orang, dengan simbolisme, dengan majas. Sastra harus mampu menyentuh banyak hati. Sementara dalam jurnalistik mesti ada sifat ketepatan dan real. Menjembatani antara sastra dan jurnalistik, terdapat jurnalisme sastrawi dapat digunakan untuk menulis feature.

Dalam kumpulan cerita pendeknya yang berjudul Harga Perempuan. Sirikit Syah banyak menampilkan sudut pandang tokoh perempuan yang memiliki karakter tersendiri. Karakter perempuan dalam kumcer tersebut berbeda dari karakter-karakter perempuan dalam fiksi yang ada saat itu. Salah satu yang menjadi inspirasinya adalah sosok perempuan tangguh yang ditampilkan Pram dalam Bumi Manusia. Diary Anne Frank, kisah seorang anak perempuan dalam setting Holocaust lah yang membawa Sirikit Syah untuk menulis sastra secara serius di masa mudanya. Berbicara tentang perempuan, pertanyaan menarik datang dari seorang audiens tentang feminisme. Menjadi sebuah kata yang bermakna sangat subjektif, Sirikit memberikan pandangan dirinya terhadap makna feminisme dengan mengambil contoh rumah tangganya. Baginya, kesuksesan seorang perempuan tergantung pada bagaimana ia memilih pasangan hidup yang tepat. Beliau membiarkan laki-laki sebagai seorang pemimpin. Sang Suami berhak memutuskan apa saja dalam keluarga. Dalam tubuh manusia, ia adalah kepala. Namun, Sirikit bertutur bahwa perempuan adalah leher. Kepala boleh saja memiliki keputusan. Tapi, kepala tak akan bisa bergerak ketika leher tak mengizinkan. Baginya, dalam mendampingi perempuan, laki-laki mampu memimpin dengan berjalan di depannya, bisa menjaga dengan berjalan di belakang, namun lebih sering berada di samping untuk menemani.

Memiliki karier panjang dalam dunia penulisan jurnalistik dan sastra, Sirikit Syah membagi pesan substansial pada generasi muda.

"Open your eyes, your ears, your mind, and your heart."

Beliau seakan mengingatkan kembali bakat-bakat muda yang terlalu sibuk menggali pernik-pernik di permukaan. Bahwa kepekaan sosial adalah modal dasar dalam kepengarangan. Sirikit Syah juga membuktikan dengan perjalanan kariernya, bahwa perempuan dengan keistimewaannya selalu memiliki ruang tersendiri dalam ranah literasi.


Foto oleh Lina Handriyani


Sunday, November 8, 2015

Concert de Piano : Pascal & Ami Roge

Setelah mendapat sambutan baik di Jakarta, Pascal Roge dan Ami Roge akhirnya hadir di Surabaya. Di hari ke-empat November 2015, IFI Surabaya bersama Diapason Music mendatangkan pasangan pianis ini ke Ballroom Sheraton Hotel yang berhasil menarik perhatian begitu banyak audiens yang antusias. Bahkan pintu masuk tetap dibuka untuk menampung audiens yang terlambat datang dan terpaksa berdiri untuk menonton pertunjukan.

Membawa semangat Negeri Eiffel bersama duo pianis ini, ditampilkan berbagai komposisi ciptaan komposer-komposer Prancis yang tersohor seperti Claude Debussy, Erik Satie, Maurice Ravel, Igor Stravinsky, dan Henri Dutilleux. Meski begitu, Pasangan Roge juga ingin menunjukkan penghargaan mereka pada komposer Indonesia. Karya Slamet Abdul Sjukur dan Trisutji Kamal yang memiliki keterikatan khusus dengan Prancis turut dibawakan.

Kali ini sang performer tak langsung tampil. Pertunjukan dibuka dengan penampilan secara bergilir beberapa anak yang mengikuti masterclass Pascal dan Ami Roge. Anak-anak Surabaya usia 9 hingga 13 tahun ini menampilan berbagai komposisi. Liszt hingga Debussy. Ini menjadi menarik karena mereka menjadi penampil pembuka dari performer utama. Ketujuh bakat baru ini memiliki kualitas penampilan yang luar biasa. Di usia belia, mereka telah berhasil menaklukkan komposisi-komposisi dengan teknik tinggi. Beberapa dari mereka menonjol dengan kemampuan komunikasi emosional dengan audiens melalui karya yang mereka mainkan. Jonathan Inkirawang dan Sally Yapto mengagumkan dan begitu menikmati waktu mereka di atas panggung. Mereka seakan telah siap untuk menjadi performer andal masa depan.

Ballroom semakin penuh ketika Pascal dan Ami Roge tampil. Bersama, mereka membawakan Petite Suite piano duet dari Debussy. Pilihan ini cukup mengejutkan. Alih-alih membuka konser dengan komposisi yang menuntut show-off  berbagai teknik dengan menggebu, kali ini justru dibuka dengan movement En Bateu yang bright, tenang dan mengalir. Komposisi yang didominasi Andantino dan Moderato ini baru menampilkan melodi-melodi cepat Allegro di movement terakhir, Ballet. Komposisi ini memang pendek, sederhana dan mudah dicerna. Debussy sengaja menciptakannya untuk pianis amatir, berlawanan dengan karya modern lain yang ia ciptakan.

Pascal Roge kembali seorang diri untuk menampilkan karya tersohor milik Satie, Gymnopedie 1. Frase awal yang familiar memikat audiens dan seketika mengudarakan atmosfer sepi dan muram. Komposisi ini konon terinspirasi dari novel historical karya sastrawan Prancis Gustave Flaubert, Salammbo. Tak seperti ketika menulis Madam Bovary, Flaubert banyak dipandang aneh di buku ini. Nuansa epic itu pun terlihat pada Gymnopedie dengan melodi-melodi yang tak terduga khas Satie. Pascal kemudian menyajikan time-line waktu penciptaan komposisi yang berurutan terhadap karya Satie. Gnossiennes 5 yang masih bertempo lambat namun banyak menampilkan hitungan yang tak terduga ditampilkan jelas oleh Pascal. Pemilihan Satie dalam daftar karya yang ditampilkan memang menjadi menarik, mengingat karakteristik Satie yang unik.

Photo by : Vincent Jose

Audiens kemudian dibawa ke nuansa yang berbeda dengan running-running notes dan legato Sonatine milik Ravel. Petualangan berikutnya ini membawa pada suasana elegan dan klasik dengan virtuoso dari Pascal Roge. Emosi yang tak berlebihan dan kejernihan dalam penyampaian membuat komposisi ini nyaman untuk dinikmati. Modere, Movement de Menuet dan Anime digarap rapi dan baik oleh Pascal. L'adoration de la Terre milik Stravinsky mendapat giliran berikutnya. Audiens diboyong ke suasana Rusia dengan dinamika yang menegangkan dan kental dengan bunyi disonan. Tak dihadirkan dengan bantuan string, ketegangan di komposisi ini sesungguhnya berpotensi minim grande. Namun ambiance ketegasan dan kesuraman tentang pengorbanan seorang perempuan masih terasa lekat. 

Jeda sejenak sebelum komposisi berikutnya ditampilkan, cukup banyak penonton yang tak ingin meninggalkan kursinya. Suhu dingin ballroom tak membuat mereka kehilangan antusiasme untuk mengikuti pertunjukan hingga usai. Ketika akhirnya performer kembali ke panggung, Pascal dan Ami Roge sempat berkisah singkat bahwa komposer Prancis begitu banyak yang terpengaruh dengan Gamelan Indonesia. Oleh karena itu, setelah dibawa ke beragam warna komposisi Prancis sebelum intermession, Gunung Agung Act 1 Joy of Life milik Trisutji Kamal yang bernuansa khas Indonesia dibawakan. Meski tak mengajak kolaborasi I Ketut Budiyasa seperti pada konser di Jakarta, namun Pascal dan Ami tak membuatnya terlihat timpang. Komposisi ini tetap termainkan dengan nuansa pentatonik yang menarik. Duo pianis ini juga mengajak audiens untuk mengenang Slamet Abdul Sjukur. Komposisi Tobor : Tiring ditampilkan oleh Ami Roge. Karya ini seakan mengingatkan bahwa Indonesia benar-benar kehilangan seorang komposer besar dengan warisan karya-karya yang mendunia. Hal minor yang menarik dari pasangan suami istri ini adalah keterikatan emosi mereka yang sangat terlihat. Ketika Ami memainkan Tobor, Pascal dengan setia memilih untuk duduk di tepi panggung dengan membiarkan kakinya menggantung. Selama karya dimainkan, ia menunduk, meresapi permainan sang istri dalam-dalam.

Yang spesial, karya dari Henri Dutilleux yang merupakan guru dari Slamet Abdul Sjukur turut dibawakan. Semakin spesifik, Resonance ciptaan Dutilleux ini hanya bisa dimainkan oleh Pascal Roge, mengingat komposisi ini diciptakan secara khusus untuknya. Ketenangan Pascal dalam bermain memang mengagumkan. Bergantian, Ami memilih untuk duduk di antara kursi penonton. Ia mendengarkan dengan serius harmoni-harmoni yang diciptakan sang suami.  

Menjelang akhir, Debussy dan Ravel sengaja dipilih untuk meninggalkan kesan Prancis pada audiens. Sebelum memainkan keduanya, Pascal mengatakan bahwa kedua komposer ini baginya adalah dua komposer terhebat dalam ranah musik klasik Prancis. Mereka menentukan keistimewaan warna musik Prancis. Ia pun bercanda bahwa untuk menentukan siapa yang terbaik, audiens hanya perlu mendengarnya dan menentukan pilihannya masing-masing. Berkewarganegaraan dan hidup di zaman yang sama, pun sama-sama disebut mengusung musik impresionis, tak heran banyak yang membandingkan Debussy dan Ravel. 4 Preludes milik Debussy terpilih untuk dibawakan lebih dulu. Voiles membuat audiens terlempar kembali ke ketenangan dengan banyak ruang imajinasi di antara frase. Le Vent dans la Plaine dan La Fille aux Cheveux de Lin yang lebih dinamis menaikkan dinamika emosional audiens dengan permainan yang tenang namun dinamis. Tetap terkontrol, Minstrels menjadi puncak dengan dinamika yang lebih tajam dengan forte dan arpeggio yang kerap muncul.       

Pemilihan komposisi terakhir ciptaan Ravel yang justru erat dengan nuansa Spanyol, Rapsodie Espagnole empat tangan menjadi karya terakhir dalam daftar. Tema yang terus berulang berpotensi menimbulkan kemonotonan. Meski begitu heningnya malam hari terasa di movement pertama, Prelude a la nuit. Nuansa rancak Spanyol mulai terlihat di Malaguenas. Movement singkat ini seakan memperlihatkan penari Flamenco yang mulai berdansa. Audiens kembali melambatkan mood dengan diberikan Habanera, sebelum akhirnya ditutup dengan Feria yang sangat hidup dan ramai. Begitu komposisi berakhir, selain tepuk tangan panjang, duo pianis Roge juga menerima hujan apresiasi berbentuk karangan bunga dan kado dari peserta masterclass mereka. Mereka mengaku begitu tersentuh dengan segala bentuk penghargaan tersebut. Kekaguman mereka pun tercurah untuk kualitas bakat-bakat baru musisi klasik Surabaya yang melebihi ekspektasi. Interaksi manis suami-istri ini pun terlihat melalui beberapa hal kecil. Selain selalu menggandeng tangan sang istri setiap kali turun panggung, hal serupa pun terjadi ketika Ami sedang berbicara pada penonton dan tampak kerepotan dengan kado dan karangan bunga yang memenuhi tangannya, dengan sabar Pascal mengambilnya satu per satu dan memindahkannya ke panggung. Tanpa berlama-lama, duo pianis ini memberikan encore pendek ciptaan Colin McPhee, seorang komposer asal Canada yang tekun mengeksplorasi Gamelan Bali.

Photo by Vincent Jose

Pascal dan Ami Roge meninggalkan kesan dengan menjadi penampil yang tak emosional berlebihan. Gerakan yang efisien dan rapi juga menjadi referensi simplicity dalam performa musik klasik. Duo ini seakan membiarkan komposisi yang mereka mainkan menjadi indah dengan sendirinya. Pertunjukan pun telah direncanakan matang dengan pemilihan komposisi dan urutan yang menyenangkan. Sebagian besar waktu penyajian yang tak terlalu panjang membuat audiens mudah menerima dan tak terkesan melelahkan. Komunikasi yang terbangun selaras di antara duo ini pun membentuk kepaduan yang menyenangkan untuk komposisi-komposisi piano empat tangan, serta keseluruhan pertunjukan. 


Friday, November 6, 2015

Pencarian Bunyi Baru oleh Piet Hein

Ketertarikan Piet Hein akan Indonesia masih kental dengan bukti kembalinya ia untuk mengeksplorasi bunyi. Sound Adventures, pengalamannya menggali bunyi di tahun 2014 lalu mendapat tanggapan yang cukup memuaskan.

Piet Hein, yang sempat menjadi produser acara radio di Belanda selama 35 tahun, di masa pensiunnya memilih untuk kembali menjelajah dan mengeksplorasi musik dan budaya Indonesia. Namun ia kembali dengan misi yang cukup berbeda kali ini. Tahun lalu, ia menyelenggarakan Sound Adventures, sebuah program yang bertujuan untuk menemukan bunyi baru dari perluasan penggunaan instrumen musik. Misalnya piano yang dimainkan dengan cara berbeda dari biasanya. Seperti meletakkan objek-objek tertentu di atas senar dengan tujuan produksi suara yang berbeda. Berkaca dari tahun sebelumnya, tahun ini Piet Hein memutuskan untuk mengusung sebuah misi baru : New Sounds Adventures. Meski kurang lebih serupa dengan tahun sebelumnya, namun program tahun ini ingin lebih mengutamakan kebaruan dari berbagai sisi. Ia tak hanya fokus mencari bunyi baru, namun juga bentuk instrumen. Dalam hal ini, Piet Hein mengutamakan adanya instrumen-instrumen baru di luar instrumen musik biasanya demi terciptanya sebuah komposisi bunyi yang berbeda. 

Meski baru dimulai Januari 2016 mendatang, Piet Hein saat ini mulai mendatangi berbagai kota demi menemukan bibit-bibit seniman yang tertarik untuk mengembangkan dirinya pada suatu bentuk bunyi baru. Bersama rekannya, Roderik The Man, ia akan memberikan pelatihan untuk perjalanan menemukan bunyi tersebut. Pelatihan akan meliputi beberapa tahapan, diawali dengan proses pencarian instrumen dan bunyi baru, mengkatalog bunyi-bunyi yang didapatkan, berlatih untuk membentuk sebuah komposisi, memadukan komposisi tersebut dengan komposisi lain dalam pertunjukan besar, serta mengevaluasinya. Tujuan besar dari pada proses-proses tersebut adalah untuk membangun kepedulian terhadap bunyi.  

Mendukung misi tersebut, Pertemuan Musik Surabaya 2 November 2015 lalu mendatangkan Piet Hein untuk berbicara langsung pada mahasiswa jurusan Sendratasik UNESA dan khalayak umum. Bertempat di salah satu ruang kelas gedung Sendratasik, Peit Hein memberikan referensi bagi audiens. Di awal pertemuan, ia mencontohkan sebuah contoh bunyi baru dengan tiba-tiba meremas sebuah botol mineral kosong. Suara yang renyah itu mampu menjadi bagian dari sebuah komposisi. Hein menyatakan bahwa bunyi baru dapat diperoleh dari mana saja. Bunyi dari batang pohon pisang, atau bunyi ketika seseorang membuka jendela. Ia bahkan tak menyarankan penggunaan instrumen musik, elektronik, komputer, dan synthesizer di program New Sound Adventures. Baginya, sungguh tidak menarik menghasilkan musik hanya dengan membuka laptop dan menciptakan bunyi dari program komputer.

Piet Hein dan Gema Swaratyagita

Untuk menjelaskan dengan lebih detail, Hein memutarkan sebuah video lama dari John Cage, seorang komposer objek Amerika yang tersohor. Cage terkenal dengan komposisi ciptaannya 4'33, yang 'hanya' menampilkan suara dari lingkungan sekitar dan audiens selama pertunjukan berlangsung. Ia pun menjadi pioneer untuk prepared piano di mana piano dimainkan dengan meletakkan objek-objek pada senar atau hammer piano. Sedikit banyak ini mengingatkan pada grup musik The Piano Guys yang kerap melakukan teknik yang berbeda dari biasanya dengan instrumen mereka. Dalam video yang diputar Hein, Cage memiliki panggungnya sendiri dengan menggunakan berbagai peralatan untuk menciptakan bunyi seperti Grand Piano, ketel uap, bak mandi, teko, radio dan benda-benda keseharian lainnya. Cara memainkannya pun unik. Melempar, menjatuhkan, membuang, menuang, memukul hingga berbagai jenis bunyi dihasilkan baik secara tunggal maupun bersamaan. Meski begitu, Cage melakukannya dengan perhitungan matematis. 

Hal itu menginspirasi New Sound Adventures yang mengusung semangat "Menggunakan objek yang sangat biasa untuk menghasilkan bunyi yang luar biasa." Dalam workshop tersebut, Hein akan memberikan referensi-referensi untuk menyusun komposisi dan membagikan masukan tentang bagaimana menciptakan bunyi-bunyi yang menarik bagi telinga penonton. Komposisi bunyi tersebut akan diciptakan secara berkelompok dan akan ditampilkan secara ensemble. Hein tampaknya juga ingin bermain dengan berbagai karakter manusia sebagai sarana produksi bunyi baru dengan mengacak kelompok peserta. Pun, peserta tak harus selalu memiliki kemampuan untuk memainkan alat musik. Tahun lalu, seorang perupa mampu menghasilkan lukisan yang bagus hasil imajinasinya terhadap bunyi yang dimainkan oleh kawan sekelompoknya. Mengusung benang merah yang sama, Hein juga memberikan informasi tentang Black Pencil & Friends, sebuah ensemble musik kontemporer dari Belanda yang dalam waktu dekat akan mengadakan pertunjukan dan pemberian materi edukasi musik di ISI Jogjakarta.


"Break the rules how the sound should be." 

Ucapan Piet Hein ini menjadi inspirasi tentang bagaimana membebaskan pikiran dan mengasah kepekaan bukan hanya tentang bunyi, namun juga dari hal-hal biasa lainnya. Hal ini dapat dimaknai secara besar bahwa manusia selalu mampu mendapatkan berbagai hal baru tak terduga dengan melewati garis yang biasa, dengan mengubah sudut pandangnya.


Sunday, November 1, 2015

Pertemuan Musik Surabaya : Improvisasi Akord bersama Tamam Hoesein

Memiliki seorang guru yang hangat, humoris dan menyenangkan di pertemuan pertama tidak mudah. Namun kesan positif itu justru langsung terasa dalam 'ruang kelas' dengan pengajar spesial, Tamam Hoesein. Pertemuan Musik Surabaya yang terus konsisten menyelenggarakan acara bulanan dengan tema musik yang cerdas, selalu menarik untuk diikuti. Kali ini dihadirkan seorang Tamam Hoesein yang bersedia berbagi ilmu tentang teknik improvisasi dengan akord.

Tema yang sangat dekat dan aplikatif membuat kelas ini berhasil dipenuhi oleh anak-anak muda yang tertarik mendapat cipratan ilmu dari Pak Tamam. Ruang aula Wisma Jerman Surabaya, 25 Oktober 2015 kali itu dipenuhi audiens.

Bukan hanya sibuk dengan penjelasan teorinya, terlihat Tamam Hoesein sangat interaktif dengan aktif menanyakan sejauh mana audiens memahami penjelasannya. Dengan gaya santai, ia bahkan tak segan untuk menyapa beberapa nama yang ia kenal di antara audiens. Grand piano di hadapannya hanya sesekali ia gunakan untuk memperjelas apa yang ia tuliskan di white board. Kemauannya untuk ingin selalu mendengar penuh perhatian apa yang ditanyakan oleh audiens membuat proses belajar menjadi menyenangkan. Transfer ilmu itu berjalan seakan tanpa batasan. Dengan jam terbang dan berbagai pengalamannya mengajar, Ia memang terlihat begitu terbiasa dengan suasana pembelajaran.




Tamam Hoesein menjelaskan tentang bagaimana berimprovisasi dengan memberikan bunyi dan nuansa yang berbeda. Dalam proses improvisasi ini, sangat penting untuk mengenal akord Tonic dan Dominant. Tonic merupakan akord yang bisa berdiri sendiri, tidak memerlukan akord tambahan untuk menyelesaikannya. Sedangkan akord Dominant merupakan akord yang tidak bisa berdiri sendiri, dibutuhkan akord Tonic untuk menyelesaikannya. Alih-alih menggunakan pola yang biasa,secara umum misalnya urutan akord I - V7 - I, ia memberikan alternatif dengan cara mensubsitusi akord. Akord V7 yang digunakan, bisa diganti dengan variasi yang berbeda sesuai kebutuhan. Tentu saja dengan akord yang tetap masih 'sejalan' dengan yang ingin dimainkan. Misalnya dengan mengubah pola sebagai berikut :

I            V7           I
I      IIm7   V7      I
I      IIm7  IIb7     I
I      IIm7  II7       I

Pak Tamam pun tak setengah-setengah dalam memberikan materi. Dalam modul ciptaannya, dijelaskan berbagai jenis akord dan opsi-opsi bagaimana melakukan improvisasi untuk menghasilkan melodi yang lebih halus, sesuai dengan kebutuhan. Dalam hal ini, kebutuhan penggunaan jenis akord sangat bergantung pada pemain menghasilkan melodi apa yang diinginkan. Meski begitu jangan sampai memaksakan untuk  menciptakan kesan "rumit" atau "jazzy".

Seorang audiens menanyakan tentang permasalahannya yang kesusahan dalam melakukan improvisasi akord, karena berangkat dari jalur musik klasik yang lebih sering bermain musik sesuai dengan partitur. Tamam Hoesein menjelaskan bahwa dalam musik klasik pun sesungguhnya beberapa komposer menerapkan pola improvisasi yang sama. Beliau menyarankan audiens untuk membuktikannya dengan menganalisa komposisi-komposisi yang diciptakan Chopin. 

Berbicara tentang musik klasik, Pak Tamam berkisah tentang pengalamannya mengajar di sebuah sekolah musik tertua di Indonesia yang didirikan tahun 1950 di Medan. Sekolah tersebut pada awalnya hanya mengajarkan musik klasik pada siswa-siswinya. Namun kemudian berbagai jenis musik mulai diajarkan. Kebetulan ia diminta untuk mengenalkan musik jazz. Sesungguhnya musik jazz 'lebih sederhana' dibanding musik klasik, karena pemain lebih bebas untuk menyampaikan apa yang ingin disampaikan. Sedangkan pada musik klasik, pemain diminta untuk mempelajari dan memainkan komposisi dari komposer tertentu. Tamam Hoesein mulai mengajarkan Blues. Siswa-siswi yang telah terbiasa bermain musik klasik secara spontan diminta untuk berimproviasi dengan gaya Blues. Awalnya mereka merasa kesulitan, karena belum terbiasa bermain secara bebas. Namun pada akhirnya mereka merasa gembira karena menemukan 'garis-garis yang dibongkar' dan boleh melakukan apa saja dengan lagu. "Feel free to do that." Berkaca dari pengalaman tersebut, Tamam Hoesein memberikan saran agar audiens mampu menikmati musik dengan bermain secara bebas. Bagi yang telah terbiasa memainkan musik klasik, banyaklah mendengar berbagai improvisasi lagu. Di awal proses tersebut pemain akan tiba di tahap meniru terlebih dahulu. Namun proses itu tetap harus dilanjutkan dengan terus mencoba serta menjaga konsistensi untuk berlatih setiap hari.   

Dalam sub bab Reharmonisasi, Pak Tamam memainkan lagu lawas milik Harold Arlen, "Over The Rainbow" yang beliau reharmonisasi menjadi lebih jazzy dengan banyak menerapkan akord-akord IIm7 dan V7. Berkaca dari cara beliau yang mampu mengimprovisasi berbagai lagu, tips yang disarankan pada audiens adalah dengan mengaplikasikan pola I - V7 (beserta turunannya)- I pada dua belas kunci yang ada.  

Bicara tentang improvisasi, bukan berarti kemudian melupakan substansi bermain musik. Seorang Tamam Hoesein pun memberikan pandangan-pandangan membuminya. Bahwa tidak pernah ada masalah di musik dan tak perlu dipermasalahkan. Pernyataan itu berlanjut dengan bahwa dalam musik tidak ada yang benar atau salah. Seluruhnya hanya masalah selera, suka atau tidak. 

"Musik adalah cermin apa yang kita rasakan." - Tamam Hoesein.