Friday, December 16, 2016

Jurnal Pesiar Lembar Ketiga

Save the best for last. 

Kalimat itu juga berlaku di atas kapal. Sembari berlayar kembali ke Singapura, kami sehari penuh di atas kapal, kesempatan terakhir untuk menikmati fasilitasnya. Di hari kelima, kami sekilas mampr di beberapa lokasi di Singapura sebelum kembali terbang ke kota masing-masing.

***

Pagi hari, kami tidak langsung beranjak sarapan. Saya menemani Bu Ade menjajal jogging track yang mengelilingi deck 12 Tapi saya tak jogging, justru ambil gambar sana-sini. Dugaan saya bahwa di pagi hari angin di deck yang terbuka akan kencang, ternyata tak terbukti. Langit keabuan yang agak mendung masih malu-malu menampilkan matahari. Lantai deck masih agak basah sisa hujan kemarin. Namun itu tak menyurutkan semangat karena sudah ramai orang berolahraga, rupanya. Pemandangan dari atas ke lautan memang menenangkan. Ketika Bu Ade sibuk berlari, saya tanpa sengaja bertemu Mak Gondut, Mbak Dame, dan Mbak Atid yang tampaknya sudah memilih jalan kaki di putaran kesekian. Karena langit sedang bagus, saya ambil beberapa gambar mereka.

Saya sekadar sok ikutan lapar, meski tak ikut berolahraga. Jadi kami putuskan untuk sama-sama menuju ruang makan. Karena ingin berganti suasana dari Windjammer, kami memilih Rhapsody in Blue Dining Room di deck 3. Berbeda dengan Windjammer yang bisa langsung masuk ke dalam, kali ini kami mesti mengantre sejenak. Ditanya berapa orang, dan dicarikan meja, kami akhirnya dapat meja sendiri di salah satu sudut. Karena terbiasa makan di deck 4, kami belum melihat bagaimana interior di deck 3. Ternyata, di sini lah pojok grande-nya. Di tengah ruangan, kami bisa melihat dua tangga besar, di mana kapten memberikan sambutan. Menu makan pagi di sini spesial. Berkonsep ala carte, saya memesan fillet salmon yang dipotong tipis dan rasanya jagoan!

ruang makan


Di hari terakhir, kami mencoba mini golf di sports area. Meski tak bisa golf, saya iseng coba saja. Berhasil memasukkan bola sekali, sisanya lebih banyak lelah karena sibuk kejar bola. Selain mini golf juga ada lapangan basket juga fasilitas rock climbing. Fasilitas itu tak dibuka setiap saat. Ada jam tertentu yang diberlakukan, juga bergantung kondisi cuaca. Jika dinding panjat basah karena hujan, kegiatan ini tak bisa dilaksanakan. Meski begitu, antrean tetap mengular. Peminatnya berbagai usia. 

sebagian sports area


Big A, Little A, dan Bu Ade memanfaatkan diskon setengah harga token Arcade, dan menukarkan hadiah. Masih ada senggang waktu sebelum makan siang, saya memilih kembali ke perpustakaan. Kali ini perpus sepi sekali. Saya coba sudut baru untuk baca. Di ujung ruang dengan pandangan langsung ke Royal Promenade. Siapa saja yang berkunjung ke perpustakaan? Di perpustakaan biasanya saya melihat dua orang lansia, atau satu-dua orang paruh baya yang memilih membaca buku. Kapal tampaknya menyajikan sebanyak mungkin fasilitas untuk mencegah penumpang "mati gaya". Sudoku dan soal trivia tentang kapal pesiar disediakan setiap pukul sembilan pagi. Beberapa orang datang mengambil dan mengerjakan soal.





Saya kembali ke Windjammer untuk makan siang. Sengaja datang di awal waktu ternyata keputusan tepat. Saya dapat meja dekat jendela. Oh ya, selama perjalanan kami saya tak pernah melihat kapal menerjang ombak yang cukup membuat guncangan, bahkan di malam hari sekalipun. Kapal tetap tenang membelah selat. Di tengah mengudap makanan, ternyata Mbak Dame datang dan bergabung. Kami mengobrol cukup banyak. Kami masih setengah menghabiskan cookies dan cake ketika Mbak Atid dan Mak Gondut bergabung. Wah, obrolan semakin mengalir, dan nuansa Batak itu yang saya kangeni. Sebagai satu-satunya bukan Batak di antara mereka, saya jadi banyak tahu hal baru, dan bagaimana keluarga Batak mengenal satu sama lain. Kami mengobrol tentang apa saja. Dunia film di balik layar dengan Mbak Atid, karier dosen Teolog dan aktivitas akting Mak Gondut, pekerjaan Mbak Dame, dan lain sebagainya.

Ada show jazz kecil di Royal Promenade, kami berempat pun pindah lokasi menuju Cafe Promenade. Mak Gondut belum puas untuk ngemil cookies, rupanya. Kebetulan kami mendapat kursi yang menjorok ke jalan, sehingga bisa melihat hilir mudik aktivitas di Royal Promenade. Serombongan bapak-bapak India yang asik mengobrol di meja sebelah, seorang bapak sepuh yang duduk sendirian, pelayan toko yang sibuk memasarkan parfum, ibu yang sibuk berfoto dengan pohon natal, anak-anak yang asik mengudap pizza. Area ini memang selalu ramai.

keramaian Royal Promenade

Masih ada waktu sampai makan malam, saya meluangkan waktu sejenak ke perpustakaan, melanjutkan membaca. Karena 25 November ini bertepatan dengan perayaan Thanks Giving, beberapa crew kapal juga mengadakan kegiatan story telling dalam dua bahasa, Mandarin dan Inggris. Di perpustakaan juga disediakan community board. Siapapun bisa membuat acara kumpul-kumpul dan mengajak penumpang lainnya. Tinggal menuliskan tema, lokasi, dan waktu acara. Siapa pun yang membaca dan tertarik, bisa hadir. Karena ini hari terakhir kami di atas kapal, ada beberapa hal yang mesti diselesaikan. Misalnya, pembayaran seluruh transaksi di atas kapal untuk pengguna pembayaran tunai, mengambil paspor sesuai jadwal, dan mampir ke photo kiosk. Yang terakhir tak wajib, sebenarnya. Tapi di hari terakhir, foto-foto kami yang selama ini diabadikan oleh fotografer kapal dipajang dan dijual di sana. 

Di makan malam terakhir, makan malam agak berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Kami kembali ke Top Hat and Tails. Xiaolong dan Pak Gede melayani kami dengan sama baiknya. Bahkan, Xiaolong membuatkan beberapa hiasan kepala dari sapu tangan untuk beberapa perempuan di grup indo. Waiter mengingatkan bahwa akan ada parade spesial sebagai tanda perpisahan dari tim dapur dan restoran. Ternyata nyaris seluruh waiter memberhentikan kegiatan mereka sejenak, dan masuk ke dalam dapur. Ketika keluar, puluhan waiters dari berbagai negara berbaris dan melambai-lambaikan sapu tangan dan berkeliling di ruang makan. Tampaknya itu juga terjadi di dua decks lainnya. Kemudian di tangga tengah deck 3, waiters dan chefs mempertunjukan beberapa kebolehan, seperti menyanyi dan menari. Sekejap, orang-orang beranjak dari mejanya dan merangsek ke bagian tengah restoran untuk menyaksikan aksi itu. Dilayani selama empat malam berturut-turut membuat kebanyakan penumpang merasa memiliki keterikatan dengan para waiters. Banyak dari mereka yang mengajak berfoto dan memberikan tip. 



Malam terakhir di kapal, kami sudah harus mengemas barang, karena paling lambat pukul sepuluh malam koper sudah harus diletakkan di depan pintu kamar. Betul saja, begitu kembali, di atas tempat tidur sudah ada tag bagasi dan berbagai selebaran pemberitahuan. Berberes sebentar, masih ada waktu sebelum larut. Geng Batak kebetulan bertemu dan nonton farewell broadway performance di Savoy Theatre. Karena pertunjukan terakhir, temanya pun lebih ceria. Komposisi-komposisi lawas semacam karya David Foster banyak diperdengarkan. Karena ingin karaoke, geng Batak justru ngumpul di kamar Mak Gondut dan membahas candaan Batak.

Esok paginya, Windjammer buka lebih awal karena ini pagi terakhir kami di kapal. Jika saya biasanya menikmati matahari terbit di balkon kamar, kali ini akhirnya menyaksikan matahari perlahan tampak dari jendela ruang makan bersama geng Batak. Kebetulan kapal belum tiba di Marina Bay Cruise Centre, jadi kami masih bisa melihat permukaan air yang perlahan mengombak dibelah kapal, matahari yang setahap demi setahap muncul, sambil ngobrol dan sarapan pagi. Mendekati pelabuhan, hilir mudik kapal juga jadi pemandangan menarik. 



Masih ada setengah hari menuju waktu kembali terbang ke kota masing-masing, kami menjelajah sebagian kecil Singapura. Icip-icip berbagai rasa cookies di Cookies Museum, belajar menyajikan teh ala China di Tea Chapter, mampir ke Tin Tin Shop, dan makan siang berpernik pahlawan super di Super Heroes Cafe. 







Jika kata Mary Roach, nothing much new happens di atas kapal pesiar, cruise trip bagi saya justru memberikan pengalaman serba baru yang menyenangkan, juga menenangkan. 




  
Baca juga Jurnal Pesiar Lembar Pertama dan Jurnal Pesiar Lembar Kedua.



Saturday, December 10, 2016

Jurnal Pesiar Lembar Kedua

pe-si-ar v berkeliling kota dsb dng kendaraan; berjalan-jalan; bertamasya; pelesir;

Sesuai kata KBBI, agenda pesiar hari ke-dua dan ke-tiga kami tak hanya sebatas berlayar, menikmati pemandangan laut. Tapi juga turun untuk wisata darat, shore excursion. 

*** 

Setelah pulang makan malam di hari pertama, ada monyet putih bergelantungan di kamar. Saya dan Big A cukup terkejut. Ternyata kreasi handuk dari Pak Rudolf, room attendant kami adalah monyet. Setiap kamar mendapat "hewannya" masing-masing. Setelah kroscek ke "kamar para tetangga", ternyata ada babi atau anjing yang sudah duduk manis di atas tempat tidur mereka. Karena lucu dan unik, si monyet tetap kami biarkan di atas, bergelantungan hingga keesokan hari.

si gajah dan si monyet

Meski sepele, tapi kejutan kecil selain kamar yang sudah rapi setiap kali kembali dari makan malam memang menyenangkan. Soal handuk, awalnya saya kira akan berhenti di hari pertama. Karena menurut cruise compass, event demo kreasi handuk oleh awak kapal hanya ada di hari kedua. Selain itu, di kamar lain, kejutan handuk juga hanya sampai hari pertama. Namun nyatanya, hingga malam terakhir di kapal, saya dapat "hewan-hewan" yang berbeda setiap harinya. Karena merasa sayang, saya tak pernah mengubah bentuknya kecuali hanya memindahkan posisinya ke sofa.

si anjing

Bicara soal kamar, meski di dalam kapal, kamar yang kami tempati tak terlalu kecil. Begitu masuk,di bagian kanan sudah kamar mandi dengan wastafel, bilik shower, dan toilet. Meski mungil, namun efektif dan fungsional. Di sebelah kiri lemari kayu. Bedanya dengan kamar hotel di darat, di rak terbawah lemari tersedia dua life jackets untuk keadaan darurat. Berlanjut, sudah langsung disambut area santai dengan sofa panjang dan televisi yang terpasang di meja rias. Diikuti tempat tidur, dan balkon yang dibatasi oleh pintu kaca. Di awal masuk, langsung tertulis pemberitahuan terkait dengan pintu balkon. Ketika tamu membiarkan pintu pembatas antara balkon dan kamar terbuka atau tak rapat, maka pendingin ruangan secara otomatis akan mati.


view sunrise dari balkon kamar

stateroom 


Karena saya kerap bangun terlalu pagi dan masih ada sela waktu sebelum waktu breakfast, saya iseng saja keluar kamar karena ingin tahu kondisi kapal di pagi hari. Selain itu juga memang ingin mampir ke perpustakaan (buka 24 jam!). Ternyata memang acara yang berakhir larut semalam membuat mayoritas penumpang masih lelap. Saya hanya sesekali berpapasan dengan crew yang bertugas. Dan benar, saya kemudian leluasa memelototi satu per satu punggung buku yang ada di rak. Karena mengambil secara acak, saya memilih The Supreme Macaroni Company milik Adriana Trigiani, dan beberapa kali membuka-buka Webster Dictionary of American Writers. Kadang ada kegembiraan yang tidak bisa didapatkan dengan melakukan aktivitas fisik. Kebutuhan untuk tenang dan berdialog dengan diri sendiri. Karena itulah perpustakaan yang nyaman jadi favorit saya di antara fasilitas yang lain.   



Di deck atas perpustakaan persis, area komputer juga disediakan. Untuk koneksi internet, kapal menyediakan penjualan data dengan tarif tertentu. Informasinya bisa diakses di customer service deck 5.

Berpindah dari area yang sepi menuju ramai, pool area deck 11 menjadi salah satu area yang tak pernah sepi. Di sini tersedia beberapa kolam renang yang diperuntukkan untuk dewasa maupun anak-anak. Sementara jacuzzi dan sauna tersedia di area tersendiri yang diperuntukkan khusus untuk dewasa. Di area ini disediakan stall ice cream dan hot dog gratis.




Di area kolam renang ada layar raksasa yang memutarkan film yang berbeda setiap harinya. Nonton film di bawah bintang-bintang dan bersanding dengan lautan, bukan mustahil.

Area yang nyaris tak pernah sepi lainnya adalah Royal Promenade. Area "down town" ini bisa ditemukan cafe, gerai barang bermerk, dan lainnya. Cafe tepi jalan, Cafe Promenade buka 24 jam. Penumpang bisa mengudap makanan kecil mulai cake hingga puddingpizza hingga sandwich. Di area ini juga sering diadakan acara parade, dance party di malam terakhir, hingga tampilan musik jazz. Mendekati Natal di akhir tahun, pohon natal raksasa juga turut dalam dekorasi.

Royal Promenade

geng batak yang doyan ngemil cookies di cafe promenade

Anak-anak bisa jadi makhluk paling gembira di atas kapal. Kapal bahkan menyediakan Arcade, tempat bermain. Tinggal menggesek sea pass card, anak-anak bisa menikmati berbagai jenis permainan sesuka hati. Mulai balap mobil, hingga permainan ketangkasan. Poin yang didapatkan bisa ditukarkan dengan sejumlah pilihan hadiah. Di akhir perjalanan cruise, beberapa token permainan didiskon setengah harga. Anak-anak : kalap!



Lokasi favorit Little A dan Big A! 

Makan siang kami di hari kedua bukan di Windjammer. Kami diajak untuk mencoba sajian resto burger Johnny Rockets. Berkonsep ala western 50-an, interiornya pun menyesuaikan. Kursi bar tinggi, warna serba merah-hitam-putih, dan musik oldies. Sangat casual. Di hari sebelumnya, kami sudah diwanti-wanti untuk tak terlalu banyak mengudap sarapan, agar perut masih punya ruang besar untuk burger Johnny Rockets yang berukuran besar.





Ternyata benar. Sajiannya berbagai macam. Mulai burger, french fries, soda,bahkan ramen untuk memenuhi selera Asia. Ukuran burger-nya, jangan ditanya. Sudah coba buka mulut selebar mungkin, saya masih gagal menggigit semua bagiannya. Akhirnya menyerah, dan pakai pisau dan garpu saja.



Meski sudah waktunya turun kapal untuk menuju Kuala Lumpur, namun ternyata rombongan kami tidak turun kapal. Kami justru menuju area depan kapal di mana ada helipad. Lokasinya memang sepi, karena tak banyak penumpang yang menyambanginya. Helipad diperlukan jika sewaktu-waktu terjadi keadaan darurat, seperti mengangkut penumpang yang sakitnya tak mampu ditangani petugas medis di atas kapal. Ini jadi sudut berfoto yang berbeda. Mulai pose biasa, hingga pose kayang di tengah huruf H, seperti yang Little A lakukan.



bagian ujung kapal. Mau ber-Jack dan Rose? Silakan!

Puas mengambil gambar di sini, kami ingin menyaksikan badan kapal dari kejauhan. Maka kami turun menuju Port Klang, Malaysia meski tak turut serta ke KL. Di pelabuhan disediakan supermarket mini, toko souvenir, dan jika bisa mengambil sudut yang tepat, bisa berfoto dengan badan kapal yang besar tampak kejauhan. Saat turun, kami tak perlu menunjukkan paspor, karena di awal keberangkatan, paspor diminta, sebagai gantinya, sea pass card lah yang menjadi pengenal identitas hingga akhir waktu berlayar.

Nah, salah satu yang diminta secara khusus di tiap pesiar adalah aturan formal dinner yang diberlakukan satu kali dalam perjalanan cruise pendek, atau beberapa kali dalam perjalanan beberapa belas hari cruise. Selain itu juga ada aturan sederhana, seperti tidak diperbolehkan bercelana pendek dan memakai sandal setiap makan malam. Hal itu untuk menghidupkan kesan makan malam formal di antara penumpang, karena setiap makan malam sifatnya semi formal. Di makan malam kedua, kami diminta untuk mengenakan pakaian formal. Di malam ini pula, kapten kapal memberikan sambutan selamat datang pada seluruh penumpang. Penumpang yang biasanya berkaus, tiba-tiba berubah menjadi kemeja resmi. Wanita disarankan memakai gaun malam. Tentang pilihan makanan, menu makan malam berubah setiap harinya, baik appetizermain course, maupun dessert. Waiter biasanya memberikan rekomendasi apa yang spesial dari menunya, dan menyesuaikan dengan keinginan kita. Menunya beragam. Mulai hidangan western hingga India. Saya duga, karena penumpang mayoritas Asia, menu pun menyesuaikan. Suatu kali, saya pernah ragu dalam memillih makanan penutup. Sekadar coba-coba, saya memesan semacam mango rice. Dan saya tanyakan pada Xiolong, waiter kami apakah itu enak. Ia katakan, jika nanti hidangan itu tak cocok dengan lidah saya, bisa ia tukar dengan dessert yang lain. Ketika dessert datang dan saya mencobanya beberapa suap, Xiaolong menanyakan kembali apa saya ingin tukar. Penumpang sangat dimanjakan hingga hal terkecil. Saya sempat berniat memburu sun set di awal berlayar, namun ternyata selalu gagal karena selalu bertepatan dengan jam makan malam. Tapi tak apa, kami masih bisa sesekali melihatnya melalui jendela ruang makan.

view setiap makan malam dari kursi saya

Kenyang makan malam, acara malam berikutnya adalah menonton pertunjukan broadway di Savoy Theatre deck 3. Peserta cruise disuguhkan berbagai plot cerita pendek yang dipentaskan dalam bentuk teatrikal dan diiringi band secara langsung. Di saat yang bersamaan dengan broadway, di Royal Promenade diselenggarakan bazaar serba $10 oleh beberapa merk. Kapal juga mewadahi keinginan para penggila belanja, rupanya. Di akhir waktu berlayar kami pun masih ada promo clearance sale dan tambahan diskon di beberapa gerai barang bermerk.





Tak semua penumpang memutuskan untuk turun dan turut serta dalam shore excursion, karena fasilitas di atas kapal pun seakan tak habis untuk dicoba dan dijelajahi. Pagi hari, ketika mengintip ke balkon, saya sudah melihat kami melewati pulau-pulau kecil. Penumpang pun bisa tahu posisi kapal saat itu dengan layanan televisi di channel internal kapal. Semacam monitor di pesawat terbang untuk kita mengetahui lokasi di mana pesawat sedang berada.




Di hari ketiga, kapal merapat pada pelabuhan di Langkawi, Malaysia. Kami turut serta secara penuh kali ini. Setelah sarapan, kami berkumpul untuk bersama-sama dengan penumpang lain menjajal wisata darat. Penumpang tak bisa begitu saja turun, namun mesti diatur dalam grup-grup yang dikoordinir oleh salah satu crew kapal. Masing-masing peserta diberikan stiker angka sesuai nomor grup untuk ditempelkan di tubuh. Sebelumnya kami sudah mendapat tiket untuk wisata darat yang diletakkan room attendant di atas tempat tidur. Begitu turun, sudah ada beberapa bus yang menunggu. Setiap grup berada di dalam satu bus yang sama.



Mengingatkan pada adegan-adegan di film Anna and The King, Langkawi memang tersohor dengan pantainya. Pihak travel membawa kami berkeliling ke beberapa destinasi, seperti toko cokelat, rice museum, dan akuarium besar. Menariknya, karena lokasinya yang tenang, Langkawi jamak dijadikan tempat berharitua oleh beberapa turis asing. Mereka hanya mesti membayar sekian Ringgit untuk mendapat izinnya.   

underwater world Langkawi

salah satu sudut rice museum
view dari pelabuhan Langkawi



Beberapa dari kami mengganggap wisata di atas kapal lebih menarik, jadi hanya beberapa jam kemudian, kami sudah kembali ke atas kapal. Crew kapal sudah memberikan pemberitahuan tentang jam keberangkatan kembali kapal. Maka jika ada penumpang yang memutuskan untuk melakukan shore excursion sendiri pun tak apa, asalkan bisa kembali ke pelabuhan tepat waktu. Karena kapal sedang merapat, sebelum naik, kebanyakan penumpang (termasuk saya) mengambil gambar, karena terlihat badan kapal yang raksasa. 

hanya terlihat setengah panjang kapal

Karena cukup lelah setelah wisata darat dan masih ada waktu sebelum makan malam, saya memilih untuk istirahat di kamar. Tak tidur, justru duduk di balkon sambil baca buku. Little A, Big A, dan Bu Ade memilih untuk berenang mumpung cuaca sedang tidak terlalu terik. Makan malam kali ini agak berbeda. Kami mencoba Giovanni's Table, resto Italia di deck 11. Dibanding Grand Dining Room, Giovanni tampak lebih lengang. Karena memang penumpang mesti membayar biaya tambahan untuk makan di sini. Namun meja-meja tetap penuh terisi, karena konon resto ini selalu jadi pilihan favorit. Dari meja makan, tamu bisa melihat para chef yang sedang memasak, waiter yang hilir-mudik, dan kepala resto yang mensupervisi setiap pesanan. Kami disambut oleh waiter perempuan asal Filipina yang sangat ramah. Pelayanan di Giovanni's lebih spesial lagi. Detail sangat diperhatikan. Anak-anak? diutamakan! Little A dapat buku menu khusus, makanan yang datang lebih cepat, spaghetti yang dipotongkan, dan bermacam lainnya. Beberapa keluarga juga memilih makan malam di Giovanni's. Obrolan-obrolan mengalir. Tapi nyatanya yang paling tahan lama duduk di tempat dan ngobrol hanya grup indo. Ketika "tetangga-tetangga" kami sudah pergi dan mejanya diisi oleh pelanggan berikutnya, kami masih asik berlama-lama mengobrol. Bukan urusan selokan saja yang diselesaikan dengan musyawarah, urusan makan pun juga gotong royong. hiruk pikuk. Orang Indonesia memang menyenangkan! :D

salah satu main course di Giovanni's

appetizer
Shore excursion memang pengalaman yang berbeda. Namun mencoba berbagai fasilitas di atas kapal tampaknya masih lebih banyak jadi pilihan penumpang. Keesokan harinya : kami sehari penuh di atas kapal!



Sunday, December 4, 2016

Jurnal Pesiar Lembar Pertama

"Tahu nggak, orang Indonesia yang sudah pernah cruise berapa persen?" 
Kami menggeleng sekaligus ingin tahu. 
"Nol koma nol nol sekian persen."

Tampaknya memang belum banyak yang menjadikan cruise sebagai pilihan cara berlibur. Mahal? Relatif. 
***

Menjelang akhir bulan November ini, Bu Ade bersama Big A, dan Little A mengajak saya serta dalam perjalanan mereka ke Singapura. Bahkan sudah terbit tulisan lengkapnya di web Traveling Precils. Tapi kali ini mereka tak menjelajah daratan seperti biasanya, justru terapung-apung di lautan. Kapal pesiar! 

Nah, karena saya turut bersama mereka kali ini, sebelum berangkat, Bu Ade membagi info mulai itinerary hingga rujukan akun media sosial beberapa pesohor yang juga melakukan perjalanan dengan kapal yang sama. Itu berguna sekali, karena belum pernah melakukan cruise sebelumnya, saya belum bisa membayangkan bagaimana dan apa saja yang akan dilakukan di atas kapal. Begitu baca dokumen itinerary-nya, saya agak tercengang. Selain kegiatan di darat, lebih banyak kolom yang menyebutkan untuk menikmati fasilitas di dalam kapal. Saya jadi bertanya-tanya, memangnya seberapa banyak fasilitas di atas kapal? Pertanyaan disimpan, kaki dilangkahkan.

Kami menumpang kapal Mariner of The Seas milik Royal Caribbean. Karena ia bertolak tanggal 21 November 2016 sore dari Marina Bay Cruise Centre (MBCC), kami mesti menuju Singapura terlebih dulu. Tak ada kendala berarti dalam perjalanan menuju Singapura. Begitu tiba di Changi Airport, kami semua pasang mata, mencari papan nama bertuliskan nama Bu Ade. Karena ada kesalahan penulisan nama dari pihak travel, jadi sempat ada adegan saling tunggu dan tebak-tebakan. Begitu menemukan orang yang menjemput, kami dibawa bertemu dengan rombongan asal Indonesia lain yang juga telah berdatangan. Mereka rata-rata berprofesi sebagai blogger atau vlogger asal Jakarta dan Medan. Mas Febrian, Mas Jovian, Mas Indra, Mbak Tysca, dan Mbak Dame. Hampir bersepuluh, kami langsung dibawa menuju MBCC, karena kapal akan segera bertolak. Begitu mendekati area MBCC, dari jendela mobil, dilatarbelakangi langit abu yang mendung, Mariner of The Seas merapat dengan gagah. Kami sibuk mengagumi betapa besarnya ukuran kapal yang akan kami tumpangi! 

sebagian kapal dari samping ketika merapat di MBCC

Makin semangat, kami pun menjejak gedung MBCC. Dari luarnya saja sudah terlihat betapa sibuk tempat ini. Di beberapa sisi terlihat koper-koper bertumpuk warna-warni yang sudah akan dibawa masuk ke dalam kapal, hilir-mudik penumpang, petugas, dan riuh percakapan berbagai bahasa. Kami mendapat briefing singkat tentang kapal, tag bagasi, hingga nomor kamar dari Pak Andi (staf Royal Caribbean Jakarta). Di sini kami juga mesti menandatangani dan mengisi beberapa formulir. Seperti formulir tentang kesehatan, hingga sistem pembayaran di atas kapal yang akan digunakan. Tak lama, kami sudah harus memasang tag pada barang bawaan, dan menyerahkan pada pos bagasi, di mana barang-barang bawaan penumpang dikumpulkan. Ketika itu pula, kami baru menemui dua anggota grup Indonesia yang lain, Mak Gondut dan Mbak Atid asal Bandung yang datang secara terpisah.

Meski terlihat riuh, sejak parkir mobil, bagasi, check-in, hingga imigrasi, para petugas tampak tangkas dan sigap melayani calon peserta cruise. Nyaris serupa dengan proses check-in dan boarding pesawat, kami juga harus melewati scan keamanan, karena kapal sudah menetapkan daftar barang apa saja yang tak boleh dibawa masuk ke dalam kapal. Kemudian kami mesti mengantre untuk check-in. Meski antrean panjang, namun petugas di balik meja check-in berjajar puluhan orang. Kami mengantre sepaket dengan teman sekamar. Dari balik meja, petugas memastikan nama, mengambil foto diri kami, dan memproses beberapa dokumen. Saat itu juga, dalam hitungan menit, kami sudah bisa mendapatkan sea pass card kami masing-masing. Sea pass card ini yang jadi "kartu serba bisa" kami di atas kapal. Kelar check-in, kami harus melewati counter imigrasi, karena begitu kapal berlayar, kami akan berlayar meninggalkan Singapura. Meski harus mengantre berkali-kali, namun ketertiban, sistem, dan pelayanan yang baik membuat antre tak terasa terlalu lama.

sea pass card


Akhirnya kami berada di sisi terdekat dengan kapal ketika melewati lorong menuju kapal. Dari samping, kapal ini terlihat semakin raksasa. Sebelum boarding, sea pass card kami di scan satu persatu. Petugas tampaknya benar-benar menjaga keamanan kapal. Bahkan sebelum kami melewati proses scan sea pass card pun, kami diminta menunjukkan beberapa kali di antrean proses. Begitu masuk ke dalam, interior mewah menyambut. Mengingatkan dengan satu-satunya referensi pesiar sepanjang masa : Titanic.

Royal Promenade, area "down town" kapal

lorong lift


Melihat sekilas penumpang, memang cukup jarang orang Indonesia terlihat. terhitung hanya beberapa kali saya mendengar percakapan dalam Bahasa Indonesia di dalam kapal. Sepertinya Singapura, Korea, dan wajah-wajah India banyak mendominasi. Bicara tentang keberagaman, saya punya pengalaman menarik. Karena sangat jarang perempuan berhijab di dalam kapal, jadi ketika bertemu dengan sesama pengguna hijab, kami beberapa kali berkontak mata, bahkan menyapa. Ketika di dalam lift, misalnya. Saya sudah di dalam lift yang penuh ketika ada serombongan keluarga muslim yang masuk ke dalam lift. Beberapa perempuan dan laki-laki paruh baya dengan seorang nenek berkursi roda. Begitu beranjak masuk, mereka mengucapkan good morning pada orang-orang di lift, dan menambahkan Assalamualaikum karena melihat saya terselip di antara mereka. Kami pun mengobrol singkat. Mereka bertanya asal saya, dan heran bagaimana setelah beberapa hari di atas kapal yang sama mereka jarang melihat saya. Lain lagi, ketika bertemu sebuah keluarga di lift dan saya mesti merangsek karena turun lebih dulu, seorang ibu berjilbab menepi memberi jalan dan memegang lengan saya hangat sambil memanggil "Adik". Namun justru keberagaman ras dalam satu kapal itu yang menarik. Saling menyapa tanpa mengenal sebelumnya, atau mengobrol ketika bertemu di shore excursion. Saya sempat mendengar curhatan seorang bapak asal Singapura yang berkisah tentang pengalaman dinner kemarin malam ketika kami mesti mengenakan pakaian formal, atau seorang ibu dengan dua anak yang baik hati berbagi meja breakfast-nya dengan kami, sekaligus menawarkan mengambilkan gambar kami dengan kamera. Meski berbagai macam latar belakang kultur, namun saya sangat jarang melihat ketidaktertiban maupun perilaku buruk. Semua orang tertib mengikuti aturan demi kenyamanan bersama.



Kami dipersilakan untuk makan siang terlebih dahulu begitu tiba menjejak kapal. Lokasinya di Windjammer deck 11. Resto dengan sistem buffet yang sifatnya casual. Di sinilah pada akhirnya tempat makan yang paling sering kami kunjungi, baik untuk sarapan maupun makan siang. Jenis makanannya bermacam-macam. Mulai salad hingga sea food, mulai buah-buahan hingga yogurt. Di Windjammer juga semua orang berdatangan. Sesekali kami berpapasan dengan kru kapal yang juga mengambil makanan. Jika kursi sudah penuh, biasanya akan diumumkan himbauan untuk bergantian meja dengan tamu yang lain. Pelayanan ruang makan ini juga memuaskan. Piring kotor cepat diambil, meja segera dibersihkan, waiter berkeliling membagikan minuman dan mengatur agar semua orang mendapat tempat, makanan cepat kembali terisi, lantai cepat dibersihkan, layanan hand sanitizer di pintu masuk, dan lain sebagainya.  Setelah beberapa kali ke mari, kami bisa membaca satu pola. Karena selalu ramai, dan akan cukup susah mencari kursi kosong, mesti datang di awal waktu makan. Jika beruntung, bisa dapat posisi dekat jendela yang bisa langsung dapat view laut luas. Di hari terakhir malah Mbak Dame, Mbak Atid, Mak Gondut, dan saya bisa menikmati sunrise dari meja makan kami. Siapa yang bisa menolak pemandangan laut, matahari terbit, makanan enak, dan obrolan hangat? :)

sebagian area Windjammer

Pak Andi mengajak kami berkeliling untuk mengenalkan fasilitas-fasilitas di dalam kapal. 14 deck (lantai) dengan begitu banyak tempat dan fasilitas awalnya membuat kami cukup bingung. Mulai berbagai macam restoran, pusat kebugaran, sports area, theatre, bioskop mini, area ice skating, area pertokoan dan cafe, bahkan kapel untuk kepentingan pernikahan, hingga helipad. Penumpang sangat dimanjakan fasilitas. Tapi benar kata Pak Andi, dalam beberapa hari kami sudah bisa cukup hapal lokasi-lokasi tersebut. Sarapan di deck 11, makan malam di deck 4, kolam renang di deck 11, cafe 24 jam di deck 5, perpustakaan di deck 7, dan lain sebagainya. Tapi sangat wajar lupa atau tersesat. Untuk mengatasinya, Mariner of The Seas menyediakan sebuah layar sentuh besar di hampir tiap deck di area lift. Di situ siapa pun bisa mengakses informasi event harian, jalan menuju kamar dan rest room, lokasi-lokasi fasilitas yang dituju, dan bermacam lainnya. Misalnya, dari stateroom deck 6, saya ingin menuju kolam renang. Tinggal sentuh beberapa tombol pilihan, di peta kapal, akan terlihat posisi kita dan garis titik-titik merah yang menunjukkan rute mana yang harus kita ambil untuk menuju lokasi tujuan. Sangat membantu. Untuk orang tua dan pengguna kursi roda pun kapal ini sangat ramah. Di sepanjang lorong kamar disediakan handle sepertinya halnya di rumah sakit, dan jalur-jalur khusus yang selalu ada untuk pengguna kursi roda.

Layar sentuh yang mudah ditemukan

Layar sentuh menunjukkan posisi dan rute menuju tujuan


perpustakaan



Masih ada waktu sebelum drill, kami dipersilakan untuk memasukkan barang ke dalam kamar terlebih dahulu. Begitu tiba di lorong panjang kamar, koper-koper bawaan kami sudah tersedia di depan setiap pintu kamar. Scan kartu, begitu masuk ke dalam kamar, kami langsung sibuk fokus dengan balkon. Begitu membuka pintu geser antara kamar dengan balkon, langsung terlihat view laut lepas! Tanpa kami sadari ternyata kapal sudah berjalan menuju Port Klang untuk shore excursion Kuala Lumpur keesokan hari. Guncangan nyaris tidak terasa, karena kapal tak melaju terburu. Sepertinya kapal memang disengaja melaju perlahan untuk menjaga kenyamanan penumpang menikmati fasilitas di dalam kapal. Membaca beberapa artikel, kebanyakan kapal pesiar memang sudah menggunakan stabilisizer dan badan kapal yang besar meminimalkan guncangan. Namun, tidak menutup kemungkinan memang kita mengalami motion sickness. Tapi apa yang perlu dikhawatirkan jika ada obat dan fasilitas kapal yang bisa dinikmati. Bahkan sebagian besar penumpang adalah lansia dan anak-anak yang bisa beraktifitas lancar tanpa gangguan.  

Di setiap kamar dibagikan setiap hari Cruise Compass (semacam buletin harian) yang menginfokan semua fasilitas kapal hari itu. Jam makan pagi-siang-malam untuk tiap restoran, event-event khusus yang diadakan hari itu, penawaran-penawaran tertentu, selipan agenda umum esok hari, bahkan hingga info waktu sunrise, sunset, hingga weather forecast. Cruise Compass jadi panduan untuk dibawa ke mana-mana. Biasanya sepulang dari makan malam, room attendant sudah merapikan kamar dan meletakkan cruise compass dan edaran lainnya di atas tempat tidur untuk memastikan penumpang melihatnya. Mariner of The Seas bersungguh-sungguh memfasilitasi segala usia penumpang. Beberapa layanan dikhususkan untuk anak-anak dan remaja. Cruise compass-nya pun berbeda.


cruise compass yang detail menjabarkan agenda per hari

cruise compass khusus untuk anak-anak


Baru rehat sejenak, pengeras suara yang dipasang di penjuru kapal mengumumkan bahwa sudah saatnya drill (simulasi evakuasi di saat darurat). Di proses ini, seluruh penumpang diwajibkan ikut serta tanpa kecuali. Bahkan awak kapal mengumumkan bahwa proses ini diatur secara hukum. Awak kapal bersungguh-sungguh dalam proses simulasi. Room attendant mengetuk dan mengecek satu per satu kamar penumpang untuk memastikan bahwa semua orang sudah berkumpul ke titik kumpul evakuasi. Kamar yang sudah kosong, diberikan tanda kartu merah dengan keterangan "evacuated" pada lubang kartu. Kami semua bergegas menuju titik evakuasi yang telah ditentukan. Di ujung tangga tiap deck ada beberapa petugas yang membantu memeriksa sea pass card kami, kemudian menunjukkan di deck mana kami mesti berkumpul. Kesungguhan awak kapal belum berakhir. Masih ada petugas yang melakukan scan kartu untuk mendata para penumpang yang telah mengikuti drill. Kami berbaris. Anak-anak berbaris di bagian depan dan diberikan gelang berwarna merah untuk usia-usia tertentu. Gelang plastik itu wajib dikenakan terus menerus hingga cruise usai. Titik evakuasi memang diatur pada deck di mana life jacket dan sekoci tersedia. Setelah semua berbaris, beberapa petugas memeragakan cara penggunaan life jacket. Setelah itu drill usai, penumpang bisa kembali beraktifitas di kapal.

Makan malam ternyata menjadi agenda paling menyenangkan untuk saya selama di kapal. Kenapa? karena semua orang berkumpul dan mengobrol hangat. Di tiap sea pass card, sudah tertulis di mana kami bisa makan malam. Grand dining room dibagi menjadi tiga deck untuk menampung seluruh penumpang. Grup indo kebagian di Top Hat and Tails deck 4. Kami terbagi menjadi dua meja. Saya semeja dengan Bu Ade, Big A, Little A, Mak Gondut dan Mbak Atid. Perempuan-perempuan dari berbagai rentang usia. Anak-anak hingga lansia. Apa saja obrolannya? Macam-macam. Mulai mengomentari makanan, atau sekadar candaan. Waiter meja kami, Xiaolong asal China dan asistennya, Pak Igede asal Bali. Di hari pertama, saya melewatkan parade karakter dreamworks dan terhalang banyak orang yang ingin menonton lebih dekat. Akhirnya saya putuskan untuk pergi ke ruang makan lebih dulu. Ternyata saya orang pertama yang hadir. Xiaolong dan Pak Gede menyambut saya. Menarikkan kursi dan melebarkan sapu tangan. Untuk dinner, memang semua bersistem ala carte. Karena yang lain belum datang, saya diajak mengobrol oleh Pak Gede disela dirinya yang menawarkan roti hangat. Pak Gede rupanya baru sebulan bekerja di Mariner of The Seas, sejak menurutnya sudah tak ada lapangan kerja yang cocok lagi di Bali. Sementara anak-anaknya membutuhkan biaya untuk sekolah. Sosok dan cerita Pak Gede menarik. Dan hingga hari terakhir, saya masih suka mengobrol dengan Pak Gede di sela dinner.

Setelah makan malam, kami menonton pertunjukkan ice skating Under The Big Top. Lokasinya di Studio B decks 3 dan 4. Saya cukup penasaran dengan pertunjukan di atas kapal. Apakah akan sebagus di darat? Ternyata Under The Big Top cukup menarik. Penampil prima dan terlihat pertunjukan terkonsep dengan baik. Dalam sekali pertunjukan, mereka memainkan beberapa tema cerita. Tujuannya, agar sebanyak mungkin audiens merasa terhubung dengan tema-tema tersebut. Mulai tema berbagai bangsa, badut untuk anak-anak, hingga romansa. Atraksi-atraksi yang disajikan pun tak melulu satu arah. Penonton diajak interaktif dengan bertepuk tangan, menjadi bagian pertunjukan, hingga penampil yang memercikkan air dan berinteraksi dengan audiens di tengah pertunjukan.



Hebatnya, saya rasa awak kapal, baik di ruang makan hingga penampil membawa spirit yang serupa. Semua berusaha "merangkul" dan membantu penumpang untuk menikmati waktu cruise mereka.


Bersambung ke Jurnal Pesiar Lembar Kedua.  dan Jurnal Pesiar Lembar Ketiga.